Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 November 2010

Lily Untuk Diana






Penulis  : Afandi Muhammad
Gendre : Romance







"Jika kalian percaya bahwa sebuah kisah adalah nyata, maka kenanganku ini akan membuat kalian percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang benar-benar nyata."

~0~

Banyak sekali kenangan yang bisa kuceritakan antara aku dan Diana. Sebegitu banyaknya hingga aku sendiri tak tahu akan memulainya dari mana. Setiap kenangan itu telah melebur menjadi satu kisah besar dalam hidupku. Jika diumpamakan, setiap kisah yang kulalui bersamanya adalah kisah-kisah menarik yang tak akan bisa kutemukan di dalam buku manapun. Tapi ada satu yang paling kuingat. Diana suka sekali lily. Yah benar, lily yang itu. Lily yang kelopaknya mirip terompet, yang banyak kalian temui saat perayaan malam tahun baru.

Sebelum kuceritakan kenangan itu, kuminta pada kalian, jangan tanya mengapa aku bisa mengingat kisah itu lengkap dengan detail-detailnya, sebab kalian termasuk orang dungu kalau menanyakan kembali hal itu. Aku jadi sangsi, apakah kalian benar-benar menyimak kisahku dari awal? Nah, kalau kalian sudah sepaham dengan persyaratanku, maka akan kuceritakan perlahan-lahan agar kalian bisa mengikutinya, bukan hanya sebagai sebuah kisah yang menarik, tapi juga sebagai kenangan yang indah.

Sabtu, 04 Juli 2009

Sang Pembawa Pesan


Aku, 30 tahun—Sekarang...

Ketika sebuah kejadian, atau bisa dikatakan sebagai sebuah malapetaka yang paling buruk datang melanda, terkadang ada satu jenis manusia yang terpuruk dalam kesedihan. Bertubi-tubi tenggelam dalam titik nadir kesedihan. Begitu dapat menghancurkan sisa hidup yang akan dijalaninya, tanpa pernah tahu apakah hidup itu sendiri bisa dikembalikan dengan suatu bentuk usaha, yang bisa jadi telah dilakukan tanpa pernah disadari oleh diri sendiri. Namun keterpurukan yang sudah menginvasi jauh sebelumnya, telah teramat sangat meracuni seluruh jiwa dan raga. Memburamkan pikiran normal yang dulunya pernah bertahta dengan tongkat kebesaran logika dan mahkota nalar yang begitu amat sangat dipuja-puja dan dibanggakan kehadirannya, bahkan, untuk sebagian orang yang setia menjunjung hal-hal logis dan selalu mengagung-agungkannya dengan berbagai macam julukan, yang menurut mereka adalah ‘sangat suci’—tak bisa tergantikan. Sang inventor, pengembang dari sebuah adikarya yang mantap, pemikir ulung—apa pun itu, pasti bisa dilakukannya. Tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya hanya akan merangkai satu kata—‘pasti’. Sebuah sentral supervisori dari kinerja suatu sistem syaraf. Mengatur dan mengkoordinir sebagian besar gerakan, prilaku, dan fungsi homeostasis tubuh. Bertanggung jawab atas fungsi pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik, dan segala bentuk pembelajaran lainnya.


Aku ingat, peristiwa itu datang tanpa diduga-duga jauh sebelum terjadinya. Amat sangat tak dijadwalkan. Tepat pada saat langit menorehkan kegelapan yang mutlak, dengan semburat kengerian yang menyebar di seluruh jagad. Malam itu, aku menatap langit, mencoba mencari-cari serpihan cahaya yang masih tersisa di antara angkara murka kegelapan yang berkuasa di atas sana, seperti mencari kebaikan manusia di dalam jiwa kelam yang sudah terbentuk bertahun-tahun lamanya walau sekecil apa pun. Tetapi tepat di atas sana, serpihan cahaya mungil itu tak tampak sama sekali. Seumpama ditunda kedatangannya untuk mampir dan menyinari Bumi. Bahkan di saat seperti itupun bulan merasa tak sanggup memberikan secercah sinar kebahagiaan yang sangat kuharapkan kedatangannya. Mengapa begitu?

Pertama kali pertemuanku dengan laki-laki tua itu juga terjadi di malam yang serupa seperti ini. Di malam yang tidak punya bintang, tak tampak rembulan, tanpa suara-suara makhluk malam yang berkeliaran di angkasa dan daratan. Seolah-olah kedatangan laki-laki tua itu telah melahap semua keceriaan yang ada pada malam tersebut. Semuanya hilang. Tetapi di balik itu semua, aku yakin kedatangannya yang entah disengaja atau telah ditakdirkan untuk mengisi lembaran nasibku ini, sudah diselingi oleh satu maksud dan tujuan yang jelas-jelas tersembunyi, sebab, aku langsung tersentak menyadari tatkala dia menghilang, di tempat yang sama, serupa seperti awal kemunculannya. Hidup, bagaimanapun itu, punya rencana lain—saat takdir telah begitu berbaik hati pada kita, selalu saja ada sebuah sumur ke mana semua impian itu akan terjatuh.

Angin malam yang dingin menyentuh kulitku yang langsung merinding dan bergetar, begitu pula nasibku yang sekarang beku dan terombang-ambing di antara lembaran kehidupan logis yang kujalani. Tak tahu mau ke mana, sampai sekarang masih terasa sia-sia dan tak ada makna yang bisa kutorehkan pada satupun lembarannya. Di depanku, debu-debu mikroskopik beterbangan ke satu tujuan, mendaratkan diri pada suatu nasib yang telah ditentukan untuknya dan teman-temannya. Beberapa plastik hitam ikut melayang tatkala angin semakin besar hembusannya. Aku duduk mengamati, seperti sedang melihat takdirku sendiri yang digambarkan secara gamblang di depan mataku.

Yah, bisa saja yang muncul di pikiranku kali ini mungkin hanya bagian dari persepsi bodohku saja, tapi setidaknya, coba simak sedikit walau sebetulnya maksud kalian hanya untuk sekedar menghormatiku sebagai seorang manusia seperti kalian. Sebetulnya, semua yang terjadi di dunia ini; baik itu yang disadari maupun tidak, pasti punya satu tujuan dan merupakan gambaran untuk suatu kejadian yang akan terjadi bagi yang melihatnya. Dalam hal ini, aku sendiri. Aku adalah aktor dari takdir yang coba menampakkan diri di depan mataku. Aku adalah lakonnya, lakon dari drama kehidupan yang khusus dibuat untukku.

~Bersambung~

Rabu, 10 Desember 2008

Sepasang Sayap Mimpi - Finish

Penulis : Afandi M.
Gendre : Misteri dan Kehidupan
Lain-lain : Berseri (4)

HARI-HARI cepat berlalu kemudian berganti dari minggu lalu ke bulan, membuat kondisi psikis Awan juga kian menyedihkan.

Sudah sekitar enam hari lamanya Awan mengambil cuti dari kantornya dengan sebuah alasan klasik bahwa salah satu adik perempuannya akan melangsungkan pernikahan dan ia sebagai kakak sangat diharapkan kedatangannya. Dengan berbagai pertimbangan dari Waldan Sanjaya―sang atasan, akhirnya Awan diijinkan untuk mengambil cuti selama tiga minggu. Alasannya mengambil cuti sungguh tidak masuk akal bagi pikirannya sendiri. Bagaimana ia bisa menghadiri pernikahan salah seorang adik perempuannya sementara dirinya sendiri adalah anak satu-satunya dari kedua orangtuanya. Ia adalah anak tunggal dan nyatanya, Awan telah berbohong kepada atasannya. Berbohong yang nantinya menjadi kebutuhan utama bagi hidupnya.


Awan kini sedang duduk di ranjangnya yang berseprei putih. Pandangannya jauh ke depan menembus lapisan kaca jendela dan akhirnya terpusat di sebuah taman yang ada di luar. Beberapa orang dewasa sedang bermain-main di sana. Mereka bertingkah seumpama anak kecil yang baru tahu akan keceriaan dunia dan belum mengetahui sisi buruknya.

Awan termenung untuk beberapa lama. Tak pernah ia sedamai dan sesenang ini. Kini hidupnya telah berubah. Seperti sebuah jarum jam yang tidak akan pernah menunjuk angka yang sama untuk kedua kalinya. Setiap orang selalu memperhatikan dan memedulikannya. Baju putih yang ia kenakan bisa menggambarkan suasana hatinya sekarang ini. Damai.

Tiba-tiba pintu diketuk. Tanpa menunggu komando dari Awan, dua orang wanita langsung membuka pintu dan masuk. Dasar tak tahu sopan santun. Apa mereka tidak pernah belajar etika saat masih duduk di bangku sekolah dulu?

“Bagaimana kabar Anda? Baik?” tanya wanita berkulit agak gelap. Awan tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, ia memperhatikan tingkah kedua wanita itu. Fisik wanita yang tadi bertanya kepadanya itu tinggi dan ramping. Namun ada keanehan pada wajahnya. Hidungnya ternyata tak sepanjang dan seramping tubuhnya, membuat mukanya yang dipenuhi bedak kelihatan lucu. Polesan lipstik murahan berwarna merah, banyak menghiasi wilayah bibirnya. Menor sekali. Beberapa jerawat muncul di dahi dan beberapa lagi memonopoli daerah pipi serta dagunya. Tampaknya ia tipe wanita yang tidak bisa merawat dan memerindah penampilannya. Awan memperkirakan umurnya sekitar 28 tahun dan pastinya belum memiliki pacar, terlebih lagi seorang suami.

Sementara wanita yang satu lagi jauh berbeda. Walaupun tubuhnya tak seramping dan sejangkung wanita tadi, tapi wajahnya menawan. Boleh dikatakan anggun. Sepertinya wanita itu tahu betul caranya berdandan. Bulu matanya diperlentik dengan menggunakan maskara dan bantuan pelentik bulu mata, sementara bibirnya hanya dihiasi pelembab. Membuat warna asli kulit bibirnya yang merah merona kelihatan begitu menggoda untuk disentuh, dikecup. Wajahnya yang mulus tak berjerawat dibiarkan tak tersentuh kosmetik, sehingga keanggunannya makin terpancar. Seolah-olah Dewi Kemudaan telah merawat bentuk fisik yang sunggu elok itu. Usianya pasti tak lebih dari 25 tahun. Beberapa tahun lebih muda daripada wanita satunya, dan tentunya kharisma yang terpancar dari tutur kata dan tingkah lakunya menjadi incaran semua pria.

“Pak Awan, bagaimana kabar Anda? Apa baik-baik saja? Apa hari Anda terasa menyenangkan?” tanya wanita berhidung pesek itu mengulangi kata-katanya yang tadi belum sempat terjawab. Pertanyaan itu kembali mengambang di udara, tak tersentuh dan dibiarkan begitu saja. Awan tak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak sudi berbicara pada wanita itu. Wanita itu bukan merupakan tipenya sedikit pun. Jika wanita satunya yang berparas anggun itu, bolehlah.

“Huh, dasar!” wanita tadi menggerutu pelan.

“Ada apa?” tanya wanita anggun tadi menghampiri temannya.

Wanita berhidung pesek dan berkulit agak gelap itu menunjuk menggunakan anggukan dagunya.

“Memangnya kenapa dia?”

“Seperti biasa, merepotkan,” jawabnya. “Sama halnya orang-orang yang menghuni tempat ini. Semuanya sudah terganggu kejiwaannya. Ya, kau pasti tahu maksudku. Mereka semua sudah...” ia setengah berbisik, “gila.”

Perawat anggun itu mengangguk membenarkan.

“Pria ini aneh.” Wanita berhidung pesek kembali berujar.

“Aneh? Memangnya aneh kenapa dia?”

“Kau tentunya belum tahu betul mengapa ia dimasukkan ke tempat ini, sebab kau merupakan perawat baru di rumah sakit jiwa ini. Pria ini namanya Awan Handiraja. Dia dimasukkan ke tempat ini sekitar tiga minggu yang lalu.”

Perawat cantik dan anggun tadi masih menjadi pendengar setia untuk mengetahui kelanjutan cerita.

“Yang menyebabkannya masuk ke tempat ini karena dia menganggap bahwa dirinya memiliki sepasang sayap kelelawar dan terus saja mengoceh tentang hal itu hingga tak ada henti-hentinya. Siapa yang mau percaya omong kosong itu? Orang-orang tidak akan percaya padanya. Akibatnya, semua orang menganggapnya...” ia kembali memelankan suaranya, “gila.”

“Dan pria ini sering sekali memanggil-manggil nama Kemal.”

“Kemal? Apa dia anggota keluarganya?”

Perawat pesek menggeleng.

“Temannya mungkin?”

Kembali si perawat pesek itu menggelengkan kepala untuk kedua kalinya. “Dia tidak punya saudara apalagi teman. Kedua orangtuanya juga sepertinya sudah meninggal dunia dan anggota keluarganya yang lain tidak mau mengakuinya sebagai bagian dari keluarga mereka. Dia dianggap seolah-olah tidak ada, semata-mata hanya fiksi belaka. Seperti bayangan.”

