Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bebas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Kujadikan Diriku Buruk



Sekarang dia menganggapku seperti hantu yang mengganggu dan meneror hari-harinya. Dia menganggapku lumpur yang mengganggu perjalanannya. Dia melihatku seperti sinar matahari yang menyengat kulitnya. Kurasa, dia membenciku dengan semua perasaan yang dia punya. Dia menganggapku sebagai mimpi buruk yang harus cepat dilupakan.

Sayangnya, aku memang menaruh diriku pada kondisi seperti itu. Aku menginginkan dia membenciku. Aku ingin dia menganggapku sebagai pengganggu. Aku memang ingin dia melupakanku. Karena dengan melupakanku entah mengapa aku kian mencintainya. Entah mengapa aku selalu memikirkan dia. 

Aku ingin menjadi mimpi buruk yang melindunginya. Aku ingin menjadi hantu yang tetap berada di dekatnya. Mengusir hantu lain yang ingin mengotorinya. Aku ingin menjadi lumpur di tengah-tengah perjalanannya, agar dia merasa bahwa masih ada yang masih kotor dan buruk daripada dia. Aku ingin jadi sengatan panas matahari yang ingin menguapkan masalah yang ada di pikirannya.

Aku ingin menjadi yang buruk dan jelek di matanya, karena dengan begitu, aku akan terus mengingatnya.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Namamu Herina


satu terang, dua samar, tiga gelap
datang, datang wahai mimpi
saat aku terbujur sepi

Herina... Herina... Herina...
namamu kuucapkan tiga kali

kabulkan semua yang tak nyata
meski kau tak lagi di dunia.
pun di alam semesta. 

Kamis, 14 Januari 2010

Pahlawan Kebahagiaan

Penulis : Afandi M.
Gendre : Bebas


MALAM ini, di tengah kelengangan dan sayup-sayup denting tuts piano yang menenangkan pikiran dan menyejukkan batinku, aku terpikir tentang ibuku. Yah, memang, aku pernah terpikir tentang ibuku sebelumnya, tapi kali ini berbeda. Kurasakan kalau sosoknya yang bagaikan Dewi Pemberi Rahmat itu seolah menjauh dariku. Tak bisa kudekap dan bermanja-manja lagi seperti dulu. Entah perasaan apa yang kurasakan kali ini, tetapi yang kuyakini adalah, ini bukan sekadar perasaan rindu yang biasa dan tak bisa tergambarkan.

Perasaan ini jauh lebih rumit dari itu. Jauh lebih sulit ketimbang menghitung bintang yang bertebaran di cakrawala. Ingin sekali saja, sekali lagi dalam hidupku, bisa mencium kakinya. Merasakan kehangatan surga yang begitu dekat. Merasakan kebahagiaan yang begitu lekat. Sepasang kaki itu, kaki yang tua dan berpenyakitan. Kaki yang telah menunjukkan tulusnya pengorbanan, kaki yang terang-terangan menunjukkan besarnya harapan, kaki yang tahan banting, dan sepasang kaki yang menjalani kerasnya kehidupan. Dialah pahlawan kebahagiaan. Dialah sosok yang tak bisa dinilai dengan uang.



***


Ah, aku begitu egois, dan entah merasa malu menunjukkan betapa aku menyayangi ibu. Aku tak mau nantinya dicap sebagai anak manja, cengeng, dan lemah jika teman-temanku mengetahuinya. Aku tak mau mencium kaki ibu. Tak mau menunjukkan kasih sayangku padanya. Memang, katakanlah aku anak yang keras kepala dan tak tahu caranya berterima kasih. Semua itu benar, tak salah sedikit pun. Aku memang bodoh, tolol, anak durhaka. Saat itu, aku hanya terpikir bahwa ibu akan selalu ada di sampingku hingga aku menutup mata. Dia akan selalu menemaniku. Dia tak boleh mati. Dia harus selalu melayaniku; membuatkanku sarapan, mencucikan bajuku, membersihkan kotoranku, mengurus keperluan sekolahku, menjemputku dengan payung di sekolah sewaktu hujan, dan membuat hal remeh-temehku terselesaikan. Pokoknya dia harus selalu ada saat kubutuhkan. Dia boleh menua tapi tidak boleh mati. Boleh tenaganya berkurang tapi harus tetap ada di sampingku.


Ya ampun, apa yang aku lakukan kepada ibu? Aku memang anak yang tak tahu balas budi. Aku memang anak biadab, penghuni neraka. Pantaslah, kutuklah aku wahai ibu. Hukumlah aku. Hukum aku seberat-beratnya.


Tetapi kuyakini, kebaikan ibu takkan bisa terukur. Bayangkan saja, hatinya melebihi kelembutan sutra, melebihi kesejukan udara setelah hujan reda, menenangkan ketimbang suara ombak di tepi pantai. Ibu tak akan melakukan itu. Ibuku baik. Dia wanita yang terbaik. Sosoknya… ah, tak ada lagi kata di alam semesta ini yang bisa menggambarkan kesucian dan kemurnian hatinya. Dia hanya akan tersenyum menanggapi semua permintaanku, menanggapi semua hinaanku, mendengarkan semua amarahku. Dia akan menyembunyikan tetes air matanya untuknya sendiri. Selalu mengatakan ‘ya’ untuk setiap mauku. Selalu mengatakan ‘baik’ untuk apa pun yang kubutuhkan. Selalu memaafkan atas segala kesalahanku. Sempurnanya kau wahai ibu.


