Minggu, 07 Desember 2008

Sepasang Sayap Mimpi - Bag. 01

Penulis : Afandi M.
Gendre : Misteri dan Kehidupan
Lain-lain : Berseri (4)

AWAN MENDUNG bertiup dan mulai bergemuruh di langit yang sebelumnya biru. Kilat dengan serta merta menyambar turun ke Bumi, dan baru beberapa detik kemudian suara guntur terdengar―menggelegar bagai dentuman meriam langit atau suara letusan gunung berapi yang memuntahkan magma serta debu vulkanik nun jauh ke angkasa. Tak sampai di situ saja pengaruhnya; awan itu juga menebar teror kegelapan dan seketika langsung merasuk, juga mencengkeram dengan membonceng ketakutan, hingga dapat melelehkan kebahagiaan yang tersimpan dalam frame-frame kenangan masa lalu.


Di padang rumput itu, seorang pria berdiri tegak bagai sebuah patung prajurit di tengah kota. Di atas sebuah bukit kecil, di mana sepasang kakinya sejak tadi menapak—mengakar dan berpijak. Ia menatap ke arah langit, ke sebuah gumpalan awan yang makin menghitam tiap detiknya. Fisiknya yang tinggi dan ramping terlihat samar saat sekelebat cahaya petir menyambar-nyambar dengan gila, merambat pada sela-sela udara yang berubah dingin. Rambutnya pendek dengan potongan rapi di tiap ujungnya dan bergerak lembut saat terbelai angin.

“Kau tidak adil padaku?” teriaknya entah kepada siapa. Mungkin ditujukan kepada salah satu gumpalan awan di atas sana atau petir, atau bahkan untuk Sang Khalik pemilik segalanya—di mana wujud-Nya tidak akan pernah nampak oleh sepasang indra yang dinamakan ‘mata’ itu. Tidak akan mungkin terlihat. Tak mungkin ada organ bahkan alat buatan makhluk manapun di alam semesta ini yang bisa melakukannya. Kecerdasan setiap makhluk itu terbatas. Semua telah diatur dalam sekat-sekat sel yang ada di otak.

“Mengapa Kau ciptakan takdirku seperti ini? Nasibku merana menjadi hamba-Mu yang terhina. Apakah Kau tidak mendengar sebutan mereka padaku? Mereka bilang kalau aku ini tidak berguna, lemah, bodoh, goblok, tolol, monyet atau apalah istilah mereka.”
Kedua kelopak matanya basah lalu mengeluarkan pilu yang menurut bangsa keturunan primata seperti manusia, dinamakan ‘air mata’.

“Di mata mereka, aku ini sangat rendah. Lebih rendah dari sampah. Cacat. Tak pantas berada di antara mereka,” jelasnya terisak. “Sesungguhnya, mereka itu salah. Kau bisa lihat sendiri. Tak ada kecacatan dari fisik yang Kau ciptakan secara sempurna ini. Semua organku lengkap, otakku juga masih betah bersemayam di kepala, dan hati serta jantungku juga tetap pada tempatnya. Sama seperti mereka. Lalu, mengapa mereka terus saja memanggilku seperti itu? Merendahkanku? Apa yang salah pada diriku? Apa Kau bisa menjelaskannya, Tuhan?”

Dengan punggung tangan, ia menyeka air matanya. “Mengapa Kau tetap diam? Apa Kau bisu? Tuli? Katanya, Kau selalu mendengarkan keluh-kesah semua hamba-Mu. Mana buktinya? Mana? Omong kosong! Semua itu ternyata bohong.”

Ia diam sesaat, mencoba mengatur tingkat emosi yang semakin meluap-luap dalam dirinya.
“Jika Kau memang adalah Sang Penguasa—raja di atas segala raja, buktikan padaku!” teriaknya makin kencang. “Tunjukkan kekuatan-Mu! Mana kekuasaan-Mu!”

Ia menghela napas sekali, seakan ingin menyampaikan sebuah ultimatum yang harus segera terlaksana. “Aku ingin punya sayap. Sayap indah yang bisa membuatku terbang dan tak lagi mendengarkan sebutan merendahkan mereka kepadaku. Aku ingin menjauh dari koloni mereka. Menjauh sejauh-jauhnya. Aku ingin terbang. Terbang seperti burung yang bebas di angkasa. Setinggi-tingginya hingga mencapai puncak awan.”


***


Pagi itu matahari belum menampakkan semburat sinarnya dari kejauhan ufuk timur. Tampaknya sang surya masih terlelap di peraduan angkasanya. Kabut semi transparan juga masih menguasai sebagian badan jalan di salah satu daerah paling padat penduduk di kota Jakarta. Tetes-tetes embun belum memuai menjadi uap air dan menyatu dengan udara sekitarnya, menyebabkan udara makin terasa lembab. Sayup angin seakan menguak sebab keheningan di beberapa lorong sempit pada perumahan tersebut. Makhluk-makhluk yang diberi jiwa belum menampakkan dirinya. Masih bersemayam di balik selimut kehangatan di tempat tidur.

Jam weker berbunyi nyaring—bergema di salah satu rumah bagai bunyi lonceng emas di puncak kuil Olympus, seakan meramalkan kejadian mengerikan yang nanti akan terjadi. Segera setelahnya.

Ketika selimut disibakkan, tubuh setengah telanjang tampil dari baliknya. Deretan tulang rusuk tercetak di sana, bagai urat yang menonjol dari balik kulit. Laki-laki itu membuka mata. Sedikit demi sedikit, suasana sekitar mulai tertangkap oleh indranya, menampilkan susunan langit-langit kamar berwarna putih dengan lampu bercahaya fluoresens yang masih menyala.

“Sudah pagi rupanya,” gumamnya sembari tersenyum saat kesadarannya tengah memulihkan diri. Kantuk yang masih terasa, ia paksa pergi dan menghilang. Sekarang waktunya melanjutkan hidup.

Sebelah tangannya mengambil weker yang ada di meja. Tombol weker yang ada pada bagian atas ia tekan, menyebabkan suara deringan benda itu berhenti seketika. Ia melihat jarum jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Weker diletakkan lagi ke tempatnya semula, sembari ia mencoba membangunkan tubuhnya yang masih malas bergerak. Digaruknya beberapa bagian tubuh hingga puas lalu dengan jari-jari tangan, rambutnya yang berantakan disisir seadanya. Sebagian ke samping kiri dan sebagian lagi ke samping kanan.

Sejenak, laki-laki itu menggeliat keenakan lalu menguap bagai sang penguasa rimba telah bangkit kembali. Setiap bukaan mulutnya bagai menghisap ion-ion kehidupan yang ada di tempat itu hingga tak bersisa. Rakus sekali. Biasalah, manusia memang cenderung seperti itu. Tak puas atas apa yang telah dimilikinya. Ingin terus menambah, menambah, dan terus menambah tak mau berhenti hingga mati.

Sinar matahari menerobos masuk melalui sela-sela tirai penutup jendela. Cahayanya menghangatkan kulit dan mencairkan keheningan. Seolah-olah kehidupan mulai tersusun kembali setelah tidur sekian lama, setelah berhibernasi dalam kegelapan. Menciptakan peradaban baru ke arah yang lebih baik. Semoga saja...

“Mimpi tadi benar-benar aneh. Aku seolah-olah berbicara kepada Tuhan. Bagaimana mungkin?” Lelaki itu nyengir sendiri. “Tidak masuk akal.”

Namun jauh di lubuk hatinya, ia bener-benar menginginkan hal itu terjadi. Mimpi tadi seolah-olah mencerminkan isi hatinya. Menggambarkan kalut yang selama ini menyiksa batin dan jiwanya. Ia tak bisa berbohong lagi. Walau hanya di dalam mimpi, ia telah puas. Yang jelas, ia telah menumpahkan suara hatinya. Lainnya, tak penting. Hari ini harus dijalani dengan perasaan bahagia. Hidup harus terus berlanjut. Tak ada beban sedikit pun yang lagi menghinggap. Telah hilang dan menguap bersama embun-embun pagi.
Ketika ia berdiri, sesuatu seperti begoyang dari punggungnya—bergerak-gerak. Ia merasakan keanehan pada daerah itu. Kepalanya coba ditengokkan ke belakang. Secara reflek tangannya ikut membantu.

“A—apa ini?” teriaknya kaget. “Mengapa benda seperti ini bisa melekat di tubuhku?”
Sepasang sayap kecil bergerak-gerak mengikuti gerakan punggungnya. Mengibas-ngibas bagai sayap burung yang terbang bebas di angkasa. Sepasang sayap itu berwarna hitam namun tak berbulu. Lembut dan menyerupai daging yang terbalut kulit dengan beberapa tonjolan tulang.

“I—ini sayap kelelawar,” gumamnya ketakutan. “A—apa yang terjadi? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Mengapa―mengapa sepasang sayap menakutkan ini tumbuh di punggungku?”
Ia panik. Berjalan ke sana kemari layaknya orang yang sedang kebingungan. Seperti seorang calon ayah yang cemas menunggu kelahiran buah hatinya. Cemas akan kesehatan istri dan anaknya. Apakah istri dan bayinya bisa selamat? Ataukah, ada salah satu di antara mereka berdua yang harus mengakhiri hidupnya saat itu juga? Atau bahkan, kedua-duanya tak ada yang selamat? Kepanikan seperti itulah yang sekarang sedang melanda baik jiwa maupun raganya. Bagai seribu jenis ketakutan yang berbeda, tiba-tiba merangsek masuk ke tubuhnya. Menyebar seperti bisa yang menggerogoti tiap-tiap sel sarafnya. Menciptakan kengerian dalam frame imajinasinya, dalam tiap lembar pikirannya.

Dengan paksa, ia mencoba melepaskan sayap itu. Sekuat tenaga. Namun setiap upaya untuk menarik sayap itu agar terlepas dari tubuhnya, membuat kulit dan tubuhnya sakit. Seperti terkoyak oleh ratusan bahkan ribuan senjata tajam. Sepasang sayap itu bagai tumor yang harus dibuang jauh-jauh, bagai borok. Kalau perlu dikubur saja dalam-dalam agar tak tertular kembali. Kulit punggungnya seperti tertarik, hampir sobek. Namun karena menyatu dengan otot, usahanya melepaskan sayap itu sia-sia saja. Ia sadar bahwa jika dirinya terus memaksa, itu sama saja menyiksa dirinya sendiri. Ia tak mau lagi tersiksa. Pun jika siksaan itu bisa melepaskan dirinya dari predikat 'aneh'. Sayap itu telah bersatu dengan tubuhnya dan menjadi bagian atas dirinya, seperti tangan dan kaki, kepala, telinga, hidung, mulut, dan kelamin.