“Lalu siapa Kemal, Tin?”

Perawat bernama Titin menjawab, “Kemal itu merupakan teman imajinasinya. Sosok khayalan yang hanya ada dalam pikirannya sendiri.”

“Hah! Aneh sekali,” ujar perawat berpapan nama Susan kebingungan.

“Ya, seperti yang kubilang tadi. Dia memang laki-laki yang aneh.”

Susan mengalihkan pandangannya ke pria yang kembali melamun memandang keluar jendela. “Kasihan sekali dia,” ujarnya.

“Sejak pertama ia masuk ke tempat ini, aku sudah kasihan padanya. Terlebih lagi saat kudengar desas-desus alasan lain yang menyebabkannya menderita seperti ini.”

“Hah? Desas-desus?” tanya Susan ingin tahu. “Apa itu?”

Sepertinya mereka berdua terlibat sebuah proses percakapan yang menyenangkan—bergosip.

“Mantan istrinya turut andil membuat pikirannya tidak waras seperti sekarang ini. Tiba-tiba saja wanita itu memutuskan untuk bercerai darinya dan tak lama sesudah mereka bercerai, mantan istrinya kembali menikah dengan seorang pria bernama... sebentar aku ingat-ingat dulu. Sepertinya, aku lupa namanya.” Titin menatap langit-langit seakan-akan nama pria yang tidak diingatnya itu tertulis di sana. “Kalau tidak salah, namanya... Doni. Ya, nama pria itu Doni.”

“Dasar wanita buaya. Murahan!” umpat Susan. “Tega-teganya dia berbuat seperti itu. Jenis wanita seperti itulah yang banyak sekali mencemari dan menginjak-injak harga diri seorang wanita.” Amarah wanita itu meluap-luap.

Titin bengong. Tak sangka teman sekerjanya yang nyatanya lebih muda darinya itu bisa berkata seperti itu. Tampaknya, pikirannya jauh lebih dewasa dari umur dan bentuk fisiknya. Pikirannya terlanjur cepat dewasa.

“Aku juga berpikiran sama sepertimu, tapi tenang saja. Dosa wanita itu sudah terbalaskan. Tuhan telah membalas perbuatan jahatnya setara atas apa yang telah dilakukannya terhadap mantan suaminya. Sebanding dengan apa yang dirasakan mantan suaminya sekarang,” Titin menjelaskan. Semangatnya serasa terbakar, berapi-api bak para pejuang yang akan maju ke medan perang melawan para penjajah walau hanya bersenjatakan seadanya. “Seminggu yang lalu tak sengaja aku menerima telepon dari keluarganya. Saat itu aku berpikir, tumben saja ada sanak saudara Pak Awan yang menelpon. Aku kira dia ingin mengetahui perkembangan yang dialami oleh pria malang itu, tapi ternyata berita itu sungguh mengejutkan.”

Titin menurunkan volume suaranya. “Dia mengatakan bahwa mantan istrinya itu telah meninggal dunia bersama suami barunya. Katanya, wanita itu mengalami kecelakaan mobil saat pulang dari berlibur. Mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam jurang.”

Susan menutup mulutnya dengan kedua tangannya seolah-olah mau menguap. Di belakang, Awan masih diam terpaku. Ia masih memandang kehampaan. Sekali-kali ia menggoyang-goyangkan tubuhnya secara perlahan di atas tempat tidur sembari tetap melamun. Tak jelas apa yang sedang ia lamunkan. Pikirannya memang sudah terganggu. Tiba-tiba ada sesuatu terucap di bibirnya. Keras suaranya setara dengan hembusan angin. “Terbang, terbang. Aku punya sayap.” Kalimat itu terus diulanginya sambil bersenandung.


***


Meskipun matahari bersinar cukup terik, namun bendungan awan di atas sana membuat suasana terasa sejuk. Saat itu, Awan merasakan dengan nyata angin menerpa wajah dan tubuhnya. Membelai-belai dan memijat-mijat seumpama tangan-tangan ajaib yang bisa muncul di mana saja. Kerongkongannya lega dan hidungnya saat ini bisa menghirup berton-ton oksigen murni setiap lima menitnya dalam beberapa kali tarikan napas.

Awan menutup matanya, mencoba menghayati semuanya. Menghayati perjalanan hidupnya dari awal. Ia menarik napas panjang lalu mengendapkannya beberapa detik di dada kemudian dengan serta merta menghembuskannya perlahan-lahan, berkali-kali. Perbuatan itu tampak seperti sebuah rutinitas untuk melepaskan semua beban yang selama ini menyerang pundaknya. Angin yang semakin kencang mengibar-ngibarkan baju dan celananya bak selembar bendera di atas tiang pancang. Saat Awan membuka matanya sedikit demi sedikit, serasa muncul sayap samar dari belakang pundaknya. Tak bisa terlihat oleh orang lain kecuali dirinya sendiri. Sepasang sayap yang putih bersih berhiaskan bulu-bulu angsa seumpama kebaikan dan kebahagiaan yang dirajut menggunakan benang ketulusan hingga menjadi satu bentuk yang indah.

Di bawah orang-orang berkumpul. Mereka berteriak-teriak memanggil-manggil seorang pria yang berdiri di puncak atap rumah berlantai lima. Suara terkencang yang dapat sampai ke telinga Awan mengatakan, “ Turunlah. Cepat turun. Kau bisa mati jika terjun dari tempat setinggi itu.”

Awan menjawabnya namun hanya bisa terdengar oleh telinganya sendiri. Rambatan suaranya terhalang oleh hembusan angin yang masih menerpa wajahnya, sehingga tidak sampai ke telinga-telinga mereka yang berada di bawah sana.

“Siapa bilang aku mau mati. Aku mau terbang. Di punggungku, aku punya sepasang sayap yang kuat. Sepasang sayap yang bisa membelah lapisan udara. Sepasang sayap yang bisa membawaku terbang ke mana saja. Akan kunikmati sepasang sayap mimpiku ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya.”

Awan tak tahu mengapa ia bisa berada di tempat itu. Sebelumnya ia sangat takut akan ketinggian. Ia menderita Aeroacrophobia yaitu sebuah ketakutan akan ruang terbuka di ketinggian. Namun saat ini, ketakutan itu seolah-olah pergi. Seperti menguap lalu menghilang saat terkena cahaya matahari.

Dari kejauhan, suara sirine mobil polisi yang keras terdengar jelas bagai nada-nada pemanggil ketidak warasannya. Awan menutup mata sambil merentangkan kedua tangannya, merasakan kembali kehangatan yang menjalar di rongga-rongga dadanya. Sepasang sayap samar di punggungnya juga merenggang lalu membentang, mengepak-ngepak seolah siap untuk dibawa ke mana saja. Satu langkah namun pasti membuat Awan melayang-layang di udara. Di bawah, kembali orang-orang menjerit histeris. Bahkan kebanyakan di antara mereka menutupi wajah-wajahnya dengan tangan atau lembaran koran. Seolah-olah mereka sedang menonton pertunjukan gerhana matahari yang dapat merusak penglihatan jika dilihat dengan mata telanjang.

Awan terus meluncur. Kecepatannya kian lama makin bertambah. Ialah orang kesekian yang berani menguji teori Newton tentang gaya gravitasi Bumi, tanpa menggunakan satu alat pun untuk melindungi dirinya dari benturan. Awan merasakan satu persatu bulu yang menancap di sayap mimpinya itu terlepas lalu menghilang menjadi bagian dari cahaya dan dalam waktu yang cepat hilanglah sepasang sayap itu. Makin dekat Awan dengan daratan, hangat semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Hambatan angin yang sangat kecil tak mampu melawan bobot tubuhnya dan setelahnya, tabrakan dengan hamparan tanah tidak bisa dihindari lagi. Terakhir kalinya, Awan telah menyadari semuanya. Menyadari bahwa Tuhan selalu memberikan cobaan kepada para hamba-Nya dengan cara-cara yang unik dan misterius. Menguji tingkat keimanan hamba yang benar-benar beriman kepada-Nya. Begitulah cara Sang Pencipta bekerja. Tak ada seorang pun yang tahu. Ialah yang Mahakuasa―Mahaagung di atas segalanya.

Selasa, 09 Desember 2008

Sepasang Sayap Mimpi - Bag. 03

Penulis : Afandi M.
Gendre : Misteri dan Kehidupan
Lain-lain : Berseri (4)

TEPUKAN pelan di pundaknya membuat membuat Awan kembali tersadar dari kenangan pahit masa lalunya. Seperti dicekoki segelas empedu tanpa ampun dan begitu selesai pahit empedu masih menyangkut di tenggorokannya.

“Hei, kau kenapa? Apa ada yang sedang kau pikirkan?” tanya teman kerjanya khawatir. “Sejak tadi kau kupanggil-panggil tapi tak ada respon darimu. Sudahlah, kalau kau tak mau menjawab pertanyaanku tadi tidak apa-apa. Sebaliknya, aku minta maaf jika aku tidak sengaja telah menyinggung perasaanmu. Jangan dipikirkan masalahmu itu. Masih ada aku, Kemal di sini yang akan membantumu.”


Awan tersenyum memandang teman sekerjanya yang sampai sekarang masih gigih menikmati masa lajangnya. Betapa beruntungnya Awan memiliki teman kantor seperti Kemal. Pria yang kemarin genap berusia tiga puluh tahun itu sekaligus bisa menjadi sahabat yang bisa diajaknya bercerita tentang segala permasalahan yang tengah ia hadapi, baik masalah di kantor maupun masalah pribadi yang amat sangat sering membebaninya. Ya, begitulah fungsi seorang sahabat. Ia akan selalu ada di saat-saat di mana kita sangat membutuhkan kehadirannya, baik suka maupun duka. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain dan seringkali hingga pada tingkat altruisme*. Persahabatan merupakan sebuah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Dalam persahabatan, seorang sahabat sejati akan secara konsisten memperlihatkan kecendrungan untuk menginginkan apa yang terbaik bagi satu sama lain, bagi sahabatnya, simpati dan empati, mengungkapkan kejujuran di saat kecendrungan orang lain sulit untuk mengucapkan kebenaran, dan inti dari semuanya bahwa persahabatan merupakan adanya rasa saling pengertian. Perasaan yang tidak hanya dimiliki oleh sepasang kekasih.


***


Sudah tiga hari berlalu sejak pertama kali keanehan pada dirinya itu dimulai. Keanehan yang begitu mengerikan muncul di sela-sela penderitaannya akan perbuatan mantan istrinya, Reni. Bagaimana bisa ia melupakan peristiwa itu? Walau Awan berusaha keras untuk menenangkan diri dan menerima semuanya, tapi jauh di dalam hatinya, dalam lubuk jiwanya yang terdalam, sebelah bagian dari kepribadiannya menolak dengan tegas untuk menghapus kenangan itu. Sebelah jiwa tersebut seperti memiliki kesadaran yang berbeda dengannya. Ia bisa berfikir dan mempengaruhi jiwa yang lain. Seperti yang sekarang ini akan terjadi.

Dengan gerakan konstan, Awan memutar keran air di depannya. Tanpa hitungan detik, air langsung mengucur keluar bak hembusan napas. Awan mencuci telapak tangannya, menggosok-gosoknya seakan-akan melekat banyak sekali noda di tangannya itu. Bukan noda mikroskopik seperti yang kalian pikirkan sekarang. Noda ini jauh berbeda dengan noda yang seperti itu. Awan seperti seorang mantan penjahat saat membasuh sisa-sisa kejahatannya yang masih menempel di kedua tangannya itu dengan guyuran air suci yang diambil dari tempat kramat di atas bukit. Setelah dirasanya bersih, Awan menampung guyuran air itu di kedua telapak tangannya dan tanpa ragu-ragu membasuhkan ke mukanya. Ia lalu menatap ke kaca besar di hadapannya.

Disekaya sisa-sisa gumpalan air di wajahnya, dari dahi hingga ke permukaan dagu. Awan menatap kaca lagi seolah-olah mengharapkan sebuah kejaiban yang terjadi setelahnya. Keajaiban yang dapat menggelontorkan beban-beban pada pundaknya.

Seseorang lalu tertawa dari belakangnya. “Sudahlah, basuhan air itu tak akan bisa merubah kondisi kejiwaanmu. Kau benar-benar sudah hancur sekarang.”

Awan berbalik. “Si―siapa itu?”

Ia menengok ke segala penjuru kamar mandi tempatnya berada sekarang, tapi tak terlihat satu sosok pun yang tadi berkomentar mengenai dirinya. “Si―siapa kau?” suaranya bergetar. Ketakutan seketika membalut tubuhnya bagai selimut teror. Imajinasi dan khayalan aneh menutupi pikiran rasionalnya. “Apa maumu? Tu―tunjukkan wujudmu.”

Suasana tegang berlangsung beberapa menit melanda dirinya namun cepat-cepat pikiran rasionalnya bertindak.

“Sepertinya aku harus banyak beristirahat. Terlalu banyak masalah yang aku hadapi sekarang hingga membuat pikiranku ini tak bisa menyelesaikan satu-persatu permasalahan itu. Terlebih lagi masalah sayap yang tumbuh di punggungku ini. Benda itu makin lama makin bertambah besar. Apa yang harus aku lakukan dengannya? Apa aku harus memotongnya? Tapi...”