Ibu, mengapa engkau bisa begitu baik hati kepadaku? Mengapa tak ada sedikit pun air mata yang kau tunjukkan padaku? Mengapa engkau begitu sabarnya menghadapi tingkahku? Mengapa engkau tersenyum saat aku memarahimu? Mengapa engkau menerima saat aku mendzalimi-mu? Mengapa… mengapa… mengapa ibu?


Kumohon ibu, hukumlah aku sekali saja. Marahi aku sedetik saja. Hina aku semaumu. Benci aku. Pukul aku. Cubiti seluruh tubuhku. Hujat aku. Jika perlu, cambuk dan iris-iris kulitku. Pisahkan tulang dan ototku. Buat aku sehina mungkin. Buat aku merasakan kemarahanmu yang sesungguhnya. Balaslah semua kejahatan yang kuperbuat padamu. Aku rela ibu. Aku ikhlas menerima itu semua untuk membayar kesalahanku padamu. Lakukanlah semua itu agar aku tak kehilangan dirimu. Agar beban di hatimu tak menghimpit kesehatanmu.


Tapi kenapa, ibu? Kenapa kau tak melakukan semua kejahatan itu padaku? Mengapa kau tak membalasku? Mengapa engkau malah makin menyayangiku? Mengapa engkau tambah mencintaiku? Apakah ada yang salah dengan otakmu? Apakah ada kekeliruan yang dibuat Tuhan sewaktu menciptakanmu?


Ibu, sejujurnya, aku takut, sangat takut, setengah mati merasa takut jika nanti kehilangan dirimu. Apa dayaku menghadapi kehidupan ini tanpamu? Tanpa kasih sayangmu? Tanpa senyuman dan belaian hangatmu? Tanpa kau di dunia ini, seberapa kuat diriku bisa bertahan?


***


Air mata menetes di pipiku. Semua dosa yang kuperbuat padanya, berbayang di pikiranku. Ingin aku menangis sekeras-kerasnya, memohon sejadi-jadinya, agar ibu ada di sini dan bisa mencium kakinya. Bisa memeluk tubuhnya yang ringkih. Bisa melihat sekali lagi senyumannya. Bisa mengelusi rambut putihnya. Bisa mengusap dahinya yang berkerut.Bisa mengucapkan maafku padanya. Menuturkan sayangku sejujurnya. 


Tanpa pikir panjang lagi, aku mengambil ponselku. Dengan cepat jemariku menekan angka-angka yang sudah kuhapal mati. Suara dering telepon berbunyi. Sangat lama…


Sedetik… dua detik… tiga detik… empat detik… lima detik… dan akhirnya…


Suara seorang wanita mengucapkan sesuatu, 


“Maaf telepon yang Anda tuju sedang sibuk atau sedang berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi…”


Aku menangis sekeras-kerasnya. Aku berontak sejadi-jadinya. Teringat kembali, bahwa ibu sudah tidak ada lagi. Tidak hidup lagi di dunia ini. Aku sendiri yang memandikan jenazahnya. Aku sendiri yang mengantar jasadnya ke liang kuburnya. Aku sendiri yang menyirami pusaranya. Aku sendiri yang menaburkan bunga untuknya.


Ibu, aku merindukanmu…

Kehancuran Kaumku

Penulis : Afandi M.
Gendre : Bebas


SAYA dianggap amoeba, diumpamakan parasit yang hidup di atas lahan yang punya sertifikat kuasa. Saya disamakan hama tatkala manusia ditempatkan bersama saya. Jujur saja, saya telah menetap lama di tempat ini. Turun-temurun keluarga saya tak berkesudahan, benarak pinak di tanah ini. Tawa bahagia, canda, mimpi, harapan, tangis, dan kesedihan telah tumpah ruah di daratan ini.

Dan sekarang, ketika mereka mengikutsertakan mesin-mesin penyebab kehancuran itu dan membabat sedikit demi sedikit jenis saya, tanpa ampun, tanpa belas kasihan--tangis itu makin menjadi-jadi. Tak ada lagi harapan, tawa, mimpi, dan canda. Tak ada lagi gunanya berdoa. Tak ada lagi gunanya menyembah dan memohon. Saya sudah melakukan ritual itu, mencoba semuanya, apa saja, tapi lihatlah hasilnya--bencana. Keporak-porandaan terhampar di hadapan saya. Suatu bangsa pecinta kedamaian hancur, digilas oleh kebiadaban. Dan kini, yang menunggu saya dan semua jenis saya hanyalah kegelapan. Sadarkah manusia-manusia itu kalau sesungguhnya, merekalah yang menjadi hama di dunia ini? Merekalah makhluk penghisap darah, teror, dan kehancuran itu sendiri.

Apakah manusia-manusia itu terlanjur pikun, hingga tak menyadari apa yang telah mereka lakukan. Apa yang telah mereka perbuat hanya demi kesejahteraan dunia?