Ia tak terima. Tangis dan teriakan seolah-olah tak ada gunanya. Semua itu tak bisa mengembalikan tubuhnya ke kondisi semula—kondisi normal kembali. Ia merenung beberapa menit ke depan ketika matahari kian meninggi. Sedikit demi sedikit ia bisa menerimanya walau tak sepenuhnya, sebagian kecil dirinya. Ia masih tak tahu harus berbuat apa. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Masa ia harus berjalan keluar sembari memamerkan sepasang sayap mirip kelelawar di punggungnya? Alih-alih, orang-orang malah lari ketakutan dan menganggapnya sebagai hantu, monster, setan bahkan alien. Bentuk fisiknya kini berbeda. Bagaimana kalau ia berakhir di laboratorium penelitian karena dianggap mahkluk luar angkasa atau mutan? Dijadikan kelinci percobaan atas serangkaian tes yang menyakitkan. Mungkin ini pengaruh dari mimpi itu. Aku benar-benar berbicara kepada Tuhan. Aku meminta sayap dan inilah hasilnya, gumamnya dalam hati antara percaya atau tidak. Dengan kesadaran yang telah kembali, ia berkata setengah berbisik. “Hidup harus dilanjutkan. Tak ada gunanya penyesalan. Tapi...”

Dua puluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi. Mencari alat untuk menutupi sepasang sayap itu agar tidak kelihatan. Diambilnya gulungan perban kemudian dililitkannya benda itu ke punggungnya. Terus, terus, dan terus, hingga tonjolan sayap itu tak tampak. Setelah selesai, lanjut ia mengenakan baju dalam lalu kemeja yang dikombinasikan dengan dasi berwarna hitam bergaris. Semua kostum formal itu diberi sentuhan terakhir dengan balutan jas. Ia berdiri di depan cermin, memperhatikan sejenak penampilannya lalu berputar beberapa kali. Walau tubuhnya terlihat sedikit bungkuk karena tulang punggungnya menonjol keluar bagai pasak, tapi tanda bahwa itu adalah sayap tak lagi terlihat.

Aku terlihat seperti manusia normal kembali dan topeng ini akan membuatku menyerupai mereka. Bibirnya dipaksa mengurai senyuman. Ditepuknya bagian jas yang terlihat berdebu, simpul dasi dirapikan dan disembunyikan di bawah kerah kemeja lalu setelah semua sesuai dengan keinginannya beberapa menit kemudian, pria itu mengambil tas kerja lalu keluar dengan langkah terburu-buru.

~Bersambung~

Albert Armstrong (Albert Einstein dan Neil Armstrong)

Penulis : Afandi M.
Gendre : Sains (Perbintangan/Astronomi)

“Bulan adalah rahasia malam pembentuk cahaya setara aurora.”

LANGIT malam itu cerah sekali. Sinar rembulan yang berpadu dengan kerlap-kerlip bintang membentuk sebuah kombinasi manik-manik alami di angkasa. Bagai lampu-lampu berbahan gas neon yang memancarkan cahayanya sendiri—bintang nyata. Menggelantung-gelantungkan diri dengan benang transparan yang tak membiaskan cahaya. Wujudnya yang menawan untung saja tidak terjangkau dan tak tersentuh oleh tangan-tangan manusia yang kotor dan serakah, yang karenanya sesuatu yang suci akan ternoda. Tangan-tangan itu seolah-olah invasi yang ingin memonopoli seluruh wilayah alam semesta beserta isinya. Menjadikan penghuninya sebagai budak kerja rodi untuk membangun tempat-tempat penghasil polusi dan penderitaan. Menjadikan setiap tempat invasinya sebagai kubu angker dengan banyak isakan tangis dan jeritan-jeritan akan kekejaman dan perjalanan ke kematian.


Indahnya sinaran bintang, tak ayal menjadi bagian dari setiap sulur-sulur kebudayaan: digunakan dalam praktek-praktek keagamaan, navigasi, atau sebagai pertanda untuk bercocok tanam. Bahkan Kalender Gregorian yang sudah digunakan hampir di semua belahan dunia, mendasarkan diri pada posisi Bumi terhadap bintang terdekat, yaitu Matahari. Jumlahnya yang beratus, berjuta hingga bertrilliun itu membuat astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali bintang-bintang baru yang kemudian diberi nama novae. Penemuan itu dengan sangat jelas menunjukkan bahwa langit tidaklah kekal dan tidak berbatas. Alam semesta itu luas, tak mempunyai ujung. Murni, masih perawan, dan rahasia.

Ada dua orang pria yang sedang menikmati suasana tenang pada malam itu. Mereka sedang bersantai sembari duduk-duduk di beranda tanpa halangan atap untuk melihat keindahan langit malam di atas sana. Hembusan angin musim dingin terkadang menegakkan bulu-bulu di sekujur tubuh mereka. Bunyi binatang-binatang malam dan tiap gesekan ranting pepohonan seakan-akan dijadikan sebagai musik instrumental yang tak kalah bagusnya dengan irama indah musik-musik klasik.

Untuk sedikit mengusir udara dingin yang terus menggigit, dua gelas red wine sudah tersedia di atas meja di tengah-tengah mereka. Cairan anggur merah itu tenang seakan-akan ikut menikmati suasana. Bagai ombak yang tak terpengaruh oleh arus angin yang menerjang di atasnya. Sinar lampu neon berwarna kekuningan di langit-langit, membuat anggur merah itu seumpama bercahaya. Seolah-olah cairan ajaib yang diramu oleh para penyihir zaman dulu untuk kekekalan.

Pria yang mengenakan kemeja bergaris mendenguskan napas panjang, seolah ingin melapangkan paru-parunya dari beban udara dan pengaruh cuaca. Umurnya kira-kira 45 tahun. Tak tampak ada uban di rambutnya yang lebat dan keriting. Hanya pada janggutnya yang hitam dan dekat tulang pipinya tumbuh sedikit rambut putih. Wajahnya halus dan kemerah-merahan, lehernya lebar dan kuat, tapi seluruh tubuhnya diliputi lemak—kenyang oleh kesenangan.

“Lihatlah itu,” kata pria itu pelan, seraya menunjuk sebuah gugusan bintang di langit. “Jika indra penglihatanmu itu masih berfungsi baik seperti punyaku, kau pasti bisa melihat rasi bintang Andromeda di sana.”

Pemuda bernama Albert mengalihkan pandangannya dari hamparan bisu pepohonan di depan sana menuju ke tempat yang dimaksud. Ia memperhatikan rasi yang membentuk huruf ‘A’ itu dengan teliti seolah-olah sedang memandangi pesawat luar angkasa yang tak sengaja melintas. “Oh, itu!” serunya, “Ya, aku melihatnya, Profesor.”

Dari suaranya saja yang sedikit kekanak-kanakan, pasti saja pemuda itu berusia jauh di bawah Profesor tadi. Tampangnya menunjukkan usianya kira-kira 26 tahun lebih muda. Wajahnya yang berbentuk oval kelihatan teduh. Sepasang matanya sayu telah diberikan Tuhan kepadanya, seakan-akan memancarkan ketenangan dan kebahagiaan. Jika diperhatikan lebih teliti, ada sesuatu yang aneh pada hidungnya. Di tengah-tengah tulang yang menopang organ tersebut, seperti ada sedikit kesalahan pada saat pembentukannya. Hidungnya bengkok mirip paruh burung kakak tua. Melengkung seperti mau jatuh. Mungkin sewaktu kecil ia pernah mengalami cidera pada bagian itu dan dibiarkan begitu saja hingga ia beranjak dewasa. Namun kesalahan kecil itu tak mengurangi ketampanan parasnya.

“Memangnya kenapa, Profesor Rushell? Apakah ada yang aneh dari rasi bintang tersebut?” tanyanya sembari masih memperhatikan gugusan itu.

Profesor itu menyunggingkan senyuman tipis. “Indah sekali bukan. Benar-benar sebuah karya dari Mahaagung. Tuhan ternyata mengerti seni.”

Albert mengangguk menyetujui, “Ya, memang indah.”

Diam beberapa detik. Mereka sepenuhnya telah terhanyut oleh pesona rasi bintang Andromeda itu dan berandai-andai seakan-akan mereka bisa melihat gugusan bintang itu dari dekat dan menyentuhnya dengan nyata. Keinginan itu seperti mengalir di tiap-tiap aliran darah menuju ke otak, membuatnya tak jua mau pergi.

Profesor Rushell melanjutkan percakapan, “Tepatnya, cantik dan menawan seperti melambangkan putri Andromeda di langit utara dekat Pegasus. Dan kau lihat di sebelah sana lagi, Albert, itu adalah rasi bintang Orion...”

“Disebut-sebut sebagai sang pemburu,” Albert memperjelas. “Terletak pada ekuator langit dan dapat terlihat dari seluruh penjuru dunia, sehingga membuat rasi Orion dikenal secara luas.”

Profesor Rushell tersenyum. “Lanjutkan,” suruhnya.

“Orion yang merupakan sang pemburu berdiri di sebelah sungai Eridanus dengan dua anjing pemburunya—Canis Major dan Canis Minor. Mereka melawan sang kerbau bernama Taurus sebagai hewan buruan. Tak jauh dari kerbau itu, ada sosok lepus dan kelinci.”

“Bagaimana kalau yang itu?” Profesor Rushell kini menunjuk ke sebelah kanan. Tampaknya setiap rasi bintang mulai menampakkan dirinya satu-persatu.

“Itu Scorpius. Merupakan salah satu dari rasi bintang zodiak. Dalam astrologi barat, rasi Scorpius dikenal sebagai Scorpio yang berada di antara Libra di sebelah barat dan Sagittarius di sebelah timur. Rasi itu adalah suatu rasi besar yang terletak di belahan selatan dekat pusat Bima Sakti,” jelas Albert.

Sang Profesor tertawa kecil sambil menggeleng-geleng tidak percaya atas apa yang didengarnya. “Kau akan menambah jumlah astronom jenius di negara ini, bahkan di dunia sekalipun.”