“Ha ha ha. Dasar manusia bodoh!” suara itu muncul lagi. “Kau terlalu lemah. Kau itu jenis manusia yang terlalu cepat menyerah pada cobaan.”

Wajah Awan kembali terjaga dan waspada. Ketakutan sekali lagi membalut seluruh kewarasan yang tersimpan dalam dirinya. Ketakutan akan kengerian itu jelas-jelas tak menyisakan sedikit pun kekuatan dan pikiran waras dalam proporsi otaknya.

“Si―siapa yang bicara?” teriaknya histeris. Raut muka ketegangan memancar dari aura wajahnya. Rahangnya kaku seolah-olah ikut merasakan ketakutan itu. “Keluar... tujukkan wujudmu, Jahanam!” pekiknya.

Betapa kagetnya saat mukanya kembali menatap cermin. Sebentuk sosok tertangkap oleh pantulan cermin tersebut seumpama asap. Sosok makhluk itu menatapnya balik sembari menguraikan senyuman yang tak bisa mengubah pandangan orang awam saat pertama kali melihat bentuknya. Bagaimana tidak aneh, makhluk itu memiliki sayap. Jelasnya, sayap kelelawar. Mengerikan. Dan yang lebih membuat Awan tak habis pikir, wajah sosok itu menyerupai wajahnya. Tak ada bedanya.

Sembari diam dan beradu pandang, sosok itu seolah-olah sedang berpose bak seorang pragawan pada cover sebuah majalah misteri ibukota. Makhluk itu bersandar di pintu toilet di belakang Awan. Sayap kelelawarnya mengembang lebar. Salah satu bentangannya kira-kira sepanjang satu setengah meter. Di antara kulit hitam kecoklatan yang membalut sayap mengerikan itu, menyembul sebentuk konstruksi tulang penyangga otot-otot sayapnya, kuat dan kokoh. Bulu-bulu halus berwarna serupa tumbuh subur di beberapa tempat layaknya tempat persemaian bibit.

Awan berbalik seakan-akan ingin pergi dan menyingkir dari tempat itu, namun kakinya tak mau beranjak satu langkah pun. Kakinya menolak perintah dari otaknya. Kakinya yang gemetaran seolah-olah kaku dan membatu layaknya terhipnotis. Tak bisa digerakkan sedikit pun. Bagaimana ini? Katanya dalam hati di tengah-tengah kegelisahan yang melandanya.

“Siapa kau?” teriak Awan. Malah itu yang keluar dari mulutnya yang gemetaran. “Ke―kenapa...” Awan tak bisa melanjutkan kata-katanya selanjutnya.

“Kau bodoh,” sosok itu berkomentar. “Kau seharusnya tahu dan menyadari bahwa aku ini dirimu. Kita adalah satu. Aku adalah sosok yang ada dalam dirimu. Aku muncul dari semua keraguan, penentangan, kebencian, ketakutan, kemarahan, dan semua kejelekan sifat yang kau miliki.”

Sosok itu bergerak mengganti bentuk posenya. Sayap-sayap yang mengibas dari belakang punggungnya menyusut sedemikian cepat. Dua detik kemudian, dia telah tampak seperti manusia. Bukan merupakan sosok menakutkan yang tadi melatarbelakangi bentuk fisiknya yang aneh lagi. Kini ia telah benar-benar mirip dengan sosok Awan.

Ba―bagaimana bisa? Sa―sayapnya menyusut, Awan berkomentar dalam hati.

“Kau tahu,” sosok itu bersiap menjelaskan sesuatu. “Manusia seperti halnya dirimu pada dasarnya memiliki kepribadian atau jiwa yang tersembunyi jauh dalam diri mereka. Tersembunyi di balik senyuman ramah atau tatapan kaku mereka. Kepribadian dan jiwa itu terkadang muncul secara tiba-tiba. Biasanya menggebrak tak kenal waktu, tempat, maupun kondisi. Semua itu terbentuk dari hasil imajinasi maupun khayalan akan sesuatu yang sudah terkumpul sejak dulu, dan setelahnya terpendam lalu terkubur serta masih menyisakan banyak pertanyaan dan pertentangan tentangnya.”

“Itu yang sedang kau alami sekarang. Kau tahu darimana kau peroleh sepasang sayap itu? Sepasang sayap yang menurutmu mengerikan dan terus menjadi bebanmu itu.”

Aku mendapatkannya dari mimpi. Awan ingin menjawabnya demikian namun mulutnya tak kunjung mau mengatakan kalimat itu.

Sosok itu maju beberapa langkah. Sinar matahari yang menerobos melewati celah-celah kaca ventilasi tidak segan-segan untuk menerangi sosoknya.

“Ha ha ha. Terlalu banyak keluhan yang kau keluarkan dari berbagai cobaan yang diberikan Tuhan kepadamu. Ya, sebenarnya semua itu hanyalah cobaan yang diberikan Tuhan. Dia menyisipkan cobaan-cobaan dalam hidupmu itu dengan cara-cara-Nya yang unik dan tak terpikirkan oleh para penyembahnya.”

Sosok yang menyerupai dirinya itu menyunggingkan senyuman seolah-olah sedang meremehkan Awan karena berpikiran pendek.

“Sebelumnya, kau telah diberikan pekerjaan yang layak dan istri yang anggun. Kehidupanmu selalu diberkahi. Hidupmu dipenuhi akan keindahan-keindahan duniawi yang diidam-idamkan oleh semua orang. Dan seperti yang tertulis dalam kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit, cobaan akan datang di waktu yang tak terduga. Dan sesungguhnya kau telah gagal menjalaninya. Kau terlalalu asik dengan kenikmatan-kenikmatan dunia yang secara sengaja diberikan Tuhan untukmu.”

Awan memandangnya tidak setuju namun tetap saja ketidak setujuannya itu tak kunjung keluar dalam bentuk kata-kata dari mulutnya. Ia hanya berani ngomong dalam hati, Gagal? Apanya yang gagal? Menurutku, semua yang telah kulakukan untuk menjalani hidupku ini bukan merupakan sebuah kegagalan. Aku telah melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Aku telah menjalankan semua kebenaran yang diajarkan oleh-Nya. Salah satu kejelekan dasar manusia adalah memiliki tingkat keegoisan dan keras kepala yang tinggi. Tak mau mengalah atas argumen-argumen maupun kejujuran-kejujuran yang diutarakan orang lain seputar hidupnya. Tidak terima atas semuanya. Mereka merasa bahwa dirinyalah yang paling benar akan apa yang diambilnya dalam menjalani kehidupan.

Sosok itu kembali berkata-kata, “Sifat dasar manusia. Egois.” Ia tersenyum kecut.

Kekagetan Awan makin menjadi. Bagaimana sosok itu bisa tahu apa yang ada dalam pikirannya? Apakah ia bisa membaca pikiran orang-orang seperti halnya membaca buku?

“Kau tak akan bisa mengerti. Tak akan pernah. Itu disebabkan karena kau terlalu sibuk dengan segala aktivitasmu dahulu. Jauh sebelumnya saat kau masih diberikan kenikmatan, rutinitasmu hanyalah seputar kerja, kerja, dan kerja. Entah kau sengaja atau tidak tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Kau diberi kenikmatan namun kau sendiri melupakan apa yang seharusnya merupakan kewajibanmu. Kau melupakan Tuhan dan keluargamu. Kau melupakan istrimu dan kodratmu sebagai seorang suami juga kepala keluarga.”

Ia melanjutkan, “Kau terus saja mengeluh dan mengeluh. Terlebih lagi, setiap keluhanmu itu tidak beralasan sama sekali. Asal kau tahu, keluhanmu itu adalah akibat dari kegagalanmu sebagai seorang manusia. Semuanya akibat keteledoranmu sendiri.”

“Ba—bagaimana mungkin?” akhirnya suara Awan terdengar juga walau masih terbata.

“Keras kepala. Lagi-lagi sifat dasar manusia.” Nada suaranya seperti bermain-main dengan intonasi yang tepat. “Kau terus memohon kepada Tuhan. Tak ada henti-hentinya. Kau mengatakan bahwa orang-orang tidak adil padamu bahkan Dia juga kau anggap demikian. Rendahnya dirimu. Kau mengeluh tanpa sadar akan kesalahanmu sendiri. Hingga yang terakhir dalam mimpimu, kau memohon untuk bebas. Kau menginginkan sayap. Dan sebagai akibat dari permohonanmu itu, Tuhan memberikanmu sayap yang sesuai untukmu. Lihatlah dengan jelas, seperti inilah bentuk sayap yang kau miliki sekarang.”

Sepasang sayap kelelawar megerikan yang tadi meyusut di punggung sosok itu tiba-tiba muncul lagi. Muncul dengan waktu yang amat cepat. Dengan kibasan angin seolah-olah mau mengukuhkan keberadaannya. “Bagaimana? Apakah kau sudah menyadarinya?”

Sosok itu berjalan mendekatinya perlahan seperti menikmati gerakannya. Awan mencoba mundur namun ia tak bisa menerobos dinding yang ada si belakangnya. Akibatnya, ia hanya terdiam di tempat, memohon suatu keajaiban. Tapi keajaiban yang tak jua muncul itu, membuatnya histeris.

“Tidak mungkin. Semua itu tak mungkin terjadi padaku. Aku tidak percaya atas semua kebohonganmu itu,” ujarnya ketakutan. “Pergi... pergi dari sini. Menjauh dariku kau makhluk terkutuk. Pergi aku iblis. Pergi...” Pertahanan kakinya goyah. Sambil bersandar, badannya meluncur turun. Kini posisi Awan setengah berjongkok. Sebelah tangan menutupi wajahnya. Ia gemetaran saat menghadapi kematian.

Tiba-tiba seseorang berlari masuk ke ruangan tersebut. “Hei... hei... apa yang terjadi padamu, Wan? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu? Sadarlah...” suara Kemal mencoba menenangkannya.

Awan membuka perlahan-lahan tangan yang menutupi wajahnya.

“Ke—Kemal... syukurlah kau di sini,” kata Awan sembari terengah-engah.

“Memangnya apa yang terjadi padamu?”

“Apa kau lihat makhluk itu? Di—dia ada di sa...” Awan menunjuk ke depannya namun tak ada sesuatu dalam lingkup daerah yang ditunjuknya itu. Hanya kombinasi ruang kosong dengan udara.

Kemal ikut-ikutan menatap tempat kosong itu. “Makhluk apa? Mana? Apa maksudmu?”

“Tadi dia ada di sana... ya, tepat di tempat yang aku tunjuk itu.”

“Hei, tidak ada siapa-siapa di sana. Sepertinya kau bermimpi di siang bolong, Wan.” Kemal cekikikan menertawakan sikap sahabatnya itu.

Awan memandangi wajah laki-laki itu lalu berkata tegas, “Ini bukan lelucon!!!” katanya marah. Latar matanya yang putih memerah, layaknya orang yang telah lama memendam kemarahannya. Beberapa jalinan urat menyembul dari pelipisnya.

Tawa Kemal langsung terhenti, seolah-olah seekor kucing kecil yang digertak oleh auman singa dan seketika membuat binatang kecil itu lari tunggang-langgang.

“Ma—maafkan aku. Aku tak bermaksud...” belum selesai Kemal menuntaskan kalimatnya, Awan berdiri lalu beranjak pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.

--------
note :
* perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan dirinya sendiri.

~Bersambung~

Senin, 08 Desember 2008

Sepasang Sayap Mimpi - Bag. 02

Penulis : Afandi M.
Gendre : Misteri dan Kehidupan
Lain-lain : Berseri (4)

LALU LINTAS bukan main padatnya. Kendaraan bermotor berjejer bagai menunggu antrian pengisian bahan bakar yang walaupun saat itu harganya telah melambung tinggi sekali, namun antrian itu malah makin menjadi sampai mengambil sebagian badan jalan. Asap knalpot membentuk awan hitam yang langsung melayang jauh ke angkasa, lalu bersatu menjadi awan dan nantinya menurunkan hujan asam yang mematikan. Guratan-guratan cemas tergambar jelas di setiap wajah para penguna jalan. Dengan balutan seragam-seragam kebangsaan perusahaan, mereka berkutat dalam waktu yang terus berjalan. Bagai robot bernyawa, mereka melakukan segala rutinitas harian yang begitu membosankan: mengkomputerisasi data, memperbanyak lembaran file, mengadakan rapat dan pertemuan bisnis yang menjemukan, menyampaikan presentasi tentang leadership yang sejujurnya tak ada gunanya saat ini. Seolah-olah mereka semua dikontrol oleh suatu alat mekanik berkemampuan tinggi dan diotaki oleh sebuah chip yang lebih kompleks dari otak manusia itu sendiri.