Mana kuasa-Mu Tuhan! Perlihatkan! Tunjukkan! Aku mohon, jangan cuma membisu di singgasanamu sementara kami di sini berusaha, berjuang untuk hidup. Mana tanggung jawabmu?

Tolong, tolonglah, tunjukkan sedikit tanda bahwa Engkau memang benar-benar ada. Perlihatkan bahwa Engkau peduli dengan penderitaan kami. Peduli atas semua kehancuran yang diperbuat manusia.

Senin, 19 Oktober 2009

Perjuangan: The Power of My Love

Penulis : Afandi M.
Gendre : True Love Story


Ini yang sesungguhnya, inilah cinta:

AKHIRNYA hari yang kutunggu-tunggu selama hampir enam bulan, tujuh hari, dan sembilan jam ini datang juga. Jika boleh dikatakan, inilah hari yang teristimewa dan paling berharga dalam hidupku sampai saat ini. Hari yang selama ini membuatku bisa bertahan dan mungkin, tidak bisa tergantikan oleh apa pun nantinya. Hari yang membuatku melangkahkan kaki, berangkat dari Bandung ke Makassar untuk menemui pujaanku—tujuan dan sumber utamaku. Yah, selama ini aku sering kali dibalut oleh duka dan kesendirian yang membosankan lagi memuakkan. Seolah-olah hidupku di dunia ini adalah sebuah kesalahan, semacam salah analisa dan salah prediksi antara Tuhan dan kedua orangtuaku.


Tetapi setelah lama kekacauan perasaan itu bersemayam dalam tubuhku, berpelukan dengan jiwaku, menutup rapat-rapat kesenangan dari dunia luar, tidak mengindahkan apa pun bentuk keceriaan di sekitarku, kini tiba saatnya semua itu menguap, menjadi buih-buih mikroskopik yang dimakan udara dan sinar. Entah sejak kapan bahagia ini menggumpal-gumpal untuk pertama kalinya. Tidak bisa kuketahui tepat kedatangannya. Ah, yang jelas dan bisa kuungkapkan saat ini, aku sangat-sangat bahagia. Kehidupanku telah terbalik dua ratus tujuh puluh derajat.

Pernah sekali waktu, aku sempat meyakini bahwa hari ini tak akan datang menghampiriku setelah sekian lama, namun lihatlah sekarang, hari yang kutunggu ini semakin mendekat, membisik-bisikkan senyawa-senyawa kebahagiaan, dan sekaranglah waktunya. Rindu yang menggelayut dan menggebu-gebu dalam jiwaku, hasrat yang menggelora, serta ribuan perasaan yang bercampur aduk akan terlepaskan, terlampiaskan dengan berbagai bentuk tindakan yang kuyakini mungkin saja akan kulakukan.

Kulirik setiap detakan jarum jam yang menempel kuat di dinding rumahku. Setiap perpindahan waktunya kurasakan membuat tubuhku bergetar penuh kebahagiaan. Rasanya merebak, bagaikan aroma magis telah memabukkan akal sehatku. Ah, inikah rasanya jika ingin bertemu dengan orang terkasih? Beginikah rasanya jatuh cinta, yang sebenarnya? Sulit sekali mendeskripsikan tiap waktu yang kujelajahi bersama ketiga kesatria waktu itu. Seumpama sukma telah meninggalkan raga, kegirangan, bercakap-cakap dengan mereka tentang pentingnya cinta ada di dunia. Tentang berharganya cinta bagi tiap manusia. Sesekali kukatakan kepada mereka, agar mempercepat peralihannya, mempercepat langkahnya, membuat mereka menunjukkan tepat ke angka yang kuharapkan.

“Tolong, percepat langkah kalian. Aku mohon. Buat telunjuk terkecil kalian itu merangkak dan mengarah ke angka 13.00 siang ini,” kataku dalam hati, memelas sejadi-jadinya. “Cepatlah! Ayo, aku mohon pada kalian bertiga.”

Waktu kian mendekat, dan tanpa terduga mengubahku menjadi pribadi yang berbeda dari biasanya. Ini bukan aku. Mana mungkin aku membuat perubahan dengan begitu cepat dalam diriku. Hei ingat, aku ini bukan tipe pria yang menyukai dandan berjam-jam selayaknya wanita di depan cermin. Menyemprotkan parfum ke seluruh baju dan celanaku, dan bahkan semenit sebelumnya, dengan parfum yang sama pula, benda tanda feminisme itu kusemprotkan di tubuhku. Tak lupa pula, handbody kuusapkan ke kedua penjuru lenganku. Aku seakan-akan tidak bisa mengingat, bahwa dahulunya aku ini pribadi yang cuek. Tapi entah mengapa, untuk kali ini, kali ini saja, untuk saat-saat yang menggembirakan ini, aku menginginkan menjadi sesuatu bagi dirinya. Minimal menjadi seorang pria yang begitu diidamkan para wanita, terkhusus untuknya. Menjadi pria yang peduli akan penampilannya. Minimal, aku menjadikan diriku layak berjalan bergandengan tangan dengannya di muka umum. Bersanding bersamanya melangkahi jalur-jalur kebahagiaan. Aku tidak mau mempermalukan dirinya sebagai wanita yang anggun dan memesona. Memiliki daya pikat di atas rata-rata. Yah, aku tahu, usia terkadang menjadi sedikit penghalang di antara kami. Sebagaimana usiaku memang terpaut jauh darinya, tetapi aku terkagum-kagum dengannya, sungguh sangat gembira sekali. Baginya, perbadingan usia yang cukup jauh membentang tidak semestinya menjadi penghalang. Dia menerimaku apa adanya. Sekali lagi, dia memberikanku pengetahuan tentang apa itu cinta yang sebenarnya. Dia memberiku sebuah chemistry tersendiri—mengasikkan dan kadang kala menggairahkan. Membuatku tampak berharga. Sama seperti yang dia katakan berkali-kali kepadaku. Seakan-akan kata-kata itu terus terpatri, menjadi candu yang memabukkan dengan tingkat intensitas kenikmatan yang begitu besar. Usia pula tidak menghalangi perasaan kami berkembang sedemikian pesat hingga sekarang. Cinta kami ini tak berjarak, lengang oleh kapasitas, tanpa ujung, dan tanpa perbandingan berat serta skala pembesaran.