Pujian itu membuat Albert tak serta merta membuatnya bahagia dan besar kepala. Ia merasa biasa-biasa saja. Tidak terlihat bentuk kepuasan berupa wajah yang merona maupun tingkah kikuk saat mendapatkan sebuah pujian dari seseorang. Di benaknya selalu tertanam bahwa sebuah pujian yang dilontarkan seseorang bisa saja berupa racun yang mematikan sekaligus memabukkan. Membuat orang-orang yang menerimanya terkadang terlalu terlena dan tak menyadari maksud yang tersembunyi di balik pujian itu.

“Apa kau tertarik mempelajari Astronomi dan berfikir menjadi Astronom nantinya, Albert?” tanya Profesor Rushell serius. Saking seriusnya, pria itu mendekatkan mukanya ke arah Albert. Ia menunggu jawaban pasti yang akan keluar dari mulut pemuda itu.
Albert memilih diam menyebabkan suara angin berdengung di telinganya. Beberapa helai rambutnya bergoyang-goyang saat dibelai angin malam yang membawa kelembaban.

“Bagaimana?” Sang Profesor mengulangi pertanyaannya kembali namun kali ini dengan sangat singkat.

“Aku tak bisa berjanji apakah aku akan tertarik mempelajari Astronomi atau menjadi seorang Astronom nantinya. Aku belum memikirkan sejauh itu dan belum menyusun konsep untuk kehidupanku sendiri. Aku hanya tertarik pada ilmu pengetahuan yang sangat luas dan tak belum terjelajahi sepenuhnya. Ilmu adalah makanan wajibku setiap hari dan tanpanya aku bisa mati kelaparan,” ujarnya. “Ia bisa membuatku merasa lebih berguna untuk hidup di dunia ini, sebab ilmulah yang nyatanya membuat kita mengetahui jawaban atas beberapa pertanyaan yang dahulu belum bisa terjawab. Ilmu pulalah yang mengajarkan kita tentang kehidupan, sebab ilmu merupakan sebuah pengalaman.”

Sang Profesor kembali menatap langit yang menyembunyikan berjuta keajaiban. “Ya, semua itu terserah padamu. Kaulah yang menentukan hidupmu sendiri.” Pandangan Profesor Rushell lebih memilih bentuk bulat bulan yang memancarkan cahaya sebagai tumpuan penglihatannya. “Ngomong-ngomong, apakah kau percaya bahwa Apollo 11 pernah mendarat di bulan?” tanyanya.

Albert tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ada jeda singkat saat ia mulai mengeluarkan kata-kata, seperti sedang berfikir. “Ada beberapa alasan yang membuatku percaya akan kontra itu.” jawabnya. “Alasan-alasan yang menurutku cukup kuat, baik secara teoritis maupun secara ilmiah.”

“Maksudmu?”

Albert mengerutkan keningnya sambil memperagakan dengan sebelah tangan penjelasannya. “Ya. Aku percaya bahwa manusia pernah mendarat di bulan.”

Profesor Rushell tertawa seperti melecehkan. “Kau terlalu lugu. Lugu sekali,” katanya. “Menurutku, semua itu hanyalah sekenario NASA. Pada era itu, sekitar tahun 1969 merupakan masa di mana perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat belum berakhir. Tekanan Perang Dingin dengan Uni Soviet membuat Amerika harus melakukan suatu siasat untuk memenangkan peperang tersebut. Terlebih lagi setelah Uni Soviet berhasil mengorbitkan Yuri Gagarin. Oleh karena itu, bisa saja pendaratan Apolo 11 di bulan hanya sebuah rekayasa dan merupakan sebuah skenario politik untuk memenangkan perang dingin tersebut.”

“Tidak―tidak sepenuhnya begitu, Profesor,” Albert menimpali. “Bagaimana kalau begini. Anggap saja apa yang Anda katakan tadi itu benar adanya bahwa pendaratan di bulan itu hanya sebuah skenario dan omong kosong. Berguna untuk menaikkan gengsi Amerika saja. Tapi, harusnya Uni Soviet sudah menjadikan hal tersebut sebagai sebuah serangan balik yang telak bagi Amerika Serikat. Namun sampai saat ini, bahkan saat histeria pendaratan itu terjadi, pihak Uni Soviet tidak memberikan reaksi penyerangan apa-apa.”
Profesor Rushell diam tak membalas. Ia malah lebih memilih mencicipi segelas wine yang menggoda tenggorokannya, tapi setelah beberapa saat kemudian ia baru mengeluarkan pembelaan.

“Bagaimana dengan foto-foto yang dipublikasikan itu,” katanya. “Kau tahu kan, ada beberapa hal aneh terdapat di sana. Diantaranya, foto yang memperlihatkan bendera berkibar padahal di bulan tidak ada atmosfer dan angin. Selain itu, ada juga foto yang tidak memperlihatkan adanya satu bintang pun pada langit latar belakang bulan yang gelap, lalu foto mengenai jejak kaki yang membandel, dan sebuah foto yang menurut para ilmuan sangat sempurna sekali.”

Albert mendengarkan dengan tenang semua kontra itu sambil menatap ke depan, ke arah hutan homogen pepohonan pinus yang tumbuh teratur berderet bak manusia mengantri untuk membeli karcis bioskop. Namun ketika semua pernyataan Profesor Rushell telah selesai dipaparkan, Albert membeberkan bukti-bukti nyata, ilmiah, dan teoritis yang masuk di akal. “Semua itu ada penjelasannya, Profesor,” tukasnya ketika ia telah mempersiapkan penjelasannya dengan sangat matang. “Mengenai bendera itu, memang benar bahwa di bulan tidak ada atmosfer dan angin. Tapi untuk bisa berkibar, bendera tidak selalu membutuhkan angin bukan. Setidaknya di ruang angkasa hal itulah yang terjadi.”

Albert Armstrong masih memberikan penjelasan.

“Pada kondisi di bulan, bendera dipancangkan bukan hanya pada tiang vertikal, tapi terdapat juga tiang horizontal yang ditambahkan di bagian atas bendera, sehingga bendera tersebut tampak tergantung dan merentang. Selain itu permukaan bulan yang keras mempersulit pemancangan tiang bendera itu, sehingga para astronot harus memutar tiang tersebut maju mundur agar bisa ditanamkan pada tanah bulan. Akibat gerakan ini, bendera tersebut tidak sengaja berkibar. Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa bendera itu bergetar.” Dan Albert masih fokus pada analisis ilmiahnya. “Di Bumi kibaran bendera terjadi beberapa detik dan diperlambat oleh udara, tapi kondisi vakum di bulan menyebabkan gerakan bendera tersebut tidak akan berhenti karena tidak ada gaya dari luar yang menghentikannya.” Satu alasan pendukung dijelaskan dengan sempurna dan tak terkira. Pertanyaan yang tak terjawabkan puluhan tahun yang lalu terucap begitu saja dari pemuda bernama Albert Armstrong, sang jenius alami.

Sifat keegoisan Profesor Rushell muncul. Pernyataan Albert tadi terdengar bagai menggelitik dan melecehkan tingkat pengetahuannya walau sebenarnya tidak seperti itu. Ia tak ingin dipermalukan anak kecil seperti Albert yang tentu saja belum bergelar akademis apa-apa. Gelarnya sebagai seorang Profesor juga menaikkan tingkat kegengsinya. Ia tidak mau mengalah begitu saja dan ia harus keluar sebagai pemenang, sebab memang begitulah seharusnya.

“Memang itu bisa diterima, tapi bagaimana dengan kontra yang kedua. Mengapa tidak ada bintang pada gambar yang diambil oleh para astronot dari permukaan bulan? Padahal bulan tidak memiliki atmosfer sehingga menyebabkan langit bulan menjadi gelap. Bukankah jika demikian, tentunya pengamat bisa melihat objek-objek terang seperti bintang pada foto yang diambil?” tanyanya. “Kondisi di bulan berbeda dengan Bumi. Pada langit Bumi, partikel-partikel atmosfer Bumi akan menghamburkan cahaya matahari pada panjang gelombang biru, sehingga langit siang hari akan tampak biru. Berbeda dengan bulan yang hampir dapat dikatakan tidak memiliki atmosfer sehingga langit senantiasa gelap, baik siang maupun malam. Jadi jika kita berada di bulan, tentunya bintang akan selalu terlihat jelas. Tetapi kenapa tidak terekam dalam gambar yang diambil oleh awak-awak Apollo 11 itu?”

Albert terdiam, berusaha mengatur tingkat emosinya agar tidak terbawa dan meluap-luap. Ia sedang menyusun kalimat-kalimat fantastis untuk dijadikan jawaban atas pertanyaan Profesor Rushell yang diucapkan dengan begitu menggebu-gebu.

“Dalam foto itu, sebenarnya bintang tersebut ada, namun terlalu redup untuk ditangkap oleh sebuah kamera. Kamera dan film yang digunakan oleh para astronot disetel untuk mengambil gambar-gambar kegiatan di bulan saja. Exposure timenya diatur sedemikian rupa agar dapat merekam kondisi permukaan bulan yang terang dan bukan untuk mengambil gambar objek-objek lemah pada langit sebagai latar belakang.”

“Ck ck ck... alasanmu itu sangat lemah,” kata Profesor Rushell ketus. “Terlalu lemah.”

“Ya, memang,” Albert Armstrong juga menyadarinya. “Tapi begitulah adanya. Menurutku, begitulah yang sebenarnya terjadi. Lalu tentang jejak kaki yang membandel...”

“Ya, bagaimana mengenai jejak itu,” kata-kata Profesor Rushell menyambar begitu saja. “Pada foto-foto yang diambil oleh awak Apollo 11 tersebut tidak tampak adanya lubang bekas semburan roket pada lokasi pendaratan. Untuk roket seukuran Apollo seharusnya semburannya dapat menimbulkan lubang yang cukup besar pada permukaan bulan. Jadi, bagaimana bisa roket mendarat mulus tanpa membekaskan jejak besar tersebut?”