Generasi muda negara ini telah rusak walaupun ada beberapa yang masih menjunjung tinggi norma-norma kehidupan. Selebihnya hanya kumpulan manusia-manusia bodoh yang hidup tanpa tujuan jelas. Mengotori dunia ini dengan kekejian dan kejahatan jalanan, sampai-sampai menebar teror bak hantu mengerikan di malam hari. Apa yang bisa diharapkan dari orang-orang seperti mereka? Apa yang bisa dibanggakan? Apakah kekuatan mereka? Apa kekuasaannya? Keberanian cecunguk-cecunguk itu, bagaimana? Mereka itu "tai" di atas porselen istana. Apa jadinya masa depan dunia ini di tangan monyet-monyet seperti mereka. Busuk! Malah menghancurkan.

Semakin siang suhu kian meningkat, menyengat, dan mematikan. Jakarta yang terkenal sebagai kota penampung polusi dan penyerap panas di Indonesia makin mengukuhkan keberadaannya. Kota itu bagai berada di atas panggangan dengan kumpulan lidah api yang menyambar sukarela.

“Huih, panas sekali! Dua air conditioner di ruangan ini sepertinya belum cukup untuk mengusir panas yang tiap hari kian meningkat tajam,” ujar seorang pria sambil melonggarkan kerah bajunya. Ia melongo ke orang di hadapannya. “Semakin hari, Jakarta makin panas saja, ya?”

Orang di depannya tersenyum seakan membenarkan. “Mau diapakan lagi. Dari dulu memang seperti inilah suhunya. Tak pernah berubah ‘kan? Malah makin meningkat.”

“Hmm... ini pasti akibat global warming yang sering dibicarakan di televisi itu. Dan Jakarta adalah salah satu kota yang harus bertanggung jawab akan hal ini. Dasar!” ia berkata bak para demonstan. Seolah-olah ia tak menyadari bahwa dirinya juga terlibat di dalamnya.

Tapi saat ia menyadari sesuatu. Ia berkata lagi, “Ngomong-ngomong, kau tidak kepanasan dengan pakaian seperti itu, Wan?” tanya pria itu melihat teman sekantornya masih mengenakan stelan jes lengkap sementara ia sendiri sejak tadi melonggarkan satu demi satu kancing kemejanya namun tetap kelihatan rapi.

Kaget di tanya seperti itu, Awan menjawab sekenanya. “Oh, i—ini. Ah, tidak apa-apa. Aku malas membukanya. Toh nanti pasti jas ini akan kupakai lagi.”

“Benar sih, tapi... apa kau tidak kepanasan?” pria tadi menaikkan sebelah alisnya. “Aku saja yang sudah melepaskan jas masih kepanasan.”

“Ti—tidak. Tenang saja.”

Pria tadi ragu-ragu untuk berkata kembali, takut teman kerjanya itu tersinggung. Namun keingintahuannya tak memedulikan hal tersebut.

“Oh ya, Wan. Maaf sebelumnya kalau aku mau tahu persoalan rumah tanggamu. Tapi... bagaimana perkembangan tentang masalah perceraian kalian. Maksudku, kau dengan Reni, istrimu?”

Awan tak langsung menjawab. Pertanyaan itu seolah-olah mengingatkannya kembali akan masalah lalu yang pernah ia hadapi. Permasalahan yang begitu mengusik pikiran dan ketenangan rumah tangganya, bahkan kondisi psikisnya. Dua bulan yang lalu, istrinya tiba-tiba memutuskan untuk bercerai, padahal sudah dua tahun lamanya mereka membina rumah tangga. Memang pernikahan mereka tidak berlangsung dengan baik, tapi itu tidak menjadi alasan istrinya untuk langsung memutuskan tali perkawinan di antara mereka berdua secara sepihak. Tidak adil! Zaman sekarang mana ada yang adil?

Setiap minggu ada saja masalah yang pasti dipermasalahkan oleh istrinya, seakan-akan semua masalah yang timbul itu merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditolak. Banyak orang-orang berfikir; entah tetangga, teman sekerja, teman dekat, ataupun keluarga, bahwa pertengkaran yang sering terjadi dalam rumah tangga mereka ditengarai karena tak adanya kehadiran anak. Dari dua tahun perkawinan mereka itu, kehadiran buah hati di sisi mereka, memang belum juga terwujud. Bodoh! Itu bukan alasan. Hanya orang-orang yang bodohlah yang menetapkan hal itu sebagai alasan yang mendasari untuk mengakhiri sebuah hubungan suci pernikahan.

Memang benar adanya bahwa sebuah keluarga tidak lengkap tanpa kehadiran seorang anak di tengah-tengah keluarga tersebut. Anak bagaikan penenang dan pembasuh di antara panasnya kekisruhan suatu rumah tangga. Bahkan ada yang berpendapat bahwa anak adalah malaikat yang diciptakan khusus untuk sebuah keluarga. Tapi, bukankah semua itu adalah kehendak Sang Pencipta, Tuhan. Dia-lah yang menentukan apakah sebuah keluarga memiliki keturunan atau tidak, apakah mempunyai penerus atau tidak. Manusia hanya bisa menjalani hidup dan berusaha melaksanakan kodratnya sebagai khalifah di dunia.

Terkadang terlintas di pikiran Awan sebuah pertanyaan yang sedari dulu ingin sekali ditanyakannya pada wanita itu, Apakah benar kau mencintaiku apa adanya? Apakah benar kau menikah denganku bukan karena paksaan atau karena memendam suatu niat jahat untuk menghancurkanku, menghancurkan karier atau kehidupanku?

Masih segar di ingatan Awan pertengkaran hebat yang terakhir terjadi di antara ia dan istrinya. Pertengkaran yang akhirnya menghabiskan kesabarannya untuk menjaga keutuhan rumah tangganya dan memberinya kekuatan untuk menandatangani surat cerai yang selama ini gencar ditawarkan oleh istrinya. Ini tidak bisa lagi dipertahankan. Aku tak sanggup.

Kejadian itu terjadi di suatu siang yang panas saat sepulangnya ia bekerja dan tiba di rumahnya dengan kondisi tubuh yang sangat lelah akibat banyaknya tuntutan pekerjaan dari kantornya yang harus diselesaikannya hari itu juga. Sebelumnya, ia sudah menelepon istrinya bahwa ia akan terlambat pulang karena ada lembur di kantor. Di telepon, wanita itu mengiyakan tanpa komentar apa pun yang mengikuti persetujuannya. Tumben sekali. Tapi beruntung, Awan mendapatkan kompensasi untuk menyerahakan laporan itu keesokan harinya dan boleh menyelesaikannya di rumah. Hari ini sangat penting sekali bagi istrinya, Awan juga. Sekali setahun perayaannya. Hari ini adalah ulang tahun istrinya yang ke-27. Sudah terbayang di pikiran Awan bahwa hari ini pertengkaran di antara mereka berdua akan reda. Emosi yang telah membatukan kelembutan istrinya akan langsung meleleh. Ia akan memberikan pendamping hidupnya itu pengertian dan penjelasan serta jalan tengah untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di antara mereka. Di tangan sudah tertenteng sebuah kotak berisi kue ulang tahun dengan polesan krim yang lezat dan tak lupa sekuntum mawar merah sebagai pelengkap cinta dan kasih sayangnya. Sementara tugas kantornya bisa menunggu. Hanya pengecekan laporan yang akan ia lakukan di rumahnya.

“Nanti malam akan aku selesaikan dengan cepat. Toh, tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan semuanya.”

Awan membuka pintu lalu melepaskan sepatu. Aneh, tumben istrinya tidak menyambutnya hari ini. Kemarin-kemarin, walaupun sedang bertengkar, wanita itu tak lupa untuk menyambutnya ketika ia pulang. Mungkin dia sedang sibuk di dapur, jadi tak mendengar kedatanganku. Bagus kalau begitu, aku akan memberinya kejutan. Awan meluncur masuk berniat memberikan selamat dan kejutan.

Dari tempatnya berdiri terdengar suara berisik, suara percakapan dua orang. Suara yang satu jelas sekali milik istrinya, Reni, sementara suara berat laki-laki yang ditemani reni mengobrol milik siapa. Tipe suara itu tidak ia kenal sama sekali. Tak pernah tersimpan dalam memori otaknya. Siapa pemilik suara itu? Seketika, kecurigaan merambat bagai ketakutan akan gelap.


“Bagaimana dengan pernikahanmu, Ren?” tanya seorang pria berparas tampan. Ia merebahkan punggungnya di sandaran sofa.

“Yah, begitulah,” jawab wanita itu seadanya sembari menghela napas. “Aku sudah bosan dengannya.”

“Maksudmu?”

“Aku mau memutuskan bercerai saja darinya.”

“Hmmm...” pria itu berpikir sejenak. “Kalau begitu kita bisa berhubungan dengan bebas. Tak usah sembunyi-sembunyi seperti ini dari Awan sialan itu. Aku bosan kalau terus begini.”

Reni menggoda pria itu dengan tatapannya. “Tentu saja, Sayang. Kerahasiaan hubungan di antara kita akan segera berakhir. Secepatnya.”

Pria itu memeluk tubuh Reni yang mungil dengan mesra, lalu berkata di sela-sela pelukannya. “Kupegang janjimu itu, Sayang. Cepat kau ceraikan dia. Kau tak akan memperoleh anak dari Awan. Dia banci. Madul.”

“Yup, tepat sekali kata-katamu itu.” Mereka berdua cekikikan.

“Tapi...” wanita itu tak menyelesaikan kata-katanya.

“Tapi apa, Sayang?”

“Bagaimana aku bisa hidup setelah bercerai dengannya? Kau tahu sendiri kan, aku pasti tak akan dibiayai lagi olehnya. Apa yang harus aku lakukan?”

“Tenang. Jangan khawatir, Sayang. Jangan khawatirkan soal uang. Ada aku. Aku yang akan membiayai segala kebutuhan hidupmu setelah kau bercerai dengan si brengsek itu, dan setelah itu...”

Wanita itu menengadah menatap wajah pria di sampingnya. Matanya berbinar. “Setelah itu apa?”

“Tentu saja kita akan menikah. Bagaimana?”

“Aku senang sekali.” Wanita itu mengeratkan pelukannya. Dengan sebelah tangan, laki-laki itu menyibakkan rambut halus dari dahi wanitanya kemudian dengan lembut mengecup keningnya. Seolah-olah perbuatan itu menandakan seberapa besar rasa sayangnya pada wanita itu.


Di belakang Awan berdiri terpaku mendengar percakapan itu. Wajahnya memerah, matanya membelalak seolah ingin melahap dua orang yang sedang duduk di depannya dan tidak merasakan keberadaannya. Seluruh tubuhnya bergetar kala menahan amarah yang kian memuncak. Darah di seluruh pembuluh, di jantung, terutama di otak sudah mendidih hingga mencapai titik anomali. Seperti ada tegangan listrik yang langsung merasuk dari ujung jari-jari kaki lalu menyebar hingga ke tulang belakang. Rahangnya kokoh bagai granit cetakan. Gigi-gigi grahamnya bergemeretak menimbulkan suara aneh seperti bunyi suara burung pelatuk yang sedang membuat lubang di batang pohon Ek.

Mungkin suara gemeretak itu pula yang kembali menyadarkan kedua orang di depannya, hingga mereka kaget lalu berdiri secara tiba-tiba. Ekspresi wajah mereka berdua bagai pencuri yang tertangkap basah menjarahi seisi rumah yang sedang ditinggalkan pemiliknya.

“Kapan kau... datang?” tanya Rini gugup. “Bukankah kaubilang tadi kau akan lembur di kantor? Tubuh wanita itu gemetaran laksana dicekam ketakutan luar biasa.

“Dasar wanita tak tahu diuntung! Penghianat!” hardik Awan. Tak terasa topangannya akan kotak kue ulang tahun dalam genggamannya kian melemah dan detik berikutnya, kue itu jatuh berserakan di lantai diikuti bunga mawar yang jatuh di sampingnya. Potongan-potongan kue itu langsung berserakan di lantai. Reni dan pria di sampingnya malah memperhatikan kue yang sudah tak berbentuk lagi.

Kedua tangan Awan mengepal. “Apa yang sedang kalian lakukan?”

Di tengah kemarahannya, kedua binar matanya berkaca-kaca. “Apa karena dia, kau mau menceraikanku, Ren?”

Wanita itu diam sejenak. Dalam hatinya, ia tengah menyusun seuntai kalimat yang tentunya akan melukai perasaan suaminya itu. Pasti pria itu akan terluka. Meskipun begitu, ini adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan keluh kesahnya selama ini, selama membina rumah tangga bersama pria di hadapannya. “Ya, memang... tapi ada alasan lain selain alasan tadi...” diam lagi, “selain itu, kau tidak bisa memberiku anak, Awan. Kau pasti sudah tahu bahwa di setiap pernikahan, semua pasangan pasti ingin sekali mempunyai anak, sangat mendambakan kehadirannya sebagai pencerah suasana. Aku menginginkan itu. Aku ingin mendengar celotehan dan merasakan kemanjaan mereka.”
Wanita itu mulai terisak. “Kautahu, selama ini aku sangat kesepian setelah engkau pergi bekerja. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sampai-sampai melupakan aku, istrimu. Setidaknya, dengan kehadiran anak di antara tengah-tengah kita, kesepianku itu dapat banyak berkurang. Tapi, ini... tidak.”