Aku terkadang merasa aneh dengan pasangan-pasangan yang lain. Sambil menangis, wanita atau prianya akan berkata dalam tiap isakannya, “Aku telah menderita oleh cinta yang sia-sia.” Menurutku, ucapan mereka itu salah seratus persen. Sebenarnya, cinta tidak bersalah dalam masalah ini. Perasaan itu tidak boleh disalahkan karena kitalah yang menciptakan perasaan tersebut. Cinta memang yang membangun sebuah kebahagiaan, namun cinta bukanlah yang memberikan kesedihan. Wanita atau pria itu menderita karena dia merasa telah memberikan cinta lebih daripada yang dia terima dari pasangannya. Dia merasa karena cintanya telah bertepuk sebelah tangan. Dia menderita karena dia tidak dapat memaksakan aturan-aturannya sendiri kepada pasangannya. Berbeda dengan cinta kami. Cinta kami ini tidak ada takarannya.

Telah tiba saatnya, jarum jam semakin mendekati angka tujuanku. Telah kuperkirakan sebelumnya, jarak tempuh antara rumahku dan tempat pertemuan kami serta kecepatan rata-rata sebuah angkutan umum, hasilnya adalah lima belas menit. Itupun telah kuhitung-hitung dengan menggunakan rumus fisika untuk menghitung waktu di mana bisa kudeskripsikan yaitu jarak antara rumaku dan tempat pertemuan kami dibagi dengan kecepatan rata-rata angkutan umum. Cinta membuat seseorang lebih peka akan sesuatu. Bagiku, cinta membawa pencerahan ke dalam otakku. Setelah berpamitan, aku melangkahkan kaki menuju tempatku menunggu angkutan umum. Hingga detik ini, semuanya berjalan lancar. Perasaanku semakin menggebu-gebu. Tidak kuperlukan waktu banyak untuk menunggu angkutan umum jurusan BTP—Sentral berhenti di depanku. Siang itu, mungkin karena teriknya sinar matahari, hanya sedikit penumpang di dalamnya. Aku memilih duduk di depan, dekat supir. Kulakukan agar penampilanku tetap terjaga kerapihannya. Angkutan umum berjalan dengan perlahan, dan dengan itu pula hembusan angin seolah menggodaku, membelai wajahku dengan tangan-tangan lembutnya. Jarak demi jarak terlewati, namun getar-getar cinta ini membuatku melupakan setiap tempat di mana angkutan umum itu berhenti.

Tiba-tiba, ini di luar perkiraanku. Semuanya tidak sesuai dengan hasil komputasi otakku. Formula fisika itu ternyata tidak bisa diterapkan dalam kondisiku, sebab ada hal lain yang mempengaruhi hasil dari waktu perjalananku. Faktor penting itu adalah angkutan umum setidaknya memerlukan beberapa kali waktu untuk berhenti mencari penumpang, mengisi tempat duduk yang kosong. Dan hal ini benar-benar membuatku jengkel. Kenapa gangguan seperti ini bisa terjadi? Aku telambat. Ya, pasti aku terlambat sampai di sana sebelum dia tiba. Dan benar saja, ponselku berbunyi, bergetar di dalam kantong celana jeansku. Aku membuka sms, merasa was-was kalau-kalau dia merasa tersinggung, mengira aku mengingkari janji bertemu. Kubalas smsnya dengan singkat dan jelas, menekankan bahwa aku sedang dalam perjalanan ke tempat bertemu kami.

Beberapa menit kemudian, angkutan umum itu berhenti. Aku membuka pintu mobil, mengeluarkan sejumlah uang dari saku jeansku, dan langsung membayar. Dan inilah tempatnya. Sebuah bangunan besar berdiri di depanku. Makassar Town Square tertulis besar dan rapih bak papan reklame di dindingnya. Kurasakan jantungku makin berpacu, adrenalin menyembur-nyembur memberikan keberanian untukku.

Untuk kesekian kalinya, kutetapkan dalam hati. Inilah waktunya. Inilah yang kutunggu-tunggu selama ini—enam bulan, tujuh hari, dan sembilan jam. Sekaranglah saatnya.