“Mengenai penjelasan itu, begini menurutku.” Albert Armstrong mengatur posisi duduknya sambil bersandar tenang di sandaran kursi. “Untuk melakukan sebuah pendaratan tentu tidak dilakukan dengan kecepatan tinggi tapi dengan kecepatan yang diperlambat. Sebagai contohnya, tidak ada satu orang pun yang memarkirkan mobilnya dengan kecepatan 100 km perjam. Hal yang sama juga berlaku pada pesawat antariksa Apollo 11. Semburan roket yang memiliki dorongan 5000 kg, diperlambat sampai sekitar 1500 kg pada saat mendekati permukaan bulan. Dengan diameter pipa pengeluaran roket yang besarnya sekitar 54 inci, dan dengan ukuran roket sekitar 2300 inci persegi, semburan roket hanya menimbulkan tekanan sekitar 0.75 kg perinci persegi. Tekanan sebesar ini tidak akan sampai menimbulkan jejak lubang yang cukup besar pada permukaan bulan.”

“Tapi hasil foto-foto yang diambil di bulan memperlihatkan adanya bayangan yang kurang gelap―obyek yang seharusnya gelap karena berada dalam daerah bayangan. Tetapi dalam foto yang diambil dapat jelas terlihat, termasuk tulisan di sisi pesawat tersebut,” Profesor Rushell membela pernyataannya tadi. Ia tak mau kalah. “Jika matahari merupakan satu-satunya sumber cahaya, dan tidak ada udara yang dapat menghamburkan cahaya, seharusnya bayangan yang terjadi sangat gelap. Bukankah begitu?”

“Betul-betul sebuah persepsi yang salah menurutku, Profesor,” jelas Albert. “Memang di bulan bukan di atas Bumi dan cahaya matahari tidak dapat dihamburkan dalam kondisi yang hampa udara. Tapi di bulan masih ada sumber cahaya lain yang berasal dari bulan itu sendiri. Debu di bulan memiliki sifat yang khas yang dapat memantulkan kembali cahaya ke arah datangnya sumber cahaya tersebut.”

Profesor Rushell mengusap-usap dagunya seolah-olah sedang membayangkan kata-kata Albert dalam keping-keping imajinasinya.

“Lalu tentang foto-foto yang diambil secara sempurna,” Albert menjelaskan seakan-akan mulutnya tak mau berhenti. “Bagaimana para astronom yang amatir dalam hal fotografi memiliki hasil foto yang begitu bagus. Apalagi kondisi di bulan begitu berbeda dengan di Bumi. Seorang fotografer profesional saja belum tentu semua foto yang mereka ambil memiliki hasil yang sempurna.”

Albert mengawali kembali penjelasannya dengan sebuah senyuman menghiasi bibirnya. Sementara di samping kanan, Profesor Rushell masih tampak diam.

“Pernyataan seperti itu hanyalah merupakan sugesti bagi orang-orang awam yang pertama kali melihat foto-foto tersebut. Tidak menutup kemungkinan bahwa sebelum diberangkatkan ke bulan, para astronot ini selain menerima pelatihan untuk beradaptasi dengan kondisi bulan, mereka juga dilatih bagaimana cara mengambil foto di bulan. Awak Apollo 11 dalam penjelajahannya pada dasarnya mengambil begitu banyak foto di permukaan bulan. Ada banyak foto yang gagal. Dan tentu saja yang dipublikasikan ke media-media adalah foto-foto yang dianggap bagus dan berhasil. Sama seperti seorang fotografer. Foto yang dipublikasikan tentunya foto-foto yang bagus dan bukan merupakan foto gagal,” jelasnya panjang lebar. “Salah satu bukti yang tidak bisa disangkal adalah keberadaan batuan dari bulan. Jenis batuan itu tidak mungkin berasal dari asteroid ataupun meteorit karena batu yang jatuh sebagai meteorit akan dioksidasi saat melewati atmosfer walaupun ada saja batuan tersebut yang dapat sampai ke Bumi. Lagi pula tidak ada manusia yang bisa membuat replika batu tersebut. Para ahli geologi dari seluruh dunia telah meneliti batuan tersebut, dan merupakan hal yang bodoh jika membuat batuan palsu untuk menipu semua peneliti di dunia. Para ahli tersebut bukan orang bodoh yang bisa ditipu begitu saja.”

“Oh mengenai hal itu, aku punya pendapat yang berbeda,” ucap Profesor Rushell yang baru saja selesai mencicipi winenya kembali. “Bagaimana jika batuan bulan itu dibawa ke Bumi dengan menggunakan robot? Walaupun sistem komputer baru berkembang sangat awal di era akhir 60-an dan digunakan untuk robot, tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi karena teknologi robot juga sangat memungkinkan pada saat itu. Sebagaimana pengiriman wahana tak berawak ke planet lain dengan menggunakan robot seperti Mars atau Titan di Saturnus. Pengiriman robot ke bulan jauh lebih murah dan lebih mudah secara teknis dibandingkan dengan pengiriman manusia.”

“Ya, semua itu memang mungkin saja terjadi. Tak ada yang tahu,” kembali Albert Armstrong menyamakan pendapat. “Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah seandainya pendaratan di bulan tersebut memang benar palsu, apakah NASA begitu cerobohnya sehingga meninggalkan banyak bukti untuk diungkapkan? Jika bayangan yang muncul di foto memang salah, mengapa tidak satupun personel NASA yang pertama kali menyadarinya?”

Albert mengambil gelas winenya, menggoyang-goyangkan gelas tersebut membuat wine yang ada di dalamnya membentuk sebuah pusaran sebelum akhirnya diminum dengan perlahan-lahan. Tegukannya itu seperti menikmati sari anggur terbaik yang pernah ada. Ketika gelas itu diletakkan kembali ke meja, ia berkata, “Memang benar Amerika Serikat sebagai negara adikuasa bisa melakukan apapun untuk menjadi yang terdepan, namun bukan berarti persepsi seperti ini membuat kita menutup mata terhadap keberhasilan yang telah diraih oleh dunia sains dan teknologi.”

Profesor Rushell terdiam lalu tersenyum. Di kepalanya penjelasan Albert bersinar layaknya bintang gemintang. Hebat... hebat sekali, ujarnya dalam hati. Dia bisa menjelaskan semua kontra itu dengan sangat masuk akal. Sayang sekali jika anak ini tidak memperdalam ilmu astronomi. Dia sangat berbakat sekali. Bakatnya alami. Nantinya, dia akan menjadi salah satu jenius dalam bidang tersebut. Itu pasti!
Kini bulan sudah semakin meninggi dan suara penghuni hutan tak lagi banyak terdengar. Hanya suara jangkrik dan suara hembusan angin yang menerpa ranting-ranting pohon yang masih setia menjadi bagian dari pertunjukan opera pada malam itu. Di langit, cahaya bulan yang tinggal separuh seolah-olah mengucapkan selamat malam kepada semua penghuni Bumi—kepada seluruh manusia.

Minggu, 30 November 2008

Quote Vol. 2

"Ketakutan manusia selama ini merupakan perlawanan hidup manusia yang realistis menuju ke sebuah dunia teror yang dengan sengaja mereka ciptakan sendiri, dan biasanya digunakan untuk menutupi kekurangan yang ada pada diri mereka--inti dari permasalahan yang tak dapat diselesaikan."


Note:
~Kutulis saat ketakutan kembali menyambangiku di malam itu~
- Bandung/30 November 2008 -

Kenangan Sam. (Sejarah Angin) - Finish

Penulis : Afandi M.
Gendre : Roman dan Kehidupan
Lain-lain : Berseri (3)

KULIHAT tubuhnya yang lemah tak bergerak. Aku berlutut dan meraih kepalanya yang bersimbah darah dan kudekatkan ke dadaku. Walaupun begitu, ia masih terlihat cantik. Manis itu tak akan semudah itu luntur dari wajahnya. Secantik dewi khayangan. Tak ada yang bisa mengambil kecantikan itu darinya. Kupegang tangannya lalu kugoyangkan sedikit tubuhnya, seperti perahu yang terombang-ambing di lautan bergetar ke sana kemari.

“Kai!” panggilku penuh harapan.

Aku semakin panik saat menangkap detak jantungnya kian melemah.

“Kai, jangan pergi dulu,” kataku sambil terisak. “Masih banyak yang akan kita lakukan bersama-sama. Apakah kau masih ingat janjimu dulu? Katamu, kau ingin terus ada bersamaku dan tak mau terpisahkan. Kai, jangan pergi dulu... aku mohon... Kai... Kai... Kai...”

Tiba-tiba wanita itu membuka matanya sembari menyunggingkan senyuman. Mulutnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu. Kudekatkan telingaku ke bibirnya.


“Aku mencintaimu dan akan terus ada bersamamu, akan terus berada di dalam hatimu. Aku akan menjadi angin yang berhembus sebagai penunjang hidupmu. Kita akan tetap bersama, selamanya...” katanya dengan suara antara hidup dan mati. Seakan itu adalah sebuah salam perpisahan untukku. Air mata berjatuhan dan tak bisa terbendung lagi. Penglihatanku langsung kabur karenanya. Kugelengkan kepalaku berkali-kali seolah-olah aku tak mau pikiran itu terjadi. Dan memang aku tak mau begitu. Apa pun akan kulakukan demi dirinya. Apa pun itu.

“Tidak... itu tidak akan terjadi. Kau jangan berbicara seperti itu. Kau akan terus bersamaku, melewati hari-hari ini, lalu kau akan menjadi pendampingku untuk selamanya, sampai akhir hidupku. Kita tak akan terpisahkan. Tak akan... Kai!!!”

Di belakang, orang-orang bermunculan secara ajaib. Berbisik-bisik seolah-olah aku tak bisa mendengarkan ucapan mereka. “Kasihan sekali wanita itu,” ujar seseorang tepat di belakangku. “Apakah ia sudah mati?” kata yang lainnya.

Dasar manekin-manekin tak berguna, semprot hatiku. Mereka seakan tak peduli atas apa yang terjadi padaku. Enyahlah kalian semua. Biar aku yang menemaninya sendiri di sini. Pergi sana.

Detakan jantung Kai makin melemah dan hal itu yang membuatku berdoa kepada Tuhan. Kini dengan penuh ketulusan yang mendalam, dengan seluruh kekuatan jiwa dan raga.

“Tuhan Maha Pengasih, Penyayang, dan Pemberi nikmat. Tuhan... berikan kami satu jam saja... satu jam saja... itu sudah cukup bagiku. Aku masih ingin mendengar detak jantung atau hembusan napasnya. Aku masih ingin melihat siluet senyumannya.”
Tapi dada Kai sudah sunyi, sesunyi senja dan ratusan orang yang membisu beku. Hanya senyuman di wajah Kai yang menandakan bahwa kematiannya itu tak sia-sia. Bahwa ia tak mengeluh atau protes atas kejadian itu. Ia tulus menerima takdirnya itu.