Kini air mata wanita itu mulai jatuh dan melelehkan pertahanan kosmetik yang terpoles di pipinya, sedikit demi sedikit bagai tanah yang terkena erosi air hujan. Kedua pria itu terpaku menatapi Reni yang sedang meratapi kepedihan hidup rumah tangganya.
Reni kembali bersuara, “Sudah dua bulan aku diam-diam menjalin hubungan dengan Doni tanpa sepengetahuanmu.” Wanita itu menatap pria di sampingnya. Dari tatapan yang dilayangkan Doni kepadanya, Awan bisa melihat bahwa tatapan itu mengatakan, Kau telah menyia-nyiakan wanita ini. Kau betul-betul pria bodoh, Awan. Pantaslah kalau Reni memilih untuk meninggalkanmu.

“Kami mencuri-curi waktu saat kau pergi kerja, namun jika kau berada di rumah dan tengah sibuk dengan segunung pekerjaan yang harus kau selesaikan, kami membuat janji bertemu di luar.”

“Salahmu sendiri, Awan. Kau menyia-nyiakannya wanita secantik dia demi pekerjaan yang selalu kau pentingkan dibanding apa pun.” Doni bersuara. Tatapannya tajam dan melecehkan.

Setelah dari tadi terdiam, Awan kembali berkata-kata, “Aku tanya untuk yang terakhir kalinya. Apakah kau lebih memilik laki-laki itu dibandingkan rumah tangga kita? Dibanding pernikahan kita?”

Sambil menunduk, Reni menjawabnya seakan tanpa beban. “Tidak ada yang patut dipertahankan lagi dalam pernikahan kita ini. Tidak ada dan aku lebih memilih Doni darimu. Dia lebih bisa membuatku bahagia. Dia bisa memberikanku segalanya, semua keinginanku yang dari dulu tak bisa kau berikan padaku.”

Bagai terhujam seribu tombak yang jatuh dari langit, Awan tak bisa berkata apa-apa. Tubuhnya kaku, beku, dan membatu, membentuk seperti fosil tulang-belulang dinosaurus yang telah punah ratusan tahun lalu. Rohnya bagai meninggalkan jasadnya sendiri terpaku di tempat itu. Sepi dan senyap. Entah, mungkin kalimat tadi begitu sangat menusuk perasaannya, menggoyahkan pertahanan hatinya yang sejak dulu terus menetapkan bahwa ‘wanita ini mencintai dan menyayangiku setulus hati, tanpa ada yang dikurangi. Dia benar-benar jodohku. Betapa beruntungnya aku memilikinya.’

Dengan berat hati, Awan berkata, “Kalau begitu pergi dari rumah ini sekarang juga. Cepat pergi kalian berdua. Rumah ini tidak bisa menampung kalian di sini.”

Doni mengambil jaketnya lalu menggandeng tangan Reni keluar dari ruangan itu. Sebelum menutup pintu, Reni sempat berkata, “Buang saja semua baju-baju dan barang-barangku. Doni akan membelikan semua kebutuhan hidupku. Oh iya, dan secepatnya lupakan aku.”
Pintu ditutup keras.

Dalam hati Awan bergumam, Dengan senang hati akan kubakar semua barang-barangmu hingga tak ada lagi yang tersisa di rumah ini. Hingga tidak ada lagi kenangan yang melekat dalam pikiranku. Dan aku akan berusaha melupakanmu secepatnya. Secepatnya...

~Bersambung~

Minggu, 07 Desember 2008

Sepasang Sayap Mimpi - Bag. 01

Penulis : Afandi M.
Gendre : Misteri dan Kehidupan
Lain-lain : Berseri (4)

AWAN MENDUNG bertiup dan mulai bergemuruh di langit yang sebelumnya biru. Kilat dengan serta merta menyambar turun ke Bumi, dan baru beberapa detik kemudian suara guntur terdengar―menggelegar bagai dentuman meriam langit atau suara letusan gunung berapi yang memuntahkan magma serta debu vulkanik nun jauh ke angkasa. Tak sampai di situ saja pengaruhnya; awan itu juga menebar teror kegelapan dan seketika langsung merasuk, juga mencengkeram dengan membonceng ketakutan, hingga dapat melelehkan kebahagiaan yang tersimpan dalam frame-frame kenangan masa lalu.


Di padang rumput itu, seorang pria berdiri tegak bagai sebuah patung prajurit di tengah kota. Di atas sebuah bukit kecil, di mana sepasang kakinya sejak tadi menapak—mengakar dan berpijak. Ia menatap ke arah langit, ke sebuah gumpalan awan yang makin menghitam tiap detiknya. Fisiknya yang tinggi dan ramping terlihat samar saat sekelebat cahaya petir menyambar-nyambar dengan gila, merambat pada sela-sela udara yang berubah dingin. Rambutnya pendek dengan potongan rapi di tiap ujungnya dan bergerak lembut saat terbelai angin.

“Kau tidak adil padaku?” teriaknya entah kepada siapa. Mungkin ditujukan kepada salah satu gumpalan awan di atas sana atau petir, atau bahkan untuk Sang Khalik pemilik segalanya—di mana wujud-Nya tidak akan pernah nampak oleh sepasang indra yang dinamakan ‘mata’ itu. Tidak akan mungkin terlihat. Tak mungkin ada organ bahkan alat buatan makhluk manapun di alam semesta ini yang bisa melakukannya. Kecerdasan setiap makhluk itu terbatas. Semua telah diatur dalam sekat-sekat sel yang ada di otak.

“Mengapa Kau ciptakan takdirku seperti ini? Nasibku merana menjadi hamba-Mu yang terhina. Apakah Kau tidak mendengar sebutan mereka padaku? Mereka bilang kalau aku ini tidak berguna, lemah, bodoh, goblok, tolol, monyet atau apalah istilah mereka.”
Kedua kelopak matanya basah lalu mengeluarkan pilu yang menurut bangsa keturunan primata seperti manusia, dinamakan ‘air mata’.

“Di mata mereka, aku ini sangat rendah. Lebih rendah dari sampah. Cacat. Tak pantas berada di antara mereka,” jelasnya terisak. “Sesungguhnya, mereka itu salah. Kau bisa lihat sendiri. Tak ada kecacatan dari fisik yang Kau ciptakan secara sempurna ini. Semua organku lengkap, otakku juga masih betah bersemayam di kepala, dan hati serta jantungku juga tetap pada tempatnya. Sama seperti mereka. Lalu, mengapa mereka terus saja memanggilku seperti itu? Merendahkanku? Apa yang salah pada diriku? Apa Kau bisa menjelaskannya, Tuhan?”

Dengan punggung tangan, ia menyeka air matanya. “Mengapa Kau tetap diam? Apa Kau bisu? Tuli? Katanya, Kau selalu mendengarkan keluh-kesah semua hamba-Mu. Mana buktinya? Mana? Omong kosong! Semua itu ternyata bohong.”

Ia diam sesaat, mencoba mengatur tingkat emosi yang semakin meluap-luap dalam dirinya.
“Jika Kau memang adalah Sang Penguasa—raja di atas segala raja, buktikan padaku!” teriaknya makin kencang. “Tunjukkan kekuatan-Mu! Mana kekuasaan-Mu!”

Ia menghela napas sekali, seakan ingin menyampaikan sebuah ultimatum yang harus segera terlaksana. “Aku ingin punya sayap. Sayap indah yang bisa membuatku terbang dan tak lagi mendengarkan sebutan merendahkan mereka kepadaku. Aku ingin menjauh dari koloni mereka. Menjauh sejauh-jauhnya. Aku ingin terbang. Terbang seperti burung yang bebas di angkasa. Setinggi-tingginya hingga mencapai puncak awan.”


***


Pagi itu matahari belum menampakkan semburat sinarnya dari kejauhan ufuk timur. Tampaknya sang surya masih terlelap di peraduan angkasanya. Kabut semi transparan juga masih menguasai sebagian badan jalan di salah satu daerah paling padat penduduk di kota Jakarta. Tetes-tetes embun belum memuai menjadi uap air dan menyatu dengan udara sekitarnya, menyebabkan udara makin terasa lembab. Sayup angin seakan menguak sebab keheningan di beberapa lorong sempit pada perumahan tersebut. Makhluk-makhluk yang diberi jiwa belum menampakkan dirinya. Masih bersemayam di balik selimut kehangatan di tempat tidur.

Jam weker berbunyi nyaring—bergema di salah satu rumah bagai bunyi lonceng emas di puncak kuil Olympus, seakan meramalkan kejadian mengerikan yang nanti akan terjadi. Segera setelahnya.

Ketika selimut disibakkan, tubuh setengah telanjang tampil dari baliknya. Deretan tulang rusuk tercetak di sana, bagai urat yang menonjol dari balik kulit. Laki-laki itu membuka mata. Sedikit demi sedikit, suasana sekitar mulai tertangkap oleh indranya, menampilkan susunan langit-langit kamar berwarna putih dengan lampu bercahaya fluoresens yang masih menyala.

“Sudah pagi rupanya,” gumamnya sembari tersenyum saat kesadarannya tengah memulihkan diri. Kantuk yang masih terasa, ia paksa pergi dan menghilang. Sekarang waktunya melanjutkan hidup.

Sebelah tangannya mengambil weker yang ada di meja. Tombol weker yang ada pada bagian atas ia tekan, menyebabkan suara deringan benda itu berhenti seketika. Ia melihat jarum jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Weker diletakkan lagi ke tempatnya semula, sembari ia mencoba membangunkan tubuhnya yang masih malas bergerak. Digaruknya beberapa bagian tubuh hingga puas lalu dengan jari-jari tangan, rambutnya yang berantakan disisir seadanya. Sebagian ke samping kiri dan sebagian lagi ke samping kanan.

Sejenak, laki-laki itu menggeliat keenakan lalu menguap bagai sang penguasa rimba telah bangkit kembali. Setiap bukaan mulutnya bagai menghisap ion-ion kehidupan yang ada di tempat itu hingga tak bersisa. Rakus sekali. Biasalah, manusia memang cenderung seperti itu. Tak puas atas apa yang telah dimilikinya. Ingin terus menambah, menambah, dan terus menambah tak mau berhenti hingga mati.

Sinar matahari menerobos masuk melalui sela-sela tirai penutup jendela. Cahayanya menghangatkan kulit dan mencairkan keheningan. Seolah-olah kehidupan mulai tersusun kembali setelah tidur sekian lama, setelah berhibernasi dalam kegelapan. Menciptakan peradaban baru ke arah yang lebih baik. Semoga saja...

“Mimpi tadi benar-benar aneh. Aku seolah-olah berbicara kepada Tuhan. Bagaimana mungkin?” Lelaki itu nyengir sendiri. “Tidak masuk akal.”

Namun jauh di lubuk hatinya, ia bener-benar menginginkan hal itu terjadi. Mimpi tadi seolah-olah mencerminkan isi hatinya. Menggambarkan kalut yang selama ini menyiksa batin dan jiwanya. Ia tak bisa berbohong lagi. Walau hanya di dalam mimpi, ia telah puas. Yang jelas, ia telah menumpahkan suara hatinya. Lainnya, tak penting. Hari ini harus dijalani dengan perasaan bahagia. Hidup harus terus berlanjut. Tak ada beban sedikit pun yang lagi menghinggap. Telah hilang dan menguap bersama embun-embun pagi.
Ketika ia berdiri, sesuatu seperti begoyang dari punggungnya—bergerak-gerak. Ia merasakan keanehan pada daerah itu. Kepalanya coba ditengokkan ke belakang. Secara reflek tangannya ikut membantu.

“A—apa ini?” teriaknya kaget. “Mengapa benda seperti ini bisa melekat di tubuhku?”
Sepasang sayap kecil bergerak-gerak mengikuti gerakan punggungnya. Mengibas-ngibas bagai sayap burung yang terbang bebas di angkasa. Sepasang sayap itu berwarna hitam namun tak berbulu. Lembut dan menyerupai daging yang terbalut kulit dengan beberapa tonjolan tulang.

“I—ini sayap kelelawar,” gumamnya ketakutan. “A—apa yang terjadi? Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Mengapa―mengapa sepasang sayap menakutkan ini tumbuh di punggungku?”
Ia panik. Berjalan ke sana kemari layaknya orang yang sedang kebingungan. Seperti seorang calon ayah yang cemas menunggu kelahiran buah hatinya. Cemas akan kesehatan istri dan anaknya. Apakah istri dan bayinya bisa selamat? Ataukah, ada salah satu di antara mereka berdua yang harus mengakhiri hidupnya saat itu juga? Atau bahkan, kedua-duanya tak ada yang selamat? Kepanikan seperti itulah yang sekarang sedang melanda baik jiwa maupun raganya. Bagai seribu jenis ketakutan yang berbeda, tiba-tiba merangsek masuk ke tubuhnya. Menyebar seperti bisa yang menggerogoti tiap-tiap sel sarafnya. Menciptakan kengerian dalam frame imajinasinya, dalam tiap lembar pikirannya.