Sembari melangkah masuk ke dalam Mall, aku menghubunginya. Menanyakan di mana dia menungguku sekarang. Ah, aku gagal memberikan kesan pertama yang baik untuknya. Semua ini murni kesalahanku, tak bermaksud menyalahkan siapa pun atas bencana ini. Dari balik ponsel, suara lembutnya berkata, bahwa saat ini dia sedang menunggu di sebuah toko buku di dalam Mall. “Aku lagi liat-liat buku,” lanjut dia menjelaskan. Jujur kukatakan, aku semakin terbius oleh kelembutan suaranya. Dan yang tak terbayangkan, aku akan menemuinya. Hari ini juga, gadis idamanku akan menampakkan wujud cantiknya. Keluar dari kepompong jarak yang membentang di antara aku dan dirinya. Keanggunannya yang menggelora, akan terus kusimpan dalam bilik memori indah yang pernah terjadi dalam hidupku. Kunaiki eskalator, dan jantungku tak dapat menahan kuasa, makin mendetak cepat. Seluruh adrenalin kini berlabuh di otakku. Menggulung-gulung ombak memori dari tengah samudra cintaku menuju neuron kerinduan yang menggelegak dalam jiwaku. Kucari-cari toko buku yang dimaksud, mengarahkan sepasang mataku ini ke papan nama toko selayaknya orang yang tersesat akan cintanya.

Toko buku itu kini ada di hadapanku. Aku berhenti sebentar, mengatur napas yang makin berantakan, dan beberapa detik kemudian, perlahan-lahan kulanjutkan kembali langkahku. Jantungku tak lagi berdetak cepat, malahan organ pemompa darah itu mau segera melompat keluar dari tubuhku. Tidak sabaran ingin mencari sosok gadis yang membuatnya tak menentu selama enam bulan, tujuh hari, dan sembilan jam terhitung hingga saat ini. Kurasakan kengiluan dalam perutku. Gejala-gejala ini tentunya baru pertama kali menjangkitiku. Obat penyembuhnya tidak bisa kutemukan di apotek manapun. Bahkan dokter-dokter biasa tidak akan bisa mengobati penyakitku ini. Nah, di sanalah, tepat di depanku dia berdiri. Dia sedang berjalan membelakangiku, tampak mencari-cari satu judul buku yang dinamakan cinta. Aku kenal betul sosoknya, dari foto-foto yang terkadang dia kirimkan kepadaku via email.

Aku tersenyum sendiri. Tubuhku gemetar saking senangnya. Untuk pertama kalinya, kudekati sosok gadis impianku ini—seorang wanita sempurna di mataku. Wanita yang telah membersihkan kerak kesendirian yang berjejalan dalam hatiku. Aku mendekatinya, perlahan, perlahan, dan semakin perlahan, seumpama ingin membuat kejutan kedatangan yang tak terlupakan. Tanpa kusadari, dia menghentikan langkahnya, berbalik dan menatapku tepat ke dalam hatiku. Aku tak menyangka dia langsung mengenaliku. Seakan-akan aura kerinduan yang menguar dari diriku telah memberitahunya bahwa aku sedang berada di belakangnya, mengamati sosoknya. Gadisku tersenyum, matanya berkaca-kaca bahagia. Dia lalu merentangkan kedua tangannya, berniat memelukku. Sesaat kemudian, baru kurasakan tubuhnya mendekapku. Begitu erat. Bak kerinduan yang sekian lama dengan sabar menanti itu, meluapkan segala bentuk kebahagiaannya. Kali ini, aroma tubuhnya kuserap dalam-dalam. Memancarkan berbagai versi kehangatan, kebahagiaan, tawa, kerinduan, cinta, dan pengharapan. Aroma tubuhnya tak akan mungkin hilang dalam hidupku. Tanpa peduli apa kata orang, dia tetap memelukku hingga akhirnya aku bersuara.

“Sudah lama nunggunya?”

Dia hanya mengangguk perlahan. Bulu mata lentiknya seolah melengkapi kecantikannya yang tak mungkin terkalahkan. Parasnya tak terlukiskan. Seumpama keseluruhan fisiknya telah menjadi kriteria bagi setiap lelaki yang sedang mencari-cari cinta. Kuyakini satu hal, dewi-dewi Yunani akan sangat iri tatkala gadisku ini menampakkan wujudnya di istana mereka, bahkan para dewanya sanggup dibuat bertekuk lutut dengan paras dan keanggunan yang dia miliki. Zeus akan rela turun dari tahta dan memilih menjadi manusia untuk mendapatkan cintanya.

Kami keluar dari toko buku. Kugenggam tangannya agar tidak jauh dariku. Perasaan ini bagaikan mimpi yang sangat indah. Dan jika ini memang mimpi, tolong—aku mohon jangan bangunkan aku. Aku tak mau begitu saja menikmati mimpi ini setengah jalan. Aku ingin mengulanginya terus dan terus, walau nyatanya hidup ini tak memerlukan keberadaanku untuk bisa berjalan seperti biasanya.

