Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2011

Sebab


Sebab, cinta tak butuh banyak kata

Buang semua puisi yang pernah kuberi
Lupakan semua kata mesra yang pernah kuucap
Perhatikan saja berapa lama aku di sini

Sekarang, berhentilah untuk menatap masa lalu
Rajutlah impian kita setiap waktu
Tanpa ada egomu, ataupun egoku
Berjalanlah bersama sebagai satu

Sebab, cinta tak hanya ingin sementara.




Janganlah lupa untuk mengerti
Berlajar pula untuk selalu memberi
Jadikan kesuciannya tetap abadi
Sebab nyatanya, aku memang tulus mencintaimu---sampai mati

Kamis, 07 April 2011

Hilang


"Kau melangkah begitu cepat, melaju ke arah perubahan yang tak bisa kukenali, hingga akhirnya aku berhasil mengikuti langkahmu, tetapi sayangnya, tak ada apa pun yang kudapati di ujung jalan itu---bukan dirimu."

Kamis, 17 Maret 2011

Mencarimu

Aku tak tahu apa yang buatmu selalu gusar
Aku juga tak tahu apa yang membuatmu terus menangis
Hingga suatu saat kau pergi
Di saat semuanya terasa tak indah lagi

Apakah itu karena keberadaanku?
Masalahkah dengan cintaku?
Apakah penyebabnya kebejatan sikapku?
Ataukah, orang-orang yang memaksamu menerima hatimu?

10 Bait Cinta Untukmu

Walau tak bisa merangkai kata-kata sebagus Gibran, meski tak bisa menjelajah lautan sehebat Marcopolo, tapi aku sanggup mengisi hatimu dengan not-not indah kebahagiaan, yah, seperti Chopin. itu yang penting untukku sekarang dan sampai akhir zaman...

**

"satu di atas dunia
dua di atas semesta
dan kau, di atas segalanya"

**

Rabu, 16 Februari 2011

Ungu

Biru dan merah, berkolaborasi membentuk warna.
Ya, warna cerah. Begitu menurutmu--menyenangkan.
Kulihat semua itu di bola matamu.
Dan saat itu pula, kau tak dapat menutup kebohongan ucapanmu...

***

Wajahku berubah ungu ketika kau menamparku.
Tepat di saat kubilang, "aku menyayangimu."
Lalu, apa salahku?

***

Kau suka sekali dengan warna ungu.
Sebab kau tentu mengira, dia selalu setia menciptakan kisah-kisahmu. Tapi sebenarnya, kau sedang mencoret kisah yang tak kausukai dalam hidupmu...

Minggu, 28 Februari 2010

Untukmu



“Seperti kecantikan Bimasakti yang mengambang di angkasa, seperti kebahagiaan yang menerangi surga. Kau akan selalu ada. Selalu bersemayam dalam palung hatiku yang tak kasat mata.”

Selasa, 05 Januari 2010

Kepergianmu (Puisi)

Apa jadinya aku tanpa dirimu?
Apa jadinya tidurku tanpa mimpimu?
Apa jadinya hariku tanpa senyum dan tawamu?

Apa jadinya?
Apa jadinya semua?

Semua akan kembali ke masa sebelum aku bahagia
Semua akan bermula ketika aku masih berduka
Semua akan terulang ke waktu aku terdiam di tugu batu
Terdiam saat aku masih menunggu kehadiran cintamu

by: Afandi M.
"Saat sendiri itu datang lagi, saat diriku hanya ditemani sepi"

Selasa, 18 Agustus 2009

Jika

Jika aku kehidupan,
Jika aku takdir,
Jika aku nasib itu sendiri,
Aku akan melukiskan kebahagiaan pada kisah setiap orang.

Untuk Sang Kekasih

Aku terbangun tengah malam. Tersentak kaget oleh sebuah peristiwa yang begitu istimewa. Begitu amat sanggup memprovokasi imaji yang sedang bertenaga dan bertahta dalam puncak derita. Jika kau tahu, malam itu, parasmu berkali-kali muncul dalam berbagai versi keindahan yang tak dapat dibuat, dilukis, dan dibayangkan oleh satupun benak yang kala itu terjaga di dunia. Begitu amat sangat murni, dihargai, dan asli, tanpa adanya efek-efek khusus yang dimanipulasi oleh pantulan cahaya. Sejujurnya, waktu itu juga telah kusadari bahwa kau milikku seutuhnya. Satu-satunya milikku di dunia.