Dengan paksa, ia mencoba melepaskan sayap itu. Sekuat tenaga. Namun setiap upaya untuk menarik sayap itu agar terlepas dari tubuhnya, membuat kulit dan tubuhnya sakit. Seperti terkoyak oleh ratusan bahkan ribuan senjata tajam. Sepasang sayap itu bagai tumor yang harus dibuang jauh-jauh, bagai borok. Kalau perlu dikubur saja dalam-dalam agar tak tertular kembali. Kulit punggungnya seperti tertarik, hampir sobek. Namun karena menyatu dengan otot, usahanya melepaskan sayap itu sia-sia saja. Ia sadar bahwa jika dirinya terus memaksa, itu sama saja menyiksa dirinya sendiri. Ia tak mau lagi tersiksa. Pun jika siksaan itu bisa melepaskan dirinya dari predikat 'aneh'. Sayap itu telah bersatu dengan tubuhnya dan menjadi bagian atas dirinya, seperti tangan dan kaki, kepala, telinga, hidung, mulut, dan kelamin.

Ia tak terima. Tangis dan teriakan seolah-olah tak ada gunanya. Semua itu tak bisa mengembalikan tubuhnya ke kondisi semula—kondisi normal kembali. Ia merenung beberapa menit ke depan ketika matahari kian meninggi. Sedikit demi sedikit ia bisa menerimanya walau tak sepenuhnya, sebagian kecil dirinya. Ia masih tak tahu harus berbuat apa. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Masa ia harus berjalan keluar sembari memamerkan sepasang sayap mirip kelelawar di punggungnya? Alih-alih, orang-orang malah lari ketakutan dan menganggapnya sebagai hantu, monster, setan bahkan alien. Bentuk fisiknya kini berbeda. Bagaimana kalau ia berakhir di laboratorium penelitian karena dianggap mahkluk luar angkasa atau mutan? Dijadikan kelinci percobaan atas serangkaian tes yang menyakitkan. Mungkin ini pengaruh dari mimpi itu. Aku benar-benar berbicara kepada Tuhan. Aku meminta sayap dan inilah hasilnya, gumamnya dalam hati antara percaya atau tidak. Dengan kesadaran yang telah kembali, ia berkata setengah berbisik. “Hidup harus dilanjutkan. Tak ada gunanya penyesalan. Tapi...”

Dua puluh menit kemudian ia keluar dari kamar mandi. Mencari alat untuk menutupi sepasang sayap itu agar tidak kelihatan. Diambilnya gulungan perban kemudian dililitkannya benda itu ke punggungnya. Terus, terus, dan terus, hingga tonjolan sayap itu tak tampak. Setelah selesai, lanjut ia mengenakan baju dalam lalu kemeja yang dikombinasikan dengan dasi berwarna hitam bergaris. Semua kostum formal itu diberi sentuhan terakhir dengan balutan jas. Ia berdiri di depan cermin, memperhatikan sejenak penampilannya lalu berputar beberapa kali. Walau tubuhnya terlihat sedikit bungkuk karena tulang punggungnya menonjol keluar bagai pasak, tapi tanda bahwa itu adalah sayap tak lagi terlihat.

Aku terlihat seperti manusia normal kembali dan topeng ini akan membuatku menyerupai mereka. Bibirnya dipaksa mengurai senyuman. Ditepuknya bagian jas yang terlihat berdebu, simpul dasi dirapikan dan disembunyikan di bawah kerah kemeja lalu setelah semua sesuai dengan keinginannya beberapa menit kemudian, pria itu mengambil tas kerja lalu keluar dengan langkah terburu-buru.

~Bersambung~

Albert Armstrong (Albert Einstein dan Neil Armstrong)

Penulis : Afandi M.
Gendre : Sains (Perbintangan/Astronomi)

“Bulan adalah rahasia malam pembentuk cahaya setara aurora.”

LANGIT malam itu cerah sekali. Sinar rembulan yang berpadu dengan kerlap-kerlip bintang membentuk sebuah kombinasi manik-manik alami di angkasa. Bagai lampu-lampu berbahan gas neon yang memancarkan cahayanya sendiri—bintang nyata. Menggelantung-gelantungkan diri dengan benang transparan yang tak membiaskan cahaya. Wujudnya yang menawan untung saja tidak terjangkau dan tak tersentuh oleh tangan-tangan manusia yang kotor dan serakah, yang karenanya sesuatu yang suci akan ternoda. Tangan-tangan itu seolah-olah invasi yang ingin memonopoli seluruh wilayah alam semesta beserta isinya. Menjadikan penghuninya sebagai budak kerja rodi untuk membangun tempat-tempat penghasil polusi dan penderitaan. Menjadikan setiap tempat invasinya sebagai kubu angker dengan banyak isakan tangis dan jeritan-jeritan akan kekejaman dan perjalanan ke kematian.


Indahnya sinaran bintang, tak ayal menjadi bagian dari setiap sulur-sulur kebudayaan: digunakan dalam praktek-praktek keagamaan, navigasi, atau sebagai pertanda untuk bercocok tanam. Bahkan Kalender Gregorian yang sudah digunakan hampir di semua belahan dunia, mendasarkan diri pada posisi Bumi terhadap bintang terdekat, yaitu Matahari. Jumlahnya yang beratus, berjuta hingga bertrilliun itu membuat astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali bintang-bintang baru yang kemudian diberi nama novae. Penemuan itu dengan sangat jelas menunjukkan bahwa langit tidaklah kekal dan tidak berbatas. Alam semesta itu luas, tak mempunyai ujung. Murni, masih perawan, dan rahasia.

Ada dua orang pria yang sedang menikmati suasana tenang pada malam itu. Mereka sedang bersantai sembari duduk-duduk di beranda tanpa halangan atap untuk melihat keindahan langit malam di atas sana. Hembusan angin musim dingin terkadang menegakkan bulu-bulu di sekujur tubuh mereka. Bunyi binatang-binatang malam dan tiap gesekan ranting pepohonan seakan-akan dijadikan sebagai musik instrumental yang tak kalah bagusnya dengan irama indah musik-musik klasik.

Untuk sedikit mengusir udara dingin yang terus menggigit, dua gelas red wine sudah tersedia di atas meja di tengah-tengah mereka. Cairan anggur merah itu tenang seakan-akan ikut menikmati suasana. Bagai ombak yang tak terpengaruh oleh arus angin yang menerjang di atasnya. Sinar lampu neon berwarna kekuningan di langit-langit, membuat anggur merah itu seumpama bercahaya. Seolah-olah cairan ajaib yang diramu oleh para penyihir zaman dulu untuk kekekalan.

Pria yang mengenakan kemeja bergaris mendenguskan napas panjang, seolah ingin melapangkan paru-parunya dari beban udara dan pengaruh cuaca. Umurnya kira-kira 45 tahun. Tak tampak ada uban di rambutnya yang lebat dan keriting. Hanya pada janggutnya yang hitam dan dekat tulang pipinya tumbuh sedikit rambut putih. Wajahnya halus dan kemerah-merahan, lehernya lebar dan kuat, tapi seluruh tubuhnya diliputi lemak—kenyang oleh kesenangan.

“Lihatlah itu,” kata pria itu pelan, seraya menunjuk sebuah gugusan bintang di langit. “Jika indra penglihatanmu itu masih berfungsi baik seperti punyaku, kau pasti bisa melihat rasi bintang Andromeda di sana.”

Pemuda bernama Albert mengalihkan pandangannya dari hamparan bisu pepohonan di depan sana menuju ke tempat yang dimaksud. Ia memperhatikan rasi yang membentuk huruf ‘A’ itu dengan teliti seolah-olah sedang memandangi pesawat luar angkasa yang tak sengaja melintas. “Oh, itu!” serunya, “Ya, aku melihatnya, Profesor.”

Dari suaranya saja yang sedikit kekanak-kanakan, pasti saja pemuda itu berusia jauh di bawah Profesor tadi. Tampangnya menunjukkan usianya kira-kira 26 tahun lebih muda. Wajahnya yang berbentuk oval kelihatan teduh. Sepasang matanya sayu telah diberikan Tuhan kepadanya, seakan-akan memancarkan ketenangan dan kebahagiaan. Jika diperhatikan lebih teliti, ada sesuatu yang aneh pada hidungnya. Di tengah-tengah tulang yang menopang organ tersebut, seperti ada sedikit kesalahan pada saat pembentukannya. Hidungnya bengkok mirip paruh burung kakak tua. Melengkung seperti mau jatuh. Mungkin sewaktu kecil ia pernah mengalami cidera pada bagian itu dan dibiarkan begitu saja hingga ia beranjak dewasa. Namun kesalahan kecil itu tak mengurangi ketampanan parasnya.

“Memangnya kenapa, Profesor Rushell? Apakah ada yang aneh dari rasi bintang tersebut?” tanyanya sembari masih memperhatikan gugusan itu.

Profesor itu menyunggingkan senyuman tipis. “Indah sekali bukan. Benar-benar sebuah karya dari Mahaagung. Tuhan ternyata mengerti seni.”

Albert mengangguk menyetujui, “Ya, memang indah.”

Diam beberapa detik. Mereka sepenuhnya telah terhanyut oleh pesona rasi bintang Andromeda itu dan berandai-andai seakan-akan mereka bisa melihat gugusan bintang itu dari dekat dan menyentuhnya dengan nyata. Keinginan itu seperti mengalir di tiap-tiap aliran darah menuju ke otak, membuatnya tak jua mau pergi.

Profesor Rushell melanjutkan percakapan, “Tepatnya, cantik dan menawan seperti melambangkan putri Andromeda di langit utara dekat Pegasus. Dan kau lihat di sebelah sana lagi, Albert, itu adalah rasi bintang Orion...”

“Disebut-sebut sebagai sang pemburu,” Albert memperjelas. “Terletak pada ekuator langit dan dapat terlihat dari seluruh penjuru dunia, sehingga membuat rasi Orion dikenal secara luas.”

Profesor Rushell tersenyum. “Lanjutkan,” suruhnya.

“Orion yang merupakan sang pemburu berdiri di sebelah sungai Eridanus dengan dua anjing pemburunya—Canis Major dan Canis Minor. Mereka melawan sang kerbau bernama Taurus sebagai hewan buruan. Tak jauh dari kerbau itu, ada sosok lepus dan kelinci.”

“Bagaimana kalau yang itu?” Profesor Rushell kini menunjuk ke sebelah kanan. Tampaknya setiap rasi bintang mulai menampakkan dirinya satu-persatu.

“Itu Scorpius. Merupakan salah satu dari rasi bintang zodiak. Dalam astrologi barat, rasi Scorpius dikenal sebagai Scorpio yang berada di antara Libra di sebelah barat dan Sagittarius di sebelah timur. Rasi itu adalah suatu rasi besar yang terletak di belahan selatan dekat pusat Bima Sakti,” jelas Albert.

Sang Profesor tertawa kecil sambil menggeleng-geleng tidak percaya atas apa yang didengarnya. “Kau akan menambah jumlah astronom jenius di negara ini, bahkan di dunia sekalipun.”

Pujian itu membuat Albert tak serta merta membuatnya bahagia dan besar kepala. Ia merasa biasa-biasa saja. Tidak terlihat bentuk kepuasan berupa wajah yang merona maupun tingkah kikuk saat mendapatkan sebuah pujian dari seseorang. Di benaknya selalu tertanam bahwa sebuah pujian yang dilontarkan seseorang bisa saja berupa racun yang mematikan sekaligus memabukkan. Membuat orang-orang yang menerimanya terkadang terlalu terlena dan tak menyadari maksud yang tersembunyi di balik pujian itu.

“Apa kau tertarik mempelajari Astronomi dan berfikir menjadi Astronom nantinya, Albert?” tanya Profesor Rushell serius. Saking seriusnya, pria itu mendekatkan mukanya ke arah Albert. Ia menunggu jawaban pasti yang akan keluar dari mulut pemuda itu.
Albert memilih diam menyebabkan suara angin berdengung di telinganya. Beberapa helai rambutnya bergoyang-goyang saat dibelai angin malam yang membawa kelembaban.

“Bagaimana?” Sang Profesor mengulangi pertanyaannya kembali namun kali ini dengan sangat singkat.

“Aku tak bisa berjanji apakah aku akan tertarik mempelajari Astronomi atau menjadi seorang Astronom nantinya. Aku belum memikirkan sejauh itu dan belum menyusun konsep untuk kehidupanku sendiri. Aku hanya tertarik pada ilmu pengetahuan yang sangat luas dan tak belum terjelajahi sepenuhnya. Ilmu adalah makanan wajibku setiap hari dan tanpanya aku bisa mati kelaparan,” ujarnya. “Ia bisa membuatku merasa lebih berguna untuk hidup di dunia ini, sebab ilmulah yang nyatanya membuat kita mengetahui jawaban atas beberapa pertanyaan yang dahulu belum bisa terjawab. Ilmu pulalah yang mengajarkan kita tentang kehidupan, sebab ilmu merupakan sebuah pengalaman.”