“Kita pergi ke sana yuk?” dia menyarankan sembari tersenyum, menunjuk sebuah tempat permainan yang ada di Mall itu. Aku tak sanggup berkata-kata, hanya membalas senyumannya dengan senyumanku. Di tempat itu, aku menukar sejumlah uang untuk membeli koin, dan dia tetap berada di sampingku. Kami mengamati sekeliling dan memilih sebuah bangku panjang untuk kami duduk. Suasana canggung mulai terasa. Aku mengerti, ini memang yang pertama untuknya. Dan wajar jika kecanggungan di antara kami ini tercipta. Tapi sesaat kemudian, dia berbicara banyak denganku. Mengatakan apa pun tentangnya; bagaimana dia bisa sampai ke Mall? Kapan dia berangkat? Berapa menit dia menunggu? Dan yang paling tak terlupakan bagiku adalah, saat itu secara tegas dan nyata di depanku, dia menyisipkan panggilan ‘Sayang’ pada akhir kalimatnya. Membuat dentingan irama piano-piano asmara menghambur di tengah kebisingan lagu anak-anak yang mengalun tak tentu di tempat itu.

Beberapa kali kami memasukkan koin di dalam kotak elektronik permainan basket, dan bersamanya, aku beradu untuk memasukkan bola terbanyak ke dalam ring. Semua yang kami lakukan waktu itu penuh dengan tawa riang dan kegembiraan, bahwa kami yang selama ini hanya bisa berkomunikasi melalui handphone telah membuktikan kepada semua orang yang sebelumnya pesimis akan hubungan kami ini, bahwa kami mampu bertahan dan menjaga cinta yang semakin berkembang dalam hati kami. Kami menjunjung tinggi arti kepercayaan dan kesetiaan. Meletakkan keduanya bersanding di atas singgasana bangunan permanen cinta kami.

Dua jam lebih sampai-sampai tidak terasa terlewati bersama dirinya. Bagaimana kami melewati waktu monoton bagi semua orang dengan suka cita. Bagaimana sikapnya saat menatap ke dalam mataku. Bagaimana ekspresinya saat membalas senyumanku. Bagaimana anggapannya tentang cinta kami. Dan masih banyak kata ‘bagaimana’ lagi yang bisa kuutarakan dalam kebersamaan kami itu. Yang kutahu, hari ini adalah hadiah yang paling terindah dalam hidupku, dan tentu pula untuknya.

Sebelum kami berpisah (kami telah merencanakan untuk bertemu empat hari yang akan datang), aku memberikan sebuah boneka untuknya. Aku harap boneka itu walau tak senilai dengan harga cinta kami, bisa mengisi sedikit kerinduan hari-harinya akan keberadaanku di sisinya. Aku—seseorang yang bukan apa-apa di mata orang lain, menjadi sesuatu yang tinggi di matanya. Menjadi bagian dirinya. Menjadi sesuatu penopang hidupnya. Membuatnya bisa bertahan. Untuk itulah, mengapa cintaku kepadanya tak akan pernah berakhir. Dan kuyakin, hingga akhir masa dan akhir dunia, cinta kami akan menjadi sesuatu yang selalu abadi sampai kapan pun.

Dialah yang membuatku berharga. Dialah yang membuatku bermakna. Dia pulalah yang mengajarkanku akan cinta yang sesungguhnya. Dialah Wieldy, kekasih yang ada dalam tiap hembusan napasku. Nama yang tetap kusebut dalam tiap doaku. Gadis yang akan selalu ada dalam tiap mimpiku. Hanya engkaulah wanita yang ada dalam hatiku. Hanya engkaulah labuhan di mana benakku bertumpu.

Tak bisa. Dan untuk terakhir kalinya memang nyatanya aku tak bisa, tak sanggup bernapas tanpamu.


Senin, 06 Juli 2009

Mirackle Jackson was His Name

MICHAEL JACKSON atau dikenal sebagai Jacko, namun orang biasa menyingkat namanya menjadi ‘MJ’, tapi aku menyebutnya sebagai Mirackle Jackson. Bagiku, dia adalah sebuah figure yang sangat membanggakan, tak lain untuk seluruh dunia. Mengapa kukatakan demikian, sebab dia adalah salah satu icon dunia yang sangat tulus menentang perbedaan, perusakan alam, penindasan, dan sangat-sangat menentang peperangan.

Sebagai seorang penyanyi, Michael Jackson, dengan sangat sempurna memberikan kesan peduli di tiap-tiap lirik lagu yang dia ciptakan. Aku tak habis pikir, dari mana dia mendapatkan kata-kata ajaib itu? Dari manakah munculnya syair yang bisa membuatku sampai meneteskan air mata? Apakah dia, sesuai namanya (Michael) merupakan seorang malaikat yang diturunkan ke Bumi untuk membuat umat manusia sadar atas apa yang telah mereka lakukan selama ini.

Banyangkan, hanya segelintir penyanyi saja yang melakukan hal demikian. Kebanyakan dari penyanyi yang kukenal (selain Michael Jackson tentu saja) hanya membungkus lagu-lagunya dengan lirik mengenai percintaan, atau kalau tidak tentang patah hati. Kalau bisa aku berkata jujur di sini, lagu-lagu seperti itu hanya menjadi racun bagi generasi-generasi muda. Bukankah yang kuketahui dari dulu kalau lagu adalah salah satu sarana untuk menyampaikan kepedulian? Menyampaikan cinta kepada sesama?