Suara sirine ambulance terdengar dari kejauhan.

“Terlambat... sudah terlambat...” kataku pelan sekali sampai-sampai telingaku saja seakan tak bisa mendengarnya. “Dia sudah pergi bersama angin. Dia telah menjadi bagian dari angin dan akan terus berhembus selamanya.”

Selamat tinggal, sayang. Kuijinkan engkau menjadi angin. Angin yang akan selalu ada bersamaku, berhembus di sampingku, dan mengisi kekosongan jiwaku.


***


Kusimpan kembali semua keping kenangan-kenangan itu. Kukunci dalam sebuah kotak di hatiku. Kugembok dengan gembok bersepuh emas lalu kuncinya kubuang ke dasar jurang yang paling dalam. Aku yakin tak ada yang bisa menemukannya. Tidak akan ada yang bisa.
Setelah puas menyaksikan riak gelombang sungai dan sebagian penghuninya, aku berbalik dan memperhatikan mobil yang lalu lalang satu persatu. Kupehatikan plat nomor, body, pengemudi, ban hingga kilauan peleknya yang memantul diterpa sinar matahari. Pokoknya tak ada yang luput dari pengamatanku. Setelah beberapa saat kemudian, kakiku melangkah sendiri jauh dari kesadaranku yang dikontrol oleh otak. Suara mesin mobil yang menderu makin terdengar. Kencang sekali seakan membuat gendang telingaku hancur lalu pecah, setelahnya mengeluarkan darah dan juga nanah. Walaupun begitu, kakiku tetap melangkah. Terus dan terus. Seperti tak akan pernah berhenti. Kulangkahi pembatas jalan. Tak lupa aku menengok ke dua arah berbeda.

“Bagus. Pas sekali,” kataku pelan. “Seperti yang telah aku rencanakan sebelumnya.”
Samar kudengar suara klakson mobil menderu dari kejauhan dan semakin dekat untuk detik-detik berikutnya. Aku tak peduli. Toh, aku tidak takut. Aku tidak takut mati. Tak ada yang kutakuti sekarang. Semuanya sama, tak ada bedanya. Tanpa Kai menemaniku, hidup tak ada lagi artinya. Sinar terik matahari sekali lagi menyinari wajahku. Hangat langsung merasuk ke sekujur tubuhku. Kini yang terdengar adalah suara klakson mobil diikuti teriakan dari pengemudi serta suara mesin mobilnya. Sedetik kemudian decitannya lalu terdengar. Tapi tetap saja. Walau pedal rem telah diinjak dan gas diturunkan, tetap saja kecepatan mobil itu tak berkurang. Benda bermesin itu pasti akan tetap menabrakku.

“Semuanya akan berakhir di sini. Tunggu aku, Kai. Aku akan segera berada di sampingmu di sana,” bisikku pada angin.

Kubayangkan tubuhku nantinya. Akan sedikit sakit tapi pasti akan kutahan demi dirinya, demi Kai. Tubuhku yang tak besar ini pasti melayang dan sesudahnya kalau tak menghantam kaca mobil, paling mati menghantam daratan aspal. Yah, langsung mati seketika. Itu yang aku mau.

“Criiittt... Blaaarrr...” Suara mobil menghantam sesuatu.

Bukan aku yang dihantam mobil itu. Beberapa detik sebelum benda itu akan menabrakku, seakan-akan ada hembusan angin yang menarikku ke belakang. Kencang sekali bagai tiupan puting beliung atau topan yang bersatu dengan badai, hingga menyebabkan tubuhku terhempas jauh. Aku mencoba bangkit. Lutut dan sebelah sikuku berdarah namun tidak parah. Hanya luka lecet kecil, bisa kutahan. Beberapa hari tanpa pengobatan yang intensif pun pasti akan sembuh.

Sepasang mataku lalu menelusuri jejak ban yang tertinggal di jalan raya di depanku. Jejak hitam itu berbelok dan si pembuat jejaknya ternyata menghantam sebuah pohon di sudut berlawanan. Asap mengepul dari tempat mesinnya, berwarna kelabu muda. Pengemudinya tak bergerak. Mungkin hanya pingsan akibat terbentur stir atau dasbor mobilnya. Dari gumpalan asap tadi, bisa kulihat jelas ada sosok terbentuk. Begitu sangat kukenal. Sedikit demi sedikit angin kian memperjelas bentuknya dan angin pula yang membuat guratan-guratan indah pada sosok tersebut. Berikutnya, selesai walau tak sesempurna aslinya.

“K... Kai,” kataku lemah. “Ka... kaukah itu?”

Guratan indah yang membentuk bibirnya mengurai senyuman. Suaranya yang dibawa angin mampir di telingaku. “Jangan bertindak bodoh, Sam. Jangan mengakhiri hidupmu seperti itu.”

“Ta... tapi... aku tak bisa hidup tanpa kau di sisiku, Kai,” jelasku. Mataku tiba-tiba berkaca-kaca, berat, dan akhirnya melelehlah semua kerinduanku menjadi air mata kebahagiaan yang tak kuasa kubendung lagi. Seperti semburat adrenalin yang melaju kencang tanpa henti di setiap aliran darahku sejak tadi begitu kencangnya membuat tubuhku bergetar.

“Sadarlah, Sam,” sosok itu kembali bersuara. “Bukankah sudah aku katakan padamu sebelumnya, walau aku tak ada lagi di dunia ini tapi jiwaku akan terus bersamamu. Akan terus ada. Aku akan menjadi angin yang terus berhembus di sampingmu, turut mengisi rongga napasmu.”

Kucoba tahan tangisku. Lagi, lagi, dan lagi. Tetap saja tak bisa, seolah-olah tangis itu adalah suatu keharusan yang harus dilakukan saat ini juga. Seperti tahap-tahap pada sebuah ritual yang begitu sakral, berbalut hawa mistis yang melekat pekat.
“Aku ingin bersamamu, Kai,” ucapku lembut. Kini aku sudah berhasil menahan gelora yang membara dalam tubuhku.

“Aku sudah bersamamu, Sam,” ujar sosok cepat.

Aku menggeleng sambil berusaha tersenyum. Sebelah batinku ikut campur. Sepertinya ia juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Tidak... kau tidak ada bersamaku. Itu tak sebanding jika kau benar-benar hadir di sisiku setiap hari.

“Sam!” sosok menyerupai Kai itu memanggil. “Aku meninggal dengan bahagia. Tak ada yang perlu disesali dan ditangisi lagi. Semua sudah sesuai dengan takdirku. Sebaliknya, aku sangat senang bisa menikmati semasa hidupku bersamamu. Menjalani hari-hari penuh kenangan dan kebahagiaan. Dan terlebih lagi, kaubuat setiap hari itu menjadi berwarna. Kau adalah lelaki anginku, Samuel.”

Sosok itu tersenyum lagi sambil diakhiri dengan letupan kecil hingga gumpalan asap itu kian lama kian menghilang. Seperti tersapu oleh angin dan bersatu menjadi salah satu bagiannya, penunjang kehidupan manusia. Sosok Kai menghilang, menciptakan keheningan yang tidak biasa, begitu senyap.

Tak tahu mengapa, kata-katanya tadi seakan bisa menyembuhkan luka sayatan di hatiku yang telah lama menganga. Penghilang dahaga akan cinta dan kasih sayang yang dulu terabaikan. Mengusir segala kebencian lalu menggantinya dengan keceriaan dan kehangatan batin. Ia benar-benar bidadariku.

“Kuijinkan engkau menjadi angin. Angin yang akan selalu bersamaku,” kataku sambil menengadah ke langit. “Ini adalah kenanganku. Kenangan yang membentuk sejarah anginku. Kau akan selalu bersamaku, Kai. Dan satu hal yang lebih penting bagiku. Jauh lebih penting dari semua. Jejak langkah yang kau tinggalkan, benar-benar mendewasakan hatiku dan sejujurnya tak akan pernah hilang dari setiap tapakku.”

Kenangan Sam. (Sejarah Angin) - 02

Penulis : Afandi M.
Gendre : Roman dan Kehidupan
Lain-lain : Berseri (3)

KEESOKAN harinya, aku melewati jalan yang sama seperti hari sebelumnya. Jam yang sama, dengan maksud bertemu wanita itu sekali lagi. Sengaja kuperlambat laju langkahku walau kuliah telah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu. Tak apa-apa. Tidak menjadi masalah besar bagiku. Semua itu akan sebanding jika aku bertemu lagi dengannya. Wanita yang benar-benar sempurna itu, mengagumkan. Meskipun aku baru pertama kali melihatnya tapi entah mengapa hati ini seolah memberitahukan bahwa aku telah mengenal sosoknya lebih dari puluhan tahun yang lalu. Mungkin di kehidupan sebelumnya, kami adalah sepasang kekasih atau kerabat yang saling mencintai. Jika kemarin aku mengatakan bahwa ia adalah sosok bidadari, nyatanya aku salah. Benar-benar salah besar. Bahkan tak terampuni. Derajat dari sosoknya lebih tinggi lagi. Bukan... bukan hanya sekedar bidadari dengan paras anggun nan menggoda. Ia adalah sosok dewi. Ya, seperti penceritaan dalam mitologi bangsa Yunani. Menurutku, ia sangat pas jika disejajarkan bersama Dewi Cinta dan Kecantikan―Aphrodite, yang konon katanya menurut alkisah terlahir dari buih air laut yang berasal dari sperma Zeus.


Lama kuberjalan tapi sosok Qhay Lilia tak jua muncul. Bahkan jika penciumanku turut menelusuri jejak angin, aroma khas tubuhnya belum merebak menggoda endusanku lebih jauh. Kurasa ia memiliki kesibukan lain. Kesibukan yang lebih penting daripada hanya sekedar berjalan tak jelas dan tak tentu arah di jalanan ini.

Yah, sayang sekali...

Sebelah batinku lalu berkomentar, “Buat apa kau memikirkanya? Toh, belum tentu dia juga memikirkanmu. Memangnya kau ini siapa? Kau bukan orang penting, bukan selebritis, tak berkedudukan, dan bahkan menyandang predikat mahasiswa terbaik pun tidak.” Ia diam lalu sambil tertawa melanjutkan perkataannya. “Malang sekali nasibmu. Ha... ha... ha... sungguh malang.”

