Malam ini, earphone ponselku untuk kesekian kalinya terselip lagi di telingaku, kaku, sama seperti bulir-bulir air mata yang masih menetap di sudut-sudut kelopak mataku, menolak jatuh. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bingung. Dilema. Bukti bahwa kesedihan baru saja melandaku. Baru sepuluh menit berlalu sejak percakapan itu selesai, berakhir untuk selamanya. Entah kenapa, dunia seperti runtuh dengan tiba-tiba, langsung menimpaku saat itu juga. Aku tak bisa mengelak atau mengira-ngira bahwa hal itu tak akan terjadi sebelum terlambat. Mau diapakan lagi. Toh sekarang, semuanya tidak bisa diputar balik. Ini dunia nyata, bukan mimpi, dan ini adalah fakta yang meskipun berat, harus kuterima.
Tampilkan postingan dengan label Curhatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 30 Juli 2011
Jumat, 08 April 2011
Surat - 'Semoga Bahagia'
Untukmu,
Aku setidaknya sudah berusaha memberikan semua yang kubisa, dan kau selalu merasa tidak cukup---tak pernah cukup. Air mataku selalu tak bisa menjadi bukti bahwa aku mencintaimu, bahwa kata-kataku bukanlah sebuah isapan jempol yang berbahaya, dan hingga kini, kau masih terus sama; mempertanyakan hal itu kepadaku yang tengah berlinang. Kau masih meminta aku mencintaimu dengan sepenuh hati sementara kau sendiri tak menyertakan hatimu ke dalamnya. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Aku tak tahu lagi maumu seperti apa. Kau sudah semu, sebuah ilusi imajiner yang semakin menjauh dan kian menghilang.
Label: ABC
Curhatan
Senin, 04 April 2011
Jauh
Entahlah, setiap detiknya kurasa dirimu semakin menjauh dan semakin berakumulasi dengan sekitarmu. Yah, aku tahu kalau setiap orang akan mengalami perubahan dalam dirinya, akan tetapi, tampaknya aku belum terlalu siap dengan perubahan yang sedang kau lakukan. Aku butuh tahap-tahap penyesuaian diri. Ini sungguh-sungguh berbeda dari kau yang dulu; di mana kau akan selalu ada dan aku pun begitu. Aku sepenuhnya tak pernah tahu, atau sesungguhnya bisa kukatakan, aku tak pernah diberitahu, mengapa dirimu berubah seperti ini. Namun aku tetap berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahanmu itu. Sayangnya, semakin aku berusaha menyesuaikan diri, semakin aku merasa ada yang menolak diriku. Aku tak pernah tahu apa itu. Begitu saja kurasakan. Semua ini bagaikan sebuah titik anomali. Aku berusaha keras agar tak terjebak dan mengambil cara lain. Aku berusaha untuk tak jemu mengiringi jalanmu, berusaha kembali menemukan jejak-jejak langkah yang kau tinggalkan. Aku berusaha menjaga hatiku.
Terkadang, segala sesuatu yang kau tunjukkan, atau perlihatkan kepadaku, membuatku merasa gamang dengan apa yang ada dalam dirimu. Aku, setidaknya, di beberapa waktu, merasa sulit untuk mengerti jalan pikiranmu. Aku terjebak di antara harapan-harapan yang ada di dalam kepalaku tentang dirimu. Aku berusaha menutup dan memperbaiki sebaik mungkin kebocoran dan kelalaianku dalam mengimajinasikan dirimu di anganku. Aku berusaha menyempurnakan mimpi-mimpiku akan dirimu. Dan, alhasil, aku tak pernah berhasil.
Label: ABC
Curhatan
Senin, 21 Maret 2011
Takkan Bisa
Aku tak tahu, yang jelas, entah kenapa, semakin kuat usahaku untuk melupakanmu, semakin aku tak bisa. Entahlah, mungkin kenangan yang sudah kita pahat dan lewati bersama-sama, sudah sedemikian besar hingga takkan bisa kuingkari lagi keberadaannya, mampu menopang hidupku. Sekarang, aku porak-poranda. Aku hancur saat melihatmu terus berbahagia di sana. Aku mengalami semacam penurunan jati diri. Makin lama, aku makin tak sanggup begini. Dan jika aku sudah tak kuat lagi, aku akan menyerahkan sepenuhnya diriku pada Tuhan. Ingin segera kembali di sisinya. Segera... ya, setelah ini.
Label: ABC
Curhatan
Sabtu, 19 Maret 2011
Komitmen
Kita ini diciptakan untuk setiap kontroversi. Apa enaknya seperti itu? Kau bilang mau mengerti apa yang kumau, tapi apa yang kau lakukan tidak seperti itu. Akupun begitu. Entahlah, mungkin kita memang diciptakan untuk tak saling bersama. Atau mungkin, kita dipertemukan pada saat yang tidak tepat. Mungkin karena kita berdua belum terlalu dewasa. Jauh di belakang semua itu, kesibukan dan segala aktifitasmu sepertinya telah mengambil rasamu. Teman-temanmu mungkin juga telah melunturkan gambaranku di hatimu. Kau tak lagi mengingat segala bentuk deskripsi wujudku. Kau telah melupakanku karena mimpi-mimpi yang sudah kau dapat. Kau telah mendapatkan apa yang memang kau inginkan, dan itu ternyata, bukan aku. Kau telah asik dengan duniamu, melupakan duniaku. Kau telah ketagihan dengan semuanya, tak ada jeda dan terus berlanjut. Semua itu berbeda dengan dulu, saat kita masih bercengkrama mengenai mimpi-mimpi yang berusaha sekuat tenaga kita bangun bersama. Aku yakin, kau pasti sudah melupakan bagaimana aku bercerita tentang rumah putih di tepi pantai, atau rumah di pedesaan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk segala macam gangguan. Aku sadar, kini kau melupakan itu semua.