Aku tidak peduli mengenai semua permasalahan pribadinya. Aku hanya menganggap semua itu adalah omong kosong yang disampaikan semua orang atas dirinya. Ingin menjatuhkan dirinya. Tapi tetap saja, orang baik akan selalu mendapatkan satu tempat di hati setiap orang. Sampai sekarang yang paling banyak digunjingkan dan menjadi kontroversi orang adalah mengenai warna kulitnya yang semakin berubah dari tahun ke tahun. Menurut berita yang kudengar di televisi, dia menderita penyakit vertiligo, yang kalau tidak salah merupakan penyakit yang akan membuat seluruh kulit menjadi putih, pucat, berbeda dengan orang normal kebanyakan. Sekali lagi, aku tidak peduli semua itu. Yang jelas-jelas kuketahui tentangnya pada saat itu adalah bahwa Michael Jackson melewatkan masa kecilnya di tengah kondisi bangsa yang sangat mempermasalahkan perbedaan ras. Apalagi menurut kabar kalau Michael Jackson sangat membenci ayahnya karena dianggap telah mengeksploitasi dirinya sejak masa kanak-kanak secara habis-habisan. Coba bayangkan untuk yang kesekian kalinya, apakah seorang ayah yang seharusnya menjadi figure pemberi contoh untuk anak-anaknya, pantas melakukan hal tersebut?

Berjuta-juta dollar uangnya dikeluarkan untuk membantu sesama, dari mengeluarkan uang untuk membantu rakyat yang kelaparan di negara-negara miskin atau untuk hal lainnya yang baik untuk sesama. Tapi, sekali lagi sangat disayangkan, dia telah tiada. Dia masih akan dan selamanya akan menjadi panutan dalam hidupku. Dialah sosok orang yang pantas dibanggakan. Meskipun telah tiada, dia akan terus menjadi pondasi kuat bagi perdamaian dan seluruh hal baik yang dilakukan umat manusia. Istirahatlah dengan telang Mirackle Jackson. Semoga kau mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Amin...

Beberapa di antara banyak lagunya yang sangat amat mampu menggugah hatiku selama ini antara lain, yaitu:
1)One day in your life
2)Black or white
3)Heal the world
4)Stranger in Moskow
5)Earthsong
6)You are not alone
7)Will you be there

Sabtu, 21 Februari 2009

Misteri Mumi di Dunia


SEMUA ORANG pasti tahu mumi. Anak kecil sekalipun pasti bergidik dan menutup telinga kala mendengar nama itu disebutkan. Jelas sudah bahwa dalam film-film thriller sekelas Resident Evil besutan sutradara sekaligus produser Paul Anderson yang mempertontonkan mayat-mayat hidup sebagai pemeran utama yang berjalan oleng di perempatan jalan, berjingkat-jingkat di lorong-lorong nan gelap yang tak tersentuh cahaya matahari, menyeret-nyeret tubuhnya yang sudah terkoyak karena tertebas parang, membuat keberadaan mereka di dunia sering diidentikkan sebagai pembawa bencana, kegelapan, teror, wabah penyakit, dan lain-lain. Bahkan di Mesir sekalipun yang telah menjadi sejarah awal mula pembentukan, sang mumi dikenal sebagai pembawa kehancuran di dunia.

Di Mesir, tubuh raja yang telah mangkat, salah satu contohnya adalah raja Tuntankhamun, tidak serta merta dikubur di dalam tanah sebagaimana yang dilakukan dalam prosesi penguburan di Indonesia, ataupun dibakar di atas susunan tumpukan kayu seperti yang diyakini oleh kepercayaan umat Hindu. Pada zaman Mesir kuno, mayat raja akan diawetkan. Tindakan itu dikarenakan untuk menjaga bentuk awal tubuh tersebut hingga beratus-ratus tahun lamanya. Dan juga orang-orang mesir kuno percaya bahwa badan adalah tempat Ka—seseorang yang sangat penting dalam masa setelah hidup.


Rongga perut mayat yang akan dijadikan mumi akan dibuka dan isinya dikeluarkan: jantung, hati, paru-paru, dan usus dimasukkan dalam guci. Mereka percaya mumi membutuhkan organ itu pada kehidupan selanjutnya. Karena fungsi otak saat itu belum diketahui, organ terpenting tersebut dibuang dengan melubangi tengkorak lewat hidung. Mayat yang telah kosong itu akan dilapisi natron—sejenis mineral garam higroskopis untuk mempercepat proses dehidrasi sekaligus mencegah pembusukan. Selanjutnya, mayat dibungkus gulungan pita linen yang amat kuat untuk membantu mumifikasi. Setelah proses pembungkusan dan pembalsaman mumi itu telah selesai dilakukan lalu mumi tersebut akan dimasukkan ke dalam piramid, yang dimaksudkan agar mumi yang sudah dibalsam tersebut, terhindar dari proses dekoposisi oleh para mikroorganisme dekomposer, menjaga agar mumi tersebut kering, dingin karena ketiadaan oksigen.