Selasa, 30 Juni 2009

Wanita Istimewa

Lampu kamarku mati tiba-tiba
Kepanikan lalu muncul dan meracuni raga
Menggelontorkan keberanian,
Membekapku dengan ketakutan

Tapi, wajahmu kian terbayang
Bersinar laksana sang fajar,
Membara dan menciptakan keajaiban

Kau tahu,
Aku ini bodoh
Aku ini pria yang gagal
Menyedihkan sebagai manusia yang terbuang


Tapi, kau akan selalu ada di sisiku
Memberi sejuta harapan untuk membangkitkanku
Mendekapku dengan pelukan manjamu
Merayapkan semangat dalam sel-sel kalbuku

Kau teristimewa
Kau yang berharga
Kau satu dalam jiwa
Penyembuh luka untuk menghabiskan setiap masa

~Untuk seseorang yang kini membuatku merasakan bahagia, terima kasih sayangku~

Puji Cinta

Kala itu lenguhan napasmu terasa basah di telingaku
Menggelitik naluri merah jambu yang bersembunyi di peti sanubari jasadku
Mengusik cinta yang dulu keras membatu
Mencairkan kebekuan yang tak peka oleh jejaring cinta semu

Kaulah wanita imajinasi yang dulu serupa bayangan terhampar
Menjadikanmu buih di kala cahaya sepenuhnya menghilang terseret gelombang fajar
Sekarang, kau tampak nyata, tak hanya jadi fiksi belaka
Tak sekedar ilusi optik semata


Suara sayumu itu, hadir di selasar pikiran jiwa
Menghipnotisku untuk terus berdoa akan datangnya sebuah keajaiban bertabur makna
Membuatku terus berkarya, serasa nuansa ilham turut membakar dada
Merasakan nyatanya keindahan aurora murni keberadaan hasrat pesonamu
Membuat dewa kematian luluh, bersimpuh, tak jadi mencabut nyawaku

Perhatianmu itu, meretaskan kehausanku akan kasih dan sayang
Meriuhkan suasana hatiku yang dahulu terasa lengang
Membubuhkan dua pasang sayap untuk mengejarmu melewati pekatnya kelabu awan

Senyumanmu itu, buatku terlena serasa di surga
Tak peduli apa yang membuatku tetap terjaga
Walau kaki harus melangkahi lembah atmosfer tujuh samudra magma
Tak peduli harus menghindari pecutan kilat yang berbahaya
Walau rajangan pisau membekas menorehkan aib dan merobek kehormatan di dada
Aku tetap melaju ke tempatmu berada
Lari dari aturan yang dibuat oleh penguasa

Ya, kutahu sayangku...
Puji-puji ini tak berarti banyak untukmu
Rangkaian kata-kata ini tak bisa bebaskan sosokmu
Sangkar umur itu masih mengurungmu,
Membentengi kita berdua dalam dunia yang jauh berbeda

Tak peduli,
Kuacuhkan itu semua
Apa daya, ego cinta sudah meracuni jiwa

Tetap kumelaju,
Walau harus berdarah-darah melawan seratus serdadu
Walau tubuhku meronta, menolak mengikuti niatku

Terus kupaksa, namun tetap tak bisa
Kugunakan kapak dewa, kemudian jeruji sangkarmu dengan malas hanya berkata,
"Cinta adalah keegoisan, namun menunggu cinta jauh melampaui kesetiaan."

Metamorfosa Cintaku

Kau tahu, seberapa banyak aku kehilangan untuk dapatkanmu?
Sadarkah kau, bagaimana sulitnya aku berusaha agar perhatianmu itu milikku?
Tetapi tetap saja, seribu kali masih tetap saja sama,
Semua itu tidak cukup untuk ungkapkan rasa ini kepadamu,
Tidak di depanmu, tidak pula jujur padamu,
Tak cukup kata-kataku untuk deskripsikan dentuman-dentuman cinta yang terus menyiksa dalam kalbuku,

Ah, aku masih merasa malu…
Masih saja tetap malu,
Hingga kujadikan engkau sebagai alasan kemarahanku—waktu itu.