Label: ABC
Curhatan
Jumat, 18 Maret 2011
Tak Biasa
Perubahanmu itu begitu besar, sampai-sampai aku hampir tak mengenali dirimu. Tampaknya, kau telah keluar dari sesak kepompong identitasmu. Kau tak bisa menahan semua ide-idemu. Kadang, aku tak bisa lagi menahan kecanggungan, seperti ada kain tipis yang membatasi keberadaan kita, namun sebaliknya, aku tak bisa kehilanganmu. Aku bimbang dengan semuanya, dengan keadaan ini, dengan kekacauan yang telah kita buat. Sampai saat ini, aku berusaha menerima semua itu, berusaha untuk mengerti apa yang sebenarnya kau inginkan. Namun jika suatu saat aku telah sepenuhnya kehilangan bayangan sosokmu yang dulu membuatku nyaman, mungkin aku akan mengejar halusinasi sosokmu yang hilang itu, dan mungkin akan meninggalkan sosok barumu yang sangat asing dan tak kumengerti.
Label: ABC
Curhatan
Kamis, 17 Maret 2011
Antara harapan, cinta, dan benci
Aku tak mengerti bagaimana memisahkan antara cinta dan benci? Aku tak tahu bagaimana membedakan perhatian dan berlebihan? Naluriku hanya mencintai dan menyayangi, dan aku berani bertindak karena dua hal tersebut. Mestikah aku menyalahkan mereka? Atau apakah aku harus menentukan, ya, di sinilah akhirnya. Bahwa di sinilah waktu di mana semuanya tidak seperti yang kukira. Katanya, hubungan tak hanya dilandasi antara sayang dan cinta, akan tetapi, aku cuma punya mereka. Aku tak punya hal lain yang pantas untuk dibanggakan dalam diriku. Aku hanya orang lemah yang tak tahu akan berakhir sampai di mana hubungannya kelak.
Label: ABC
Curhatan
Sabtu, 27 November 2010
Tea Bag vs Teh Seduh Asli Ribet
Akhir-akhir ini entah kenapa gue nggak suka minum tea bag, selain setelah tahu sendiri tea bag itu seperti apa, lagi gue udah punya idaman teh baru. Kalau belum tahu tea bag itu seperti apa, ya tea bag itu seperti teh-teh sachet yang ada dalam kantong kecil dan bertali, biasanya sering kalian minum tiap pagi waktu sarapan, siang-siang sewaktu hujan, sore, atau malam sebelum tidur. Sebenarnya gue memang penikmat teh, walau tidak termasuk dalam kategori maniak sih. Penikmat dan maniak kan pengertiannya beda kan. Hehehe…
Sekedar info, sebelumnya gue juga sama seperti kalian. Sukanya minum tea bag dan berpikir kalau teh itu ya tea bag. Tapi setelah kejadian itu, gue mulai suka minum teh yang non-tea bag atau kalau gue sebut sebagai daun teh asli ribet. Kenapa gue bilang daun teh asli ribet, karena memang seperti itu. Kita bisa langsung liat dauh tehnya, bahkan batang daun dan tulang daun tehnya yang nggak digiling secara halus. Pokoknya bagi gue yang penikmat teh, menimbulkan sensasi tersendiri waktu minum tehnya hangat-hangat, dan tiba-tiba ada tulang daun teh nyelip ke bibir gue. Hehehe... mantapp!!
Label: ABC
Curhatan
Rabu, 11 Agustus 2010
Kecanduan
Entah kenapa ya, akhir-akhir ini hobi baca gue tergantikan dengan aktivitas baru. Mungkin ini semacam kecanduan, atau peralihan, atau apalah, yang beberapa bulan ini udah ngambil jatah waktu gue buat baca buku. Sedih banget rasanya. Tapi gak bisa dibilang sedih juga seh, soalnya gue melakukan ini dengan kesadaran 100%. Makanya, mungkin yang mestinya gue salahin dan berperan besar ngebuat hobi membaca gue itu terabaikan seperti ini, ya ini neh... tralalalala... apalagi kalau bukan, kecanduan internet. Sama kayak lagunya Saykoji, walau gue gak akut-akut amat seh. Tapi tetep aja buku-buku yang udah pada gue beli, sebagian masih terbungkus rapih, masih nunggu satu-persatu buat dibaca, yang entah kapan kelarnya. Kayaknya seh bakalan lama... Hehehe...
![]() |
| Buku-bukuku sayang!! |
Label: ABC
Curhatan
Langganan:
Postingan (Atom)