Sang Profesor kembali menatap langit yang menyembunyikan berjuta keajaiban. “Ya, semua itu terserah padamu. Kaulah yang menentukan hidupmu sendiri.” Pandangan Profesor Rushell lebih memilih bentuk bulat bulan yang memancarkan cahaya sebagai tumpuan penglihatannya. “Ngomong-ngomong, apakah kau percaya bahwa Apollo 11 pernah mendarat di bulan?” tanyanya.

Albert tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ada jeda singkat saat ia mulai mengeluarkan kata-kata, seperti sedang berfikir. “Ada beberapa alasan yang membuatku percaya akan kontra itu.” jawabnya. “Alasan-alasan yang menurutku cukup kuat, baik secara teoritis maupun secara ilmiah.”

“Maksudmu?”

Albert mengerutkan keningnya sambil memperagakan dengan sebelah tangan penjelasannya. “Ya. Aku percaya bahwa manusia pernah mendarat di bulan.”

Profesor Rushell tertawa seperti melecehkan. “Kau terlalu lugu. Lugu sekali,” katanya. “Menurutku, semua itu hanyalah sekenario NASA. Pada era itu, sekitar tahun 1969 merupakan masa di mana perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika Serikat belum berakhir. Tekanan Perang Dingin dengan Uni Soviet membuat Amerika harus melakukan suatu siasat untuk memenangkan peperang tersebut. Terlebih lagi setelah Uni Soviet berhasil mengorbitkan Yuri Gagarin. Oleh karena itu, bisa saja pendaratan Apolo 11 di bulan hanya sebuah rekayasa dan merupakan sebuah skenario politik untuk memenangkan perang dingin tersebut.”

“Tidak―tidak sepenuhnya begitu, Profesor,” Albert menimpali. “Bagaimana kalau begini. Anggap saja apa yang Anda katakan tadi itu benar adanya bahwa pendaratan di bulan itu hanya sebuah skenario dan omong kosong. Berguna untuk menaikkan gengsi Amerika saja. Tapi, harusnya Uni Soviet sudah menjadikan hal tersebut sebagai sebuah serangan balik yang telak bagi Amerika Serikat. Namun sampai saat ini, bahkan saat histeria pendaratan itu terjadi, pihak Uni Soviet tidak memberikan reaksi penyerangan apa-apa.”
Profesor Rushell diam tak membalas. Ia malah lebih memilih mencicipi segelas wine yang menggoda tenggorokannya, tapi setelah beberapa saat kemudian ia baru mengeluarkan pembelaan.

“Bagaimana dengan foto-foto yang dipublikasikan itu,” katanya. “Kau tahu kan, ada beberapa hal aneh terdapat di sana. Diantaranya, foto yang memperlihatkan bendera berkibar padahal di bulan tidak ada atmosfer dan angin. Selain itu, ada juga foto yang tidak memperlihatkan adanya satu bintang pun pada langit latar belakang bulan yang gelap, lalu foto mengenai jejak kaki yang membandel, dan sebuah foto yang menurut para ilmuan sangat sempurna sekali.”

Albert mendengarkan dengan tenang semua kontra itu sambil menatap ke depan, ke arah hutan homogen pepohonan pinus yang tumbuh teratur berderet bak manusia mengantri untuk membeli karcis bioskop. Namun ketika semua pernyataan Profesor Rushell telah selesai dipaparkan, Albert membeberkan bukti-bukti nyata, ilmiah, dan teoritis yang masuk di akal. “Semua itu ada penjelasannya, Profesor,” tukasnya ketika ia telah mempersiapkan penjelasannya dengan sangat matang. “Mengenai bendera itu, memang benar bahwa di bulan tidak ada atmosfer dan angin. Tapi untuk bisa berkibar, bendera tidak selalu membutuhkan angin bukan. Setidaknya di ruang angkasa hal itulah yang terjadi.”

Albert Armstrong masih memberikan penjelasan.

“Pada kondisi di bulan, bendera dipancangkan bukan hanya pada tiang vertikal, tapi terdapat juga tiang horizontal yang ditambahkan di bagian atas bendera, sehingga bendera tersebut tampak tergantung dan merentang. Selain itu permukaan bulan yang keras mempersulit pemancangan tiang bendera itu, sehingga para astronot harus memutar tiang tersebut maju mundur agar bisa ditanamkan pada tanah bulan. Akibat gerakan ini, bendera tersebut tidak sengaja berkibar. Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa bendera itu bergetar.” Dan Albert masih fokus pada analisis ilmiahnya. “Di Bumi kibaran bendera terjadi beberapa detik dan diperlambat oleh udara, tapi kondisi vakum di bulan menyebabkan gerakan bendera tersebut tidak akan berhenti karena tidak ada gaya dari luar yang menghentikannya.” Satu alasan pendukung dijelaskan dengan sempurna dan tak terkira. Pertanyaan yang tak terjawabkan puluhan tahun yang lalu terucap begitu saja dari pemuda bernama Albert Armstrong, sang jenius alami.

Sifat keegoisan Profesor Rushell muncul. Pernyataan Albert tadi terdengar bagai menggelitik dan melecehkan tingkat pengetahuannya walau sebenarnya tidak seperti itu. Ia tak ingin dipermalukan anak kecil seperti Albert yang tentu saja belum bergelar akademis apa-apa. Gelarnya sebagai seorang Profesor juga menaikkan tingkat kegengsinya. Ia tidak mau mengalah begitu saja dan ia harus keluar sebagai pemenang, sebab memang begitulah seharusnya.

“Memang itu bisa diterima, tapi bagaimana dengan kontra yang kedua. Mengapa tidak ada bintang pada gambar yang diambil oleh para astronot dari permukaan bulan? Padahal bulan tidak memiliki atmosfer sehingga menyebabkan langit bulan menjadi gelap. Bukankah jika demikian, tentunya pengamat bisa melihat objek-objek terang seperti bintang pada foto yang diambil?” tanyanya. “Kondisi di bulan berbeda dengan Bumi. Pada langit Bumi, partikel-partikel atmosfer Bumi akan menghamburkan cahaya matahari pada panjang gelombang biru, sehingga langit siang hari akan tampak biru. Berbeda dengan bulan yang hampir dapat dikatakan tidak memiliki atmosfer sehingga langit senantiasa gelap, baik siang maupun malam. Jadi jika kita berada di bulan, tentunya bintang akan selalu terlihat jelas. Tetapi kenapa tidak terekam dalam gambar yang diambil oleh awak-awak Apollo 11 itu?”

Albert terdiam, berusaha mengatur tingkat emosinya agar tidak terbawa dan meluap-luap. Ia sedang menyusun kalimat-kalimat fantastis untuk dijadikan jawaban atas pertanyaan Profesor Rushell yang diucapkan dengan begitu menggebu-gebu.

“Dalam foto itu, sebenarnya bintang tersebut ada, namun terlalu redup untuk ditangkap oleh sebuah kamera. Kamera dan film yang digunakan oleh para astronot disetel untuk mengambil gambar-gambar kegiatan di bulan saja. Exposure timenya diatur sedemikian rupa agar dapat merekam kondisi permukaan bulan yang terang dan bukan untuk mengambil gambar objek-objek lemah pada langit sebagai latar belakang.”

“Ck ck ck... alasanmu itu sangat lemah,” kata Profesor Rushell ketus. “Terlalu lemah.”

“Ya, memang,” Albert Armstrong juga menyadarinya. “Tapi begitulah adanya. Menurutku, begitulah yang sebenarnya terjadi. Lalu tentang jejak kaki yang membandel...”

“Ya, bagaimana mengenai jejak itu,” kata-kata Profesor Rushell menyambar begitu saja. “Pada foto-foto yang diambil oleh awak Apollo 11 tersebut tidak tampak adanya lubang bekas semburan roket pada lokasi pendaratan. Untuk roket seukuran Apollo seharusnya semburannya dapat menimbulkan lubang yang cukup besar pada permukaan bulan. Jadi, bagaimana bisa roket mendarat mulus tanpa membekaskan jejak besar tersebut?”

“Mengenai penjelasan itu, begini menurutku.” Albert Armstrong mengatur posisi duduknya sambil bersandar tenang di sandaran kursi. “Untuk melakukan sebuah pendaratan tentu tidak dilakukan dengan kecepatan tinggi tapi dengan kecepatan yang diperlambat. Sebagai contohnya, tidak ada satu orang pun yang memarkirkan mobilnya dengan kecepatan 100 km perjam. Hal yang sama juga berlaku pada pesawat antariksa Apollo 11. Semburan roket yang memiliki dorongan 5000 kg, diperlambat sampai sekitar 1500 kg pada saat mendekati permukaan bulan. Dengan diameter pipa pengeluaran roket yang besarnya sekitar 54 inci, dan dengan ukuran roket sekitar 2300 inci persegi, semburan roket hanya menimbulkan tekanan sekitar 0.75 kg perinci persegi. Tekanan sebesar ini tidak akan sampai menimbulkan jejak lubang yang cukup besar pada permukaan bulan.”

“Tapi hasil foto-foto yang diambil di bulan memperlihatkan adanya bayangan yang kurang gelap―obyek yang seharusnya gelap karena berada dalam daerah bayangan. Tetapi dalam foto yang diambil dapat jelas terlihat, termasuk tulisan di sisi pesawat tersebut,” Profesor Rushell membela pernyataannya tadi. Ia tak mau kalah. “Jika matahari merupakan satu-satunya sumber cahaya, dan tidak ada udara yang dapat menghamburkan cahaya, seharusnya bayangan yang terjadi sangat gelap. Bukankah begitu?”

“Betul-betul sebuah persepsi yang salah menurutku, Profesor,” jelas Albert. “Memang di bulan bukan di atas Bumi dan cahaya matahari tidak dapat dihamburkan dalam kondisi yang hampa udara. Tapi di bulan masih ada sumber cahaya lain yang berasal dari bulan itu sendiri. Debu di bulan memiliki sifat yang khas yang dapat memantulkan kembali cahaya ke arah datangnya sumber cahaya tersebut.”

Profesor Rushell mengusap-usap dagunya seolah-olah sedang membayangkan kata-kata Albert dalam keping-keping imajinasinya.

“Lalu tentang foto-foto yang diambil secara sempurna,” Albert menjelaskan seakan-akan mulutnya tak mau berhenti. “Bagaimana para astronom yang amatir dalam hal fotografi memiliki hasil foto yang begitu bagus. Apalagi kondisi di bulan begitu berbeda dengan di Bumi. Seorang fotografer profesional saja belum tentu semua foto yang mereka ambil memiliki hasil yang sempurna.”

Albert mengawali kembali penjelasannya dengan sebuah senyuman menghiasi bibirnya. Sementara di samping kanan, Profesor Rushell masih tampak diam.

“Pernyataan seperti itu hanyalah merupakan sugesti bagi orang-orang awam yang pertama kali melihat foto-foto tersebut. Tidak menutup kemungkinan bahwa sebelum diberangkatkan ke bulan, para astronot ini selain menerima pelatihan untuk beradaptasi dengan kondisi bulan, mereka juga dilatih bagaimana cara mengambil foto di bulan. Awak Apollo 11 dalam penjelajahannya pada dasarnya mengambil begitu banyak foto di permukaan bulan. Ada banyak foto yang gagal. Dan tentu saja yang dipublikasikan ke media-media adalah foto-foto yang dianggap bagus dan berhasil. Sama seperti seorang fotografer. Foto yang dipublikasikan tentunya foto-foto yang bagus dan bukan merupakan foto gagal,” jelasnya panjang lebar. “Salah satu bukti yang tidak bisa disangkal adalah keberadaan batuan dari bulan. Jenis batuan itu tidak mungkin berasal dari asteroid ataupun meteorit karena batu yang jatuh sebagai meteorit akan dioksidasi saat melewati atmosfer walaupun ada saja batuan tersebut yang dapat sampai ke Bumi. Lagi pula tidak ada manusia yang bisa membuat replika batu tersebut. Para ahli geologi dari seluruh dunia telah meneliti batuan tersebut, dan merupakan hal yang bodoh jika membuat batuan palsu untuk menipu semua peneliti di dunia. Para ahli tersebut bukan orang bodoh yang bisa ditipu begitu saja.”

“Oh mengenai hal itu, aku punya pendapat yang berbeda,” ucap Profesor Rushell yang baru saja selesai mencicipi winenya kembali. “Bagaimana jika batuan bulan itu dibawa ke Bumi dengan menggunakan robot? Walaupun sistem komputer baru berkembang sangat awal di era akhir 60-an dan digunakan untuk robot, tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi karena teknologi robot juga sangat memungkinkan pada saat itu. Sebagaimana pengiriman wahana tak berawak ke planet lain dengan menggunakan robot seperti Mars atau Titan di Saturnus. Pengiriman robot ke bulan jauh lebih murah dan lebih mudah secara teknis dibandingkan dengan pengiriman manusia.”

“Ya, semua itu memang mungkin saja terjadi. Tak ada yang tahu,” kembali Albert Armstrong menyamakan pendapat. “Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah seandainya pendaratan di bulan tersebut memang benar palsu, apakah NASA begitu cerobohnya sehingga meninggalkan banyak bukti untuk diungkapkan? Jika bayangan yang muncul di foto memang salah, mengapa tidak satupun personel NASA yang pertama kali menyadarinya?”