“Memangnya itu salah?” kataku kesal mendapat sindiran. “Apakah salah kalau aku memikirkannya? Salah kalau aku ingin bertemu lagi dengan sosoknya yang begitu mengagumkan? Salah kalau aku mengingat aroma tubuhnya?”

Aku melanjutkan, seolah-olah kekesalanku kian membuncah. “Apa pedulimu? Ini urusanku. Urusi saja masalahmu sendiri. Sebaiknya kau cepat enyah dari dalam diriku. Aku tak sudi memiliki kepribadian naif sepertimu.”

Tidak serta-merta kekesalan itu melunturkan keinginanku. Niatku untuk bertemu lagi dengannya tak akan sirna secepat itu. Tak akan menghilang secepat kabut yang terusir oleh serpihan sinar mentari dari ufuk timur. Niatku itu setegar koloni karang yang tahan dihantam kerasnya gelombang dan sekuat intan. Masih ada hari esok. Di hari berikutnya kuharapkan dapat bertemu sosoknya lagi walau hanya melihat bayangannya saja, aku sudah senang.

Sisa perjalananku menuju kampus kulakukan dengan berdoa dalam hati. Doa yang teruntai tulus dan ikhlas kupanjatkan pada-Nya, mengharapkan sesuatu terjadi setelah aku mengumandangankan doa ini;

Tuhan... tak tahu mengapa, aku langsung menyayanginya. Tiap detik, wajahnya selalu berbayang dalam anganku. Aku suka dia. Aku cinta padanya. Kuharapkan ia adalah jodohku. Ya... jodoh yang Engkau pasangkan kepada setiap hamba-Mu. Kalau memang ia bukan jodohku, jodohkanlah ia denganku. Seandainya ia tak sayang padaku, buatlah ia sayang padaku. Jika ia jauh dariku, dekatkanlah denganku. Dan apabila ia lupa padaku, ingatkanlah ia padaku. Aku yakin dengan kuasa-Mu, semua itu pasti dapat terjadi dengan sangat mudah. Semudah kau menciptakan jagat ini bersama isinya. Amin...


***


Seminggu kemudian secara tak disengaja, kami bertemu di kantin kampus. Tanpa malu-malu seperti pada hari sebelumnya, aku langsung menyapa. Tidak disangka ia langsung mengenali dan menyuruhku duduk di depannya. Kami berbicara banyak siang itu dan semakin akrab seiring dengan tiap perpindahan dari topik satu ke topik yang lain dari setiap pembicaraan kami. Ya, begitulah memang seharusnya. Begitulah yang aku mau, semakin akrab dengannya. Dari hasil percakapan dengannya bisa kusimpulkan sesuatu yaitu bahwa ia merupakan wanita yang penuh dengan keceriaan, tawa, kelembutan serta jauh dari kesan penyendiri, egois, dan manja yang kadang lekat di setiap sifat para wanita. Lalu dengan keberanian dan percaya diri yang tinggi, aku mengajaknya keluar pada hari Sabtu, malam Minggu. Malam bagi sepasang kekasih untuk berdua dan mencurahkan kasih sayang. Betapa bahagianya diriku bagai dibuai sebuah janji dari sang penguasa, Qhay Lilia menerimanya. Ia mau pergi denganku. Benar-benar aku tak bisa menggambarkan perasaanku saat itu. Seolah-olah semua perasaan itu berkombinasi menjadi satu. Tak bisa dilukiskan. Bahkan imagiku yang kadang liar menjelajah tak bisa berbuat apa-apa.

“Kai,” panggilku pada suatu malam ketika hubungan kami semakin dekat. Ia memandangku sambil mengurai senyumnya yang khas.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” tegasku.

“Apa?” tanyanya lembut. Wajahnya yang tak dibalut kosmetik sungguh sangat menawan.

Aku diam beberapa saat, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Langsung saja adrenalin ini menyembur ke semua aliran darah hingga otak, mengikat semua hormon yang ada di sana dan memaksaku mengatakannya.

“A... aku... aku...” diam lagi.

“Ada apa, Sam? Apa yang ingin kaukatakan? Jangan membuatku bingung,” jelas Qhay Lilia panjang.

Perkataannya tadi membuatku berkomentar dalam hati. Ah, wanita ini. Bukankah dia sudah tahu apa yang nantinya mau aku katakan? Mengapa dia masih mendesakku? Semuanya kan sudah kutunjukkan dengan perbuatan dan perhatian yang lebih kepadanya. Apa aku harus tetap mengatakannya? Ah... aku malu.

Keringat seakan tak hentinya mengucur deras dari dalam pori-pori dahiku. Kerongkongan tiba-tiba saja kering bagai tak mendapatkan air pada penjelajahan di sebuah gurun baru. Aku menelan ludah untuk terakhir kalinya. Beban yang menaungi tubuhku seolah bertambah dua kali lipa beratnya.

“Sebenarnya... aku mau bilang, kalau aku...” suaraku bergetar. Sementara itu, Kai masih setia menunggu akhir kalimatku.

Tak mau membuatnya menunggu lebih lama, kulengkapi saja satu kalimat tadi menjadi satu keutuhan yang pasti. “Aku mau bilang kalau aku sayang padamu, Kai. Aku jatuh hati padamu sejak pertama kali kita bertemu...” aku berhenti sejenak. “Maukah kau menjadi kekasihku? Menjadi pacarku?”

Beban yang sebelumnya menghujam tubuhku seketika hilang. Entah ke mana. Ajaib sekali. Seperti magic saja.

Kai menunduk. Tampaknya ia tengah berfikir. Semenit kemudian ia kembali dengan pipi merona dan senyum hangat terbersit di bibirnya.

“Aku juga sayang padamu, Sam,” ucapnya malu-malu. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah bagai rebusan udang. “Kau bisa membuatku merasa nyaman dan aman, bisa membuatku tertawa.”

“Ja... jadi... kau...” kataku masih gugup. Napasku makin menderu cepat. Mataku berbinar bahagia. Ludahku lancar sekali keluar hingga kubutuhkan usaha keras untuk menelannya, menyebabkan jakunku naik-turun berkali-kali.

“Ya, aku mau menjadi pacarmu.”

“Benarkah?” kataku masih tak percaya atas apa yang baru saja kudengar. Qhay mengangguk membenarkan. Kegembiraanku langsung meluncur bebas tak peduli apa pun penghalangnya. Pokoknya saat ini aku sangat bahagia. Bahagia sekali. Dunia ini seperti tempat yang sangat indah walau nyatanya tidak bagiku. Aku berteriak kegirangan seumpama gila.

Akulah orang yang paling bahagia di dunia, jelas hatiku kencang. Ini seperti mimpi.

Kejadian itulah yang membuat hubunganku dan Kai semakin dekat. Telah ada ikatan di antara kami berdua. Sebuah ikatan untuk menuju ke tahap selanjutnya. Sebuah tingkatan yang akan sangat berarti. Setelah selesai kuliah kami selalu menyempatkan bertemu, entah di kantin atau di tempat lain. Setiap akhir pekan, kami menikmati indahnya malam dan udara nan lembab di kota Bandung. Kadang pula kami nonton di bioskop. Tentu saja bukan film horor. Kai sangat membenci gendre film seperti itu sama seperti ia membenci tangis, kesedihan, dan keluhan. Kami layaknya dua orang dalam satu tubuh, tak akan pernah terpisahkan. Setelahnya, kami biasa makan di sebuah cafe makanan Jepang yang berada di sekitar wilayah Dago, salah satu tempat di Bandung yang terkenal dengan wisata kulinernya yang berfariasi. Wajib dicoba. Blue Cafe Japanese merupakan cafe faforit kami berdua. Kai selalu memesan sushi—makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama neta, berupa makanan laut, daging, sayuran mentah ataupun sudah dimasak. Itu adalah salah satu makanan Jepang kesukaannya selain sashimi dan soba.

Sekarang, aku telah mendapatkan rusukku kembali. Kini aku telah menemukan belahan jiwaku. Separuh sayap yang bisa membuatku terbang ke negeri pencapaian.

Tapi pada akhirnya datang satu kejadian yang membuat ikatan yang telah kami jalin selama dua tahun lamanya itu putus tak berbekas. Seperti sebuah kapal kayu yang dihantam badai bertubi-tubi atau seperti sebuah kerajaan yang diserang secara tiba-tiba, diserbu oleh ribuan prajurit Romawi hingga sang raja tak bisa berbuat apa-apa, menyerah pada keadaan. Pada akhirnya, hancur begitu saja. Melibas semua yang ada dan tahu-tahu meninggalkan kesedihan, kengerian, kecemasan akan hidup, dan selanjutnya tempat itu hanya menjadi puing bagunan tua tak berguna layaknya bangunan-bangunan lain di luar sana. Di dalamnya yang tersisa hanyalah jeritan jiwa-jiwa terlantar dan terabaikan.

Cintaku hancur. Niatku untuk menikmati hidup bersamanya pupus sudah. Gara-gara kecelakaan sialan itu! Mobil brengsek! Goblok! Apalagi supirnya. Ingin sekali kukencingi mukanya atau kubunuh saja. Kucincang tubuhnya, lalu ususnya yang terburai akan kujadikan makanan anjing. Kepalanya akan aku gantung. Di dahinya akan kutulisi satu kata dengan darahnya sendiri. “Pembunuh” kata yang tepat. Kalau cara itu belum cukup mengusir seluruh kebencianku padanya, akan aku ukir lagi kulitnya dengan belati. Biarkan saja si bangsat itu menderita. Aku ingin ia merasakan apa yang aku rasakan. Tapi tetap saja semua itu tak akan sepadan atas perbuatan yang telah ia lakukan padaku.