Dan tahukah engkau sekarang,
Saat kita mulai berjalan berdua dalam pilinan benang cinta yang kita bentangkan,
Namamu seketika itu pula sudah mendarah daging dalam tubuhku,
Mengalir dan menguatkan tiap-tiap sendiku yang rapuh,
Secepat itu pula, suaramu sudah jadi keharusan untuk memuaskan dahaga rinduku,
Parasmu, tak terbantahkan lagi, ikut berkomentar harus diperhatikan oleh imajiku,

Hidupku kini terasa penuh metafora bersamamu;
Tidak ada hari yang bisa membiaskan warna pelangi tanpa senyummu,
Siang akan segelap malam jika kau keluarkan sedihmu,
Kedipanmu bahkan punya arti bagi asupan napasku,
Semenjak saat ini, dunia ada di genggaman tanganmu cintaku,
Bahkan jika mau, alam semesta akan jadi milikmu.

Terimalah persembahanku,
Kalungan bunga kesetiaan dan perhatian hanya untukmu,
Terimalah diamku,
Yang akan buatmu terus berkata bahwa cintamu itu hanya milikku,

Kaulah dewi yang membuatku terus bercerita,
Senyumanmu bahkan melegenda hingga ke tingkatan surga,
Kaulah buih aroma yang menguar dalam kabut dini pagiku,
Kaulah nada rahasia kesuksesan sebuah karya simphoni empat masa,
Aktris dalam tiap adegan percintaan beda dimensi,

Kali ini dan untuk seterusnya,
Kaulah Julietku—jelita satu-satunya dalam hidupku.
Tetaplah seperti ini,
Tetaplah seperti cinta yang selalu jadi kepercayaanku,
Tetaplah menjadi sebentuk cinta dalam hatiku yang baru.
Marilah hidup bersama dalam pesona yang kita ciptakan, Sayangku!

Kamis, 05 Februari 2009

Metamorfosis Hujan

Pertama,
Kilat dan guntur berkolaborasi
Tak ada guna bersembunyi di balik selimut
Kabut merobek turun, memenuhi kaki bukit

Satu tetesan, dua ketukan, tiga rintikan, seterusnya…
“Tik… tik… tik…”

Jatuhnya tak tertahankan,
Meteor cair mengambil alih kekuasaan
Menambah ketakutan dan kemuraman
Tak ada yang berani menentang kebuasan


Akhirnya,
Langit meranum, kembali tersenyum
Jalinan tujuh warna membentang, menoreh angkasa
Waktunya melanjutkan hidup penuh dosa

- Menunggu -

Kala itu lenguhan napasmu terasa basah di telingaku
Menggelitik naluri merah jambu yang bersembunyi di peti sanubari jasadku
Mengusik cinta yang dulu keras membatu
Mencairkan kebekuan yang tak peka oleh jejaring cinta semu

Kaulah wanita imajinasi yang dulu serupa bayangan terhampar
Menjadikanmu buih di kala cahaya sepenuhnya menghilang terseret gelombang fajar
Sekarang, kau tampak nyata, tak hanya jadi fiksi belaka
Tak sekadar jadi ilusi optik semata


Suara sayumu itu, hadir di selasar pikiran jiwa
Menghipnotisku untuk terus berdoa akan datangnya sebuah keajaiban bertabur makna
Membuatku terus berkarya, serasa nuansa ilham turut membakar dada
Merasakan nyatanya keindahan aurora murni keberadaan hasrat pesonamu
Membuat dewa kematian luluh, bersimpuh, tak jadi mencabut nyawaku

Perhatianmu itu, meretaskan kehausanku akan kasih dan sayang
Meriuhkan suasana hatiku yang dahulu terasa lengang
Membubuhkan dua pasang sayap untuk mengejarmu melewati pekatnya kelabu awan

Senyumanmu itu, buatku terlena serasa di surga
Tak peduli apa yang membuatku tetap terjaga
Walau kaki harus melangkahi lembah atmosfer tujuh samudra magma
Tak peduli harus menghindari pecutan kilat yang berbahaya
Walau rajangan pisau membekas menoreh aib dan merobek kehormatan di dada
Aku tetap melaju ke tempatmu berada
Lari dari aturan yang dibuat oleh sang penguasa

Ya, kutahu sayangku...
Puji-puji ini tak berarti banyak untukmu
Rangkaian kata-kata ini tak bisa bebaskan sosokmu
Sangkar umur itu masih setia mengurungmu,
Membentengi kita berdua dalam dunia yang jauh berbeda

Tapi kutak peduli,
Kuacuhkan itu semua
Apa daya, ego cinta sudah meracuni jiwa

Tetap kumelaju,
Walau harus berdarah-darah melawan seratus serdadu
Walau tubuhku meronta, menolak mengikuti niatku

Terus kupaksa, namun tetap tak bisa
Kugunakan kapak dewa, kemudian jeruji sangkarmu dengan malas hanya berkata,
“Cinta adalah keegoisan, namun menunggu cinta jauh melampaui kesetiaan.”