Albert mengambil gelas winenya, menggoyang-goyangkan gelas tersebut membuat wine yang ada di dalamnya membentuk sebuah pusaran sebelum akhirnya diminum dengan perlahan-lahan. Tegukannya itu seperti menikmati sari anggur terbaik yang pernah ada. Ketika gelas itu diletakkan kembali ke meja, ia berkata, “Memang benar Amerika Serikat sebagai negara adikuasa bisa melakukan apapun untuk menjadi yang terdepan, namun bukan berarti persepsi seperti ini membuat kita menutup mata terhadap keberhasilan yang telah diraih oleh dunia sains dan teknologi.”

Profesor Rushell terdiam lalu tersenyum. Di kepalanya penjelasan Albert bersinar layaknya bintang gemintang. Hebat... hebat sekali, ujarnya dalam hati. Dia bisa menjelaskan semua kontra itu dengan sangat masuk akal. Sayang sekali jika anak ini tidak memperdalam ilmu astronomi. Dia sangat berbakat sekali. Bakatnya alami. Nantinya, dia akan menjadi salah satu jenius dalam bidang tersebut. Itu pasti!
Kini bulan sudah semakin meninggi dan suara penghuni hutan tak lagi banyak terdengar. Hanya suara jangkrik dan suara hembusan angin yang menerpa ranting-ranting pohon yang masih setia menjadi bagian dari pertunjukan opera pada malam itu. Di langit, cahaya bulan yang tinggal separuh seolah-olah mengucapkan selamat malam kepada semua penghuni Bumi—kepada seluruh manusia.

Minggu, 30 November 2008

Kenangan Sam. (Sejarah Angin) - Finish

Penulis : Afandi M.
Gendre : Roman dan Kehidupan
Lain-lain : Berseri (3)

KULIHAT tubuhnya yang lemah tak bergerak. Aku berlutut dan meraih kepalanya yang bersimbah darah dan kudekatkan ke dadaku. Walaupun begitu, ia masih terlihat cantik. Manis itu tak akan semudah itu luntur dari wajahnya. Secantik dewi khayangan. Tak ada yang bisa mengambil kecantikan itu darinya. Kupegang tangannya lalu kugoyangkan sedikit tubuhnya, seperti perahu yang terombang-ambing di lautan bergetar ke sana kemari.

“Kai!” panggilku penuh harapan.

Aku semakin panik saat menangkap detak jantungnya kian melemah.

“Kai, jangan pergi dulu,” kataku sambil terisak. “Masih banyak yang akan kita lakukan bersama-sama. Apakah kau masih ingat janjimu dulu? Katamu, kau ingin terus ada bersamaku dan tak mau terpisahkan. Kai, jangan pergi dulu... aku mohon... Kai... Kai... Kai...”

Tiba-tiba wanita itu membuka matanya sembari menyunggingkan senyuman. Mulutnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu. Kudekatkan telingaku ke bibirnya.


“Aku mencintaimu dan akan terus ada bersamamu, akan terus berada di dalam hatimu. Aku akan menjadi angin yang berhembus sebagai penunjang hidupmu. Kita akan tetap bersama, selamanya...” katanya dengan suara antara hidup dan mati. Seakan itu adalah sebuah salam perpisahan untukku. Air mata berjatuhan dan tak bisa terbendung lagi. Penglihatanku langsung kabur karenanya. Kugelengkan kepalaku berkali-kali seolah-olah aku tak mau pikiran itu terjadi. Dan memang aku tak mau begitu. Apa pun akan kulakukan demi dirinya. Apa pun itu.

“Tidak... itu tidak akan terjadi. Kau jangan berbicara seperti itu. Kau akan terus bersamaku, melewati hari-hari ini, lalu kau akan menjadi pendampingku untuk selamanya, sampai akhir hidupku. Kita tak akan terpisahkan. Tak akan... Kai!!!”

Di belakang, orang-orang bermunculan secara ajaib. Berbisik-bisik seolah-olah aku tak bisa mendengarkan ucapan mereka. “Kasihan sekali wanita itu,” ujar seseorang tepat di belakangku. “Apakah ia sudah mati?” kata yang lainnya.

Dasar manekin-manekin tak berguna, semprot hatiku. Mereka seakan tak peduli atas apa yang terjadi padaku. Enyahlah kalian semua. Biar aku yang menemaninya sendiri di sini. Pergi sana.

Detakan jantung Kai makin melemah dan hal itu yang membuatku berdoa kepada Tuhan. Kini dengan penuh ketulusan yang mendalam, dengan seluruh kekuatan jiwa dan raga.

“Tuhan Maha Pengasih, Penyayang, dan Pemberi nikmat. Tuhan... berikan kami satu jam saja... satu jam saja... itu sudah cukup bagiku. Aku masih ingin mendengar detak jantung atau hembusan napasnya. Aku masih ingin melihat siluet senyumannya.”
Tapi dada Kai sudah sunyi, sesunyi senja dan ratusan orang yang membisu beku. Hanya senyuman di wajah Kai yang menandakan bahwa kematiannya itu tak sia-sia. Bahwa ia tak mengeluh atau protes atas kejadian itu. Ia tulus menerima takdirnya itu.

Suara sirine ambulance terdengar dari kejauhan.

“Terlambat... sudah terlambat...” kataku pelan sekali sampai-sampai telingaku saja seakan tak bisa mendengarnya. “Dia sudah pergi bersama angin. Dia telah menjadi bagian dari angin dan akan terus berhembus selamanya.”

Selamat tinggal, sayang. Kuijinkan engkau menjadi angin. Angin yang akan selalu ada bersamaku, berhembus di sampingku, dan mengisi kekosongan jiwaku.


***


Kusimpan kembali semua keping kenangan-kenangan itu. Kukunci dalam sebuah kotak di hatiku. Kugembok dengan gembok bersepuh emas lalu kuncinya kubuang ke dasar jurang yang paling dalam. Aku yakin tak ada yang bisa menemukannya. Tidak akan ada yang bisa.
Setelah puas menyaksikan riak gelombang sungai dan sebagian penghuninya, aku berbalik dan memperhatikan mobil yang lalu lalang satu persatu. Kupehatikan plat nomor, body, pengemudi, ban hingga kilauan peleknya yang memantul diterpa sinar matahari. Pokoknya tak ada yang luput dari pengamatanku. Setelah beberapa saat kemudian, kakiku melangkah sendiri jauh dari kesadaranku yang dikontrol oleh otak. Suara mesin mobil yang menderu makin terdengar. Kencang sekali seakan membuat gendang telingaku hancur lalu pecah, setelahnya mengeluarkan darah dan juga nanah. Walaupun begitu, kakiku tetap melangkah. Terus dan terus. Seperti tak akan pernah berhenti. Kulangkahi pembatas jalan. Tak lupa aku menengok ke dua arah berbeda.

“Bagus. Pas sekali,” kataku pelan. “Seperti yang telah aku rencanakan sebelumnya.”
Samar kudengar suara klakson mobil menderu dari kejauhan dan semakin dekat untuk detik-detik berikutnya. Aku tak peduli. Toh, aku tidak takut. Aku tidak takut mati. Tak ada yang kutakuti sekarang. Semuanya sama, tak ada bedanya. Tanpa Kai menemaniku, hidup tak ada lagi artinya. Sinar terik matahari sekali lagi menyinari wajahku. Hangat langsung merasuk ke sekujur tubuhku. Kini yang terdengar adalah suara klakson mobil diikuti teriakan dari pengemudi serta suara mesin mobilnya. Sedetik kemudian decitannya lalu terdengar. Tapi tetap saja. Walau pedal rem telah diinjak dan gas diturunkan, tetap saja kecepatan mobil itu tak berkurang. Benda bermesin itu pasti akan tetap menabrakku.

“Semuanya akan berakhir di sini. Tunggu aku, Kai. Aku akan segera berada di sampingmu di sana,” bisikku pada angin.

Kubayangkan tubuhku nantinya. Akan sedikit sakit tapi pasti akan kutahan demi dirinya, demi Kai. Tubuhku yang tak besar ini pasti melayang dan sesudahnya kalau tak menghantam kaca mobil, paling mati menghantam daratan aspal. Yah, langsung mati seketika. Itu yang aku mau.

“Criiittt... Blaaarrr...” Suara mobil menghantam sesuatu.

Bukan aku yang dihantam mobil itu. Beberapa detik sebelum benda itu akan menabrakku, seakan-akan ada hembusan angin yang menarikku ke belakang. Kencang sekali bagai tiupan puting beliung atau topan yang bersatu dengan badai, hingga menyebabkan tubuhku terhempas jauh. Aku mencoba bangkit. Lutut dan sebelah sikuku berdarah namun tidak parah. Hanya luka lecet kecil, bisa kutahan. Beberapa hari tanpa pengobatan yang intensif pun pasti akan sembuh.

Sepasang mataku lalu menelusuri jejak ban yang tertinggal di jalan raya di depanku. Jejak hitam itu berbelok dan si pembuat jejaknya ternyata menghantam sebuah pohon di sudut berlawanan. Asap mengepul dari tempat mesinnya, berwarna kelabu muda. Pengemudinya tak bergerak. Mungkin hanya pingsan akibat terbentur stir atau dasbor mobilnya. Dari gumpalan asap tadi, bisa kulihat jelas ada sosok terbentuk. Begitu sangat kukenal. Sedikit demi sedikit angin kian memperjelas bentuknya dan angin pula yang membuat guratan-guratan indah pada sosok tersebut. Berikutnya, selesai walau tak sesempurna aslinya.

“K... Kai,” kataku lemah. “Ka... kaukah itu?”

Guratan indah yang membentuk bibirnya mengurai senyuman. Suaranya yang dibawa angin mampir di telingaku. “Jangan bertindak bodoh, Sam. Jangan mengakhiri hidupmu seperti itu.”

“Ta... tapi... aku tak bisa hidup tanpa kau di sisiku, Kai,” jelasku. Mataku tiba-tiba berkaca-kaca, berat, dan akhirnya melelehlah semua kerinduanku menjadi air mata kebahagiaan yang tak kuasa kubendung lagi. Seperti semburat adrenalin yang melaju kencang tanpa henti di setiap aliran darahku sejak tadi begitu kencangnya membuat tubuhku bergetar.

“Sadarlah, Sam,” sosok itu kembali bersuara. “Bukankah sudah aku katakan padamu sebelumnya, walau aku tak ada lagi di dunia ini tapi jiwaku akan terus bersamamu. Akan terus ada. Aku akan menjadi angin yang terus berhembus di sampingmu, turut mengisi rongga napasmu.”

Kucoba tahan tangisku. Lagi, lagi, dan lagi. Tetap saja tak bisa, seolah-olah tangis itu adalah suatu keharusan yang harus dilakukan saat ini juga. Seperti tahap-tahap pada sebuah ritual yang begitu sakral, berbalut hawa mistis yang melekat pekat.
“Aku ingin bersamamu, Kai,” ucapku lembut. Kini aku sudah berhasil menahan gelora yang membara dalam tubuhku.

“Aku sudah bersamamu, Sam,” ujar sosok cepat.

Aku menggeleng sambil berusaha tersenyum. Sebelah batinku ikut campur. Sepertinya ia juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Tidak... kau tidak ada bersamaku. Itu tak sebanding jika kau benar-benar hadir di sisiku setiap hari.

“Sam!” sosok menyerupai Kai itu memanggil. “Aku meninggal dengan bahagia. Tak ada yang perlu disesali dan ditangisi lagi. Semua sudah sesuai dengan takdirku. Sebaliknya, aku sangat senang bisa menikmati semasa hidupku bersamamu. Menjalani hari-hari penuh kenangan dan kebahagiaan. Dan terlebih lagi, kaubuat setiap hari itu menjadi berwarna. Kau adalah lelaki anginku, Samuel.”

Sosok itu tersenyum lagi sambil diakhiri dengan letupan kecil hingga gumpalan asap itu kian lama kian menghilang. Seperti tersapu oleh angin dan bersatu menjadi salah satu bagiannya, penunjang kehidupan manusia. Sosok Kai menghilang, menciptakan keheningan yang tidak biasa, begitu senyap.

Tak tahu mengapa, kata-katanya tadi seakan bisa menyembuhkan luka sayatan di hatiku yang telah lama menganga. Penghilang dahaga akan cinta dan kasih sayang yang dulu terabaikan. Mengusir segala kebencian lalu menggantinya dengan keceriaan dan kehangatan batin. Ia benar-benar bidadariku.

“Kuijinkan engkau menjadi angin. Angin yang akan selalu bersamaku,” kataku sambil menengadah ke langit. “Ini adalah kenanganku. Kenangan yang membentuk sejarah anginku. Kau akan selalu bersamaku, Kai. Dan satu hal yang lebih penting bagiku. Jauh lebih penting dari semua. Jejak langkah yang kau tinggalkan, benar-benar mendewasakan hatiku dan sejujurnya tak akan pernah hilang dari setiap tapakku.”