Memang hukum telah menjeratnya, tapi aku tak percaya. Hukum negara ini sialan, busuk, dan jorok. Hanya dengan uang segepok saja sudah bisa mengurangi masa tahanan. Apalagi kalau satu koper. Pantas saja negara ini tidak pernah maju. Rakyatnya terus merana dalam keterpurukan sosial dan ekonomi. Kelaparan dan kebodohan di mana-mana, pembunuhan dan teror merajalela, terlebih lagi konflik-konflik sering sekali terjadi di setiap daerah lalu berlanjut ke pertumpahan darah antara kelompok-kelompok agama. Memang aku ini orang awam, tapi aku ini pengamat. Kedudukanku lebih tinggi dari mereka. Bangsat tikus-tikus berdasi itu. Lihatlah, mereka selalu berlindung di balik tahta dan kedudukan sang penguasa. Dasar kasta terendah. Selalu menutupi borok mereka dengan buaian janji. Cuihhh... aku tak akan percaya kalian. Tidak akan!
Sama halnya dengan pembunuh itu. Tega-teganya ia mengambil nyawa cintaku. Seharusnya kuluncurkan saja nuklir atau kujatuhkan bom atom tepat di rumahnya hingga meluluhlantahkan semuanya. Aku tak peduli jika anak, istri, dan tetangganya atau semua orang turut menjadi korban atas kebrutalan dan kebiadabanku. Aku tak peduli itu. Justru itu yang aku inginkan. Biarkan semua orang tahu. Biar ia merasakan bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang terkasih. Bagaimana kehilangan orang yang dicintai, disayangi, dipuja bahkan rela mengorbankan jiwa deminya. Biar ia tahu rasa. Tapi... aku bukan karakter seperti itu. Kedua orang tuaku tidak mengajarkanku menjadi pribadi seperti itu. Bukan jenis orang yang melakukan kejahatan atas dasar kegilaan atau ledakan kebencian. Aku ini lemah. Aku ini bukan jenis orang yang mampu bertindak. Aku adalah manusia yang kalah. Tak mungkin kulakukan semua itu.

Padahal baru pertama kali kulihat Kai berdandan saat kejadian itu terjadi. Lipstik yang memoles bibirnya sangat serasi di kulit bibirnya. Rambutnya juga sudah ditata sedemikian rupa, diberi pewarna dan dibuat menggulung pada ujung-ujungnya. Seperti top model saja. Tapi aku bahagia. Aku senang dengan itu semua. Ia masih tetap menjadi bidadariku. Apa pun yang memoles wajahnya tetap membuatnya terlihat anggun sebab pada dasarnya memang begitu. Ia lalu memanggil dari seberang jalan seraya memberikan lambaian tangan ke arahku.

“Sam!” serunya lembut.

Senyumannya, wow indah sekali. Aku tak akan menyia-nyiakan cintanya. Aku terpaku di tempatku berdiri, membanyangkan kenangan-kenangan lalu yang kulewati bersamanya. Mengingat kembali perjuanganku untuk mendapatkan dirinya. Ya, benar sekali ucapan-ucapan para pria sejati itu. Bukan perkataan Don Juan atau Cassanova yang kerjanya hanya menebar pesona ke setiap wanita. Mereka itu banci yang sangat mudah memberikan cinta ke semua wanita. Seperti PSK saja, ataukah memang mereka yang pertama menyandang predikat itu, lalu memberikannya kepada wanita-wanita jalanan secara cuma-cuma. Kalau aku, bukan seperti itu. Aku ini pria sejati.

Cinta memang memerlukan pengorbanan, namun seberapa besar pengorbanan yang kita berikan untuk mendapatkan cinta itu. Tak ada tolak ukur, perbandingan atau takaran yang jelas layaknya pemberian obat bagi pasien dengan penyakit berbeda, begitu juga pada cinta. Betul saja. Cinta memang membingungkan. Begitu banyak pengertian mengenainya. Bahkan menurutku semua kata-kata yang diketahui oleh otak manusia saat ini, tak bisa dengan tepat mendeskripsikan apa itu cinta. Cinta terlalu membingungkan.

Semua pikiran itu tiba-tiba mengabur sedemikian rupa, buyar. Cermin-cermin kenanganku pecah menjadi serpihan kecil yang tidak bisa disatukan lagi. Suara hantaman membuatku tersadar ke alam nyata. Sempat kulihat tubuhnya terhempas lalu melayang sebelum akhirnya menyentuh daratan aspal kembali. Saking terkejutnya, kedua bola mataku seolah-olah keluar dari kelopaknya. Lidahku langsung beku mencapai titik tertinggi. Jantungku seperti berhenti berdetak membuat tubuhku lemas dan ingin jatuh pingsan. Tapi kakiku yang masih bergetar cukup kuat menopang tubuhku dan pengaruh semburan matahari membuatku melangkah cepat sembari memanggil-manggil namanya.

“K... Kai... Kaiii!!!” teriakku sambil berlari. Aku tak memperdulikan mobil-mobil yang masih lalu lalang. Aku tak mau berhenti meneriakkan namanya agar jiwanya tetap berada di jasadnya.

Jangan pergi dulu, kumohon.

Sabtu, 29 November 2008

Kenangan Sam. (Sejarah Angin) - 01

Penulis : Afandi M.
Gendre : Roman dan Kehidupan
Lain-lain : Berseri (3)

WAKTU itu, matahari sudah meninggi saat aku melewati jalan yang meninggalkan banyak jejak kenangan di pikiranku. Masih bisa kulihat jejaknya di antara ribuan jejak kaki lain yang bertebaran tak berharga.

Di jalan itu, jalan kenangan. Ya... jalan itulah yang dahulu mengawali kisah cintaku, dan tanpa kusadari jalan itu pulalah yang pada akhirnya andil dalam memutuskan tali cintaku. Sebenarnya, ruas itu tidak tampak seperti jalan. Lebih seperti trotoar pemisah badan jalan, tentunya dengan ukuran yang lebih besar. Di sisi kanannya merupakan jalan utama, di mana pada jam-jam sibuk seperti ini kendaraan bagai barisan semut pekerja dengan langkah yang cepat menuju sarang. Sementara di kirinya, aliran sungai kecil menjadi penenang dan meredam kebisingan yang telah lama tercipta, walau tidak sepenuhnya. Suara gemericik air mengalun bagai sebuah simfoni surga yang akan melayangkan jiwa ke langit tertinggi. Mungkin sampai ke langit ke tujuh.


Matahari kian menyengat kulit, meskipun saat itu aku mengenakan kaos putih tipis berbalut jaket coklat tua. Sementara kupluknya menutup bagian kepalaku menghindari sengatan mentari, namun tetap saja kurasakan hawa panas mengalir hingga ke pori-pori kulit kepalaku, kemudian diikuti pusing yang menyebar tiba-tiba layaknya bisa. Saat itu, kepalaku bagai pantat penggorengan yang terus-menerus dilahap lidah api hingga memerah dan membara karena kepanasan. Bisa saja meleleh dan pada akhirnya menjadi suatu bentuk yang lain, bentuk yang berbeda dan tidak umum.

Tanpa sadar kuhitung tiap langkahku dalam hati. 1... 2... 3... 4... 5... namun saat langkah ke sembilan belas aku berhenti. Kutengok sungai di kiriku. Airnya yang jernih memantulkan cahaya matahari yang langsung menyilaukan penglihatanku. Membuat kedua pupil mataku ini perih. Saking jernihnya, terlihat bagai dataran cermin hidup, beriak-riak. Aku bisa berkaca di tengah riakan air sambil melihat tonjolan-tonjolan batu di dasarnya, atau memperhatikan gerombolan ikan kecil berwarna keabuan bergaris yang bersusah payah berenang melawan arus yang tak seberapa derasnya.

Aku termenung, sementara pohon pinus yang tumbuh di situ menjadi pelindung satu-satunya dari sengatan sang raja terang. Aroma melegakan memenuhi rongga-rongga pernapasan. Sedikit demi sedikit tiap lapisan udara kian menyegarkan bak hembusan angin pegunungan ataupun deburan ombak yang mengakhiri gulungannya di bibir pantai. Aroma pucuk muda, getah, lempengan kulit, daun, dan buah pinus yang berjatuhan, tercium bagai bau amonia menyebabkan pikiranku jauh menerawang. Ingatanku tentang kenangan klasik masa lalu mulai tersusun kembali, layaknya menemukan potongan puzzle terakhir untuk disatukan menjadi sebuah gambaran yang utuh. Di benakku, terbayang jelas sosok wajahnya; bibirnya yang tipis berbalut pelembab senada warna kulit bibirnya, tulang hidungnya yang kokoh dan lancip pada ujungnya, menegaskan bahwa ia keturunan orang-orang berkualitas. Matanya sipit yang begitu memikat menjadi daya tarik tersendiri. Terakhir adalah rambutnya yang hitam sebahu menjadi frame untuk semua keistimewaan itu.

Kuingat jelas saat kali pertama bertemu dengannya. Saat itu aku begitu terpana. Mulutku tak bisa berkata-kata seakan indera itu direkatkan oleh perekat terkuat di bumi ini, dan tak menduga bahwa seorang bidadari dengan bentuk fisik yang begitu sempurna tengah hadir di depanku, dalam jangkauan wilayah kedua biji mataku. Hadir begitu saja tanpa menunjukkan suatu bentuk kehadiran atau penampakan misterius dengan percikan kembang api ataupun gumpalan kabut yang mengaburkan sosoknya untuk pertama kali, atau bahkan hadir dalam keindahan mimpi sebelumnya, dengan sebentuk sosok yang begitu mengagumkan. Mengenakan gaun indah berumbai dengan sulaman benang emas bermotif abstrak di tiap sisinya bak seorang putri kerajaan awan.

Untuk pertama kalinya, ia memperkenalkan namanya adalah Qhay Lilia, namun tak pernah kusebutkan nama itu di depannya untuk hari-hari selanjutnya pertemuan kami, yang terkadang terjadi secara tidak disengaja, kebetulan, dan tanpa disadari. Aku lebih suka memanggilnya singkat dengan penggalan nama “Kai.” Menurutku itu lebih baik. Lebih menunjukkan ciri fisik maupun kepribadian gadis berwajah oriental itu.

Namaku sendiri Samuel, tapi panggil saja aku dengan sebutan “Sam” tanpa embel-embel apa pun di belakangnya. Fisikku seperti pria kebanyakan dengan tinggi 170 sentimeter, berambut pendek bergelombang, berkulit sawo matang, dan bermata tajam bak elang yang siap menerkam. Menurut teman-temanku, aku adalah tipe orang bebas―tipe yang kebanyakan berkepribadian pemberontak dan sering diartikan orang sebagai sosok yang menentang peraturan di mana pun tempatnya. Tapi itu hanya sugesti yang dilatarbelakangi bentuk fisikku saja. Intinya, aku adalah orang yang baik walau terkadang agak dingin jika memang mood-ku pada saat itu tidak dalam kondisi menyenangkan. Selebihnya, aku sama seperti orang-orang lain. Seperti anak muda kebanyakan. Sebagai informasi, saat ini aku terdaftar sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di sebuah universitas swasta di Bandung. Walaupun tak cukup dikenal, tapi aku senang bisa menjadi bagian dari universitas tersebut.