Kamis, 25 Desember 2008

Wanita Istimewa (Puisi)

Lampu kamarku mati tiba-tiba
Kepanikan lalu muncul dan meracuni raga
Menggelontorkan keberanian,
Membekapku dengan ketakutan

Tapi, wajahmu kian terbayang
Bersinar laksana sang fajar,
Membara dan menciptakan keajaiban


Kau tahu,
Aku ini bodoh
Aku ini pria yang gagal
Menyedihkan sebagai manusia yang terbuang

Tapi, kau akan selalu ada di sisiku
Memberi sejuta harapan untuk membangkitkanku
Mendekapku dengan pelukan manjamu
Merayapkan semangat dalam sel-sel kalbuku

Kau teristimewa
Kau yang berharga
Kau satu dalam jiwa
Penyembuh luka untuk menghabiskan setiap masa

~by: Afandi M.
Bandung : 25-Desember-2008
*Saat diriku benar-benar mengharapkan dirinya

Selasa, 23 Desember 2008

Bisikan Malaikat (Puisi)

Malam ini bulan bersinar separuh
Seperti lengkungan senyummu saat itu

Tatkala aku buka jendela kamar
Tawamu menyusup dan menyisir rambutku
Menentramkan hati lalu kalbuku

Hei Dewi Kecilku, datanglah malam ini
Datanglah dengan lenguhan nafasmu
Temaniku dalam semu
Ceriakanku dengan imajimu
Buatku rasakan cinta yang sebenarnya
Buatku mimpikan kita berdua


Namun, aku terbangun
Di tengah lelap yang meradang
Saat telingaku mendengar bisik lembutmu
"Ciayo sayangku, kepakkan sayapmu!"

~~~
by Afandi M.
Bandung, 23 Desember 2008
pukul 21:13

Rabu, 29 Oktober 2008

Awal dan Akhir (Puisi)

Sekali bertemu,
Dua kali,
Tiga kali,
Ingatanku mulai mencoba membingkai wajahmu
Tanpa terasa mengumpulkan semua kepingan paras ke indra penglihatanku

Di pesisir,
Buih laut menyikap guratan senyummu
Lebih memesona,
Sangat bersahaja,
Tidak dapat aku berkata apa-apa



Kuterbawa anggunmu hingga ke mimpi
Di sana, kuciduk mesra kerlinganmu
Kukantongi tiap desah napasmu dalam rongga paruku
Lalu, kedamaian merajai hati dan jiwaku

Indahnya cipta cinta
Tapi, sayangnya kukembali terjaga
Kulupa bahwa cinta tak lagi ada
Tak lagi berkumandang di lembah jiwa

Rabu, 15 Oktober 2008

Kejujuran Akan Kematian

Hidupku hanya sesaat,
Tak lagi bermanfaat,
Membuatku ingin mati cepat.

......

Makassar, 12 October 2008.
Pukul - 13:21

Selasa, 14 Oktober 2008

Analogi Rasa (Menunggu) - Puisi

Aku adalah perwujudan kuat dari metaforamu…
Fokus pikiranmu...
Akibat dari mutilasi cintamu...
Solusi amarahmu...
Cahaya dalam kegelapanmu...
Pelengkap harimu...

Di matamu, aku bisa menjadi apapun... siapapun...
Tuhan sekalipun...


Tapi, mengapa kau malah menjadi seseorang yang tak bisa kutunggu?
Tak bisa terjamah olehku?
Mengapa kau tak mengerti semua harap yang selama ini kuhaturkan?
Apakah semua ini merupakan akibat dari ilusi senyumanmu?

Bukan... bukan...
Ini nyata!
Inilah analogi rasaku yang tetap mencintaimu,
Inilah keharmonisan nada cinta yang pernah kau bisikkan ke seluruh indraku,

Tak apa, kau akan tetap kutunggu...
Selalu kutunggu, walau telah datang ajalku...

Senin, 01 September 2008

Quote Vol. 1

"Kadang kala untuk mengerti dan memahami arti dari sebuah kebenaran yang hakiki, kita cenderung kehilangan sesuatau yang sangat berharga dalam hidup kita."

Ditulis, saat aku tengah memikirkan tentang kebahagiaan~


by Afandi Muhammad