***


Pertemuan kami dimulai saat aku hendak berangkat kuliah pagi itu. Seperti biasa, aku selalu melewati poros jalan yang sama setiap hari, baik berangkat ke kampus maupun kembali ke tempat kos. Tempat yang menurutku paling nyaman di dunia setelah rumah orangtuaku tentunya. Aku bukan tipe orang yang sering keluyuran ke mana-mana. Jalan-jalan ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Setelah kuliah selesai, aku langsung pulang sebab katering Bu Dede telah menunggu untuk disantap. Seperti bayangan kalian saat ini, akulah anak pingit, itulah kata yang tepat. Peraturan ketat kedua orangtuaku semenjak aku duduk di bangku sekolah dasar membuat pribadiku seperti ini, seperti sekarang ini. Tapi aku bersyukur mereka telah membangun sebuah karakter kuat dalam diriku. Tak ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya. Di balik peraturan ketat yang mereka buat apa pun itu, tersimpan kasih sayang dan cinta yang begitu besar.
Jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 09.30 saat pagi itu aku mulai memacu langkahku lebih cepat.

“Akh, penyebabnya pasti karena nonton sepak bola tadi malam,” keluhku membenci kelakuanku sendiri. “Makanya aku terlambat bangun pagi ini.”

Aku sampai tidak memperhatikan ruas jalan di depanku. Yang kuperhatikan hanyalah detik-detik yang terus berganti di layar jam tanganku, hingga kemudian tubuhku menghantam sesuatu. Aku jatuh, sedikit terpental. Masih sempat kudengar beberapa benda juga turut berjatuhan dan setelahnya terdengar suara seseorang mengeluh lalu merintih kesakitan. Nyeri juga kurasakan di bagian pantat dan tanganku. Sambil membersihkan setiap sisi celana jeans dari butiran debu mikroskopik yang melekat, aku bangkit dan bermaksud meminta maaf kepada orang yang baru saja tak sengaja kutabrak. Namun tak tahu mengapa mulutku tiba-tiba tak bisa mengatakan susunan kata-kata itu. Padahal hanya permintaan maaf dan setelahnya, habis perkara.

Sungguh indah laksana tujuh keajaiban dunia dipadu menjadi satu kesatuan. Begitu misterius bagai lukisan Monalisa maupun The Last Judgement yang tercetak di atas langit-langit Sistine Chapel. Geraian rambutnya yang dibelai angin membuatku tak sepenuhnya melihat kecantikan wajahnya. Tapi entah mengapa perasaanku kuat mengatakan bahwa wanita yang berdiri di hadapanku ini adalah seorang bidadari, sesosok dewi. Yah, dialah sesosok bidadari yang begitu anggun nan cantik. Pokoknya begitu memikat, menggoda bagai lelehan coklat di atas es krim.

Kubantu ia mengambil buku-bukunya yang berserakan. Kutiupi jilidnya hingga debu menjauh dari tempat itu.

“Ma... maafkan saya,” kataku pada akhirnya. “Tadi saya buru-buru sekali sampai-sampai tak memperhatikan jalan dan akhirnya menabrakmu.”

Untuk yang pertama kalinya, wanita itu menatap wajahku secara langsung, mata bertemu mata. Kurasakan semburat adrenalin menyembur ke seluruh tubuhku. Saraf-sarafku kembali tak berfungsi saking gugupnya.

“Tidak apa-apa,” ujarnya lembut. Rupanya, suaranya lebih menakjubkan dari lengkingan sekelompok duyung atau pekikan lumba-lumba dalam arus samudera bahkan nyanyian paus di kedalaman lautan. “Bukan sepenuhnya salahmu,” tambahnya. “Aku juga terburu-buru tadi, jadi tak melihat jalan di depanku. Jadi, maafkan aku.”

Entah mengapa, mulutku seakan terkunci sekali lagi dan secara spontan aku langsung pergi. Aku tak mau jika ia mengetahui bahwa aku benar-benar mengaguminya saat itu juga. Saat pertemuan pertama kami. Saat pertama kali mendengar suara dan terbius oleh parasnya yang begitu sangat mengagumkan.

Belum jauh kakiku melangkah, wanita itu akhirnya memanggil. “Hei... tunggu dulu!” serunya.

Aku langsung berhenti dan beberapa detik kemudian ia sudah kembali berada di depanku. Adrenalin sekali lagi mengalir deras ke seluruh tubuhku. Membajiri otakku dengan hormon-hormon seksualitas.

“A... ada apa?” tanyaku gugup. Bodoh sekali, kenapa aku segugup ini? Padahal aku tak pernah segugup ini bila berkenalan dengan wanita-wanita lain di kampus, gumamku dalam hati sembari mengutuk kebodohanku sendiri.

“Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?” ia mengurai senyuman seolah-olah ingin merayuku.

Hah! Dia mau tahu namaku? Apa tidak salah? Apa aku tidak salah dengar? Mungkin aku tuli. Apa dunia ini sudah mau kiamat? Aku tak percaya orang semenawan dia mau tahu namaku. Ah, dunia ini ternyata begitu indah. Batinku menyahut girang. Kupandangi tiap lipatan bibirnya yang mungil. Kuhirup aroma tubuhnya yang dibawa angin langsung ke indera penciumanku hingga kurasakan kedamaian tercipta di hatiku. Kekhawatiranku seketika lenyap. Tak lagi kupikirkan keterlambatanku nanti. Masa bodoh! Tak penting! Aku masih ingin di sini. Masih ingin menikmati semua ini. Aku ingin mengabadikan sosok, senyuman, dan wangi tubuhnya dalam ingatanku, dalam imajiku. Kalau bisa dalam hatiku juga.

“Namamu siapa?” tanyanya mengulangi. Nadanya sedikit ditinggikan namun senyuman masih segar terurai di bibirnya bak mawar yang baru mekar di pagi hari. Begitu indah dan menyejukkan jiwa yang sebelumnya hampa.

“Oh maaf...” kataku malu pada sikapku sebelumnya. “Namaku Samuel.” Aku menjulurkan sebelah tangan bermaksud bersalaman.

Ia membalas jabatan tanganku. “Aku Qhai―Qhai Lilia,” katanya turut memperkenalkan diri.

Kembali ia bertanya seadanya. “Apa kau juga mahasiswa?”

Aku mengangguk menyetujui.

“Di mana?” Qhai Lilia masih mempertahankan tatapan matanya ke arahku.

Dengan malu aku menjawab, “Universitas Guna Atmadja.”

Ia berkata girang, “Wah! Sama denganku. Kalau begitu kita satu kampus. Ngomong-ngomong ambil jurusan apa?”

“Komunikasi,” jawabku singkat.

Tak tahu entah mengapa, aku seakan tidak bisa memperpanjang kalimat-kalimatku lagi. Pancaran sinar matanya bagai tatapan Medusa yang begitu membatukan, membuat tubuhku kaku dan tak bisa bergerak. Matanya yang begitu indah seperti menyelami jiwaku. Menjadikannya sebuah ladang; menanamkan benih cinta di sana, memupuknya dengan perhatian dan setelah itu menyiramnya dengan tumpahan kasih sayang. Kemudian tumbuh menjadi tanaman eksotis. Bermekaran membentuk buket-buket bunga yang tak dikenal siapa pun terkecuali ia sendiri. Tak ayal, aku pun langsung tergoda olehnya bagai mencium udara beraroma kesturi yang sangat memabukkan dan membuai iman.

“Hei! Kau kenapa?” kata wanita itu heran dengan tatapanku ke arahnya. “Apa ada yang aneh dengan penampilanku?” seraya meneliti tiap lekuk pakaiannya, namun tidak ada yang aneh menurutnya. Biasa-biasa saja. Siapa yang bilang aneh, lagipula tak ada perlu dikhawatirkan dari dirinya. Sebaliknya, yang perlu dikhawatirkan adalah diriku. Aku tengah terhipnotis oleh wujudnya. Apa pun yang ia minta akan kuberikan saat itu juga.
Setelahnya, aku tersadar, lalu dengan sikap malu-malu aku mengalihkan pandanganku darinya.

“Ah, tidak apa-apa kok,” jelasku sekenanya. Tak ingin malu lebih jauh, aku cepat-cepat mengakhiri pertemuan kami walau sejujurnya tak mau aku melakukan hal itu. Aku masih ingin melihat rupanya. Guratan senyum manisnya bak ukiran di atas mangkuk berseuh emas, lirikan matanya yang penuh mistis, maupun suara merdunya yang seakan-akan turut membawa musim semi untuk kesekian kalinya.

“Sepertinya, aku pamit dulu. Soalnya aku ada keperluan di kampus,” kataku. “Permisi.”
Qhay Lilia tersenyum lalu bersuara, “Oh! Silahkan. Aku juga ada keperluan lain. Senang berkenalan denganmu, Sam.”

Aku membalas senyumannya. Kuperlihatkan senyuman terbaik yang bisa kulakukan. “Aku juga senang berkenalan denganmu. Aku harap kita bisa bertemu lagi.”

Sesungguhnya aku sangat mengharapkan hal itu terjadi. Harus... itu harus terjadi... batinku memaksa.

Kami pun berpisah. Sekali aku menengok ke arahnya sambil tersenyum untuk yang terakhir kalinya di pertemuan pertama kami hari itu.

Entah mengapa hari itu terasa lebih berwarna. Seakan mata ini dapat memecah warna cahaya menjadi tujuh jenis warna yang lain, seperti pola warna pada pelangi dikala hujan reda. Tiap kali kulihat ke langit, gumpalan awan berbentuk abstrak seolah membentuk kembali wajah wanita itu. Sepasang tangan Michelangelo memahatnya menjadi sebuah karya seni tiga dimensi yang begitu mengagumkan dan tahan oleh hempasan angin. Semua ketegangan, kemuraman, kesedihan, dan kemarahan seketika itu juga terbalut oleh kegembiraan dan kebahagiaan yang langsung tercipta, tiba-tiba.

Apakah ini yang dinamakan cinta pada padangan pertama? Ataukah, hanya rasa kagum yang berlebihan dan lama-kelamaan akan hilang seiring berjalannya waktu?

~bersambung~