Namun apakah ada riset ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuan untuk menguak misteri pengawetan mumi tersebut. Salah satu riset yang katanya menguak misteri itu telah dilakukan sebuah lembaga riset pertanian Amerika. Riset tersebut menggunakan beberapa ekor ayam sebagai kelinci percobaan. Ayam-ayam tersebut dimasukan ke dalam dua ruangan yang terkontaminasi bakteri pembusuk. Ruangan pertama diberi ion negatif sedangkan ruangan kedua tidak. Setelah menunggu beberapa waktu, riset pun menunjukkan hasilnya. Kondisi ayam di ruang yang diberi ion negatif tetap sehat. Sementara itu kondisi ayam di ruangan kedua telah menemui ajal.

Setelah diteliti lebih mendalam penyebab tidak matinya ayam di ruangan pertama ialah ion negatif. Ion negatif merupakan ion yang tidak stabil atau ion yang elektron bebasnya terlepas. Akibatnya, ion tersebut selalu mencari pasangan agar tetap stabil. Prinsip kestabilan ion inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat Mesir untuk mengawetkan mumi. Ruangan tempat mumi bersemayam ternyata penuh dengan ion negatif. Ion negatif yang mengisi peti mumi itu berikatan dengan bakteri yang berada di dalam ruangan maupun di dalam peti. Ikatan yang terbentuk membunuh sekaligus menghentikan aktivitas bakteri. Menakjubkan, ternyata pengetahuan kita masa kini telah dimiliki ribuan tahun lalu oleh masyarakat Mesir.

Kemudian baru-baru ini juga terkuak sebuah rahasia yang begitu mengesankan mengenai sebuah mumi yang terdapat di kota Palermo, Italia. Mayat Rosalia Lombardo, seorang anak perempuan Sisilia berusia dua tahun yang meninggal pada 1920, masih terlihat tetap segar. Mumi Rosalia ini dikenal dengan sebutan “Sleeping Beauty” disimpan aman dalam kotak kaca.



Dario Piombino-Mascali, seorang ahli antropologi biologi dari Institute for Mummies and the Iceman telah berhasil mengungkap rahasia racikan ramuan yang dipakai untuk mengawetkan mayat si gadis “Sleeping Beauty” itu. Dari catatan tangan yang dibuat oleh Alfredo Salafia—seorang taksidermis atau ahli pembuat awetan yang tewas tahun 1933, terungkap bahwa Salafia menyuntikkan zat-zat kimia ke tubuh Rosalia berupa formalin, alkohol, asam salisilat, gliserol, dan garam seng.

Kita tahu bahwa saat ini formalin adalah zat kimia yang paling umum digunakan untuk mengawetkan mayat. Campuran formalin dapat membunuh semua bakteri pembusuk daging. Sementara alkohol, di daerah yang kering digunakan untuk mempertahankan mayat agar tetap kering, awet terhadap perubahan suhu dan kelembaban. Gliserol, seperti minyak, akan mencegah tubuh terlalu kering, sedangkan asam salisilat mencegah tumbuhnya jamur yang tentunya akan menjadi organisme dekomposer. Namun kunci dari itu semua terletak pada garam seng. Menurut Melissa Johnsons Williams, Direktur Eksekutif American Society of Embalmers, seng tidak digunakan dalam proses pengawetan di AS. Dia mengatakan.

“Seng membuatnya kaku. Anda dapat mengangkatnya dari peti dan membiarkannya berdiri,” jelas Williams.

Di Cina, pengawetan mayat dilakukan dengan merendam peti mati dari kayu cemara yang dipadati dengan tumbuhan obat.

Pada pertengahan Mei tahun 2006, tim arkeologi mengumumkan penemuan mumi perempuan bertato dari peradaban Moche di Peru. Mumi yang diperkirakan berasal dari tahun 450 itu adalah mumi dengan kondisi terbaik yang pernah ditemukan karena kulitnya masih utuh untuk memamerkan tatonya. Ketika ditemukan, mumi perempuan elite Peru iti juga terbungkus dengan ratusan meter kain katun. Mumi yang dinamai Lady of Cao karena ditemukan di piramida Huaca Cao Viejo. Mumi tersebut diawetkan dengan menggunakan zat merkuri sulfida untuk memusnahkan mikroorganisme dan membantu pengawetan.

Di indonesia juga terdapat sebuah mumi yang konon telah berusia sekitar 400 tahun. Nama mumi itu adalah Mimindo Mabel, merupakan bekas kepala suku Mabel yang terletak di Kampung Sumpaima, Wamena—Papua. Arti nama Mimindo Mabel menurut suku Mabel tersebut adalah suka berperang. Banyak masyarakat Wamena yang mengatakan bahwa, jika orang dari luar Papua pergi ke Wamena tapi belum mampir ke Kampung Sumpaima, dianggap belum ke Wamena.

Pada intinya, untuk mengawetkan mayat menjadi mumi dibutuhkan tempat yang kering, dingin, sedikit oksigen, serta bantuan zat-zat kimia atau ramuan tertentu yang dapat menghidarkan tubuh tersebut dari proses terjadinya dekomposisi.

Jumat, 28 November 2008

SMS Idul Fitri

SETELAH 30 hari berjuang melawan hawa nafsu, kemudian ditutup oleh satu hari yang sangat dinantikan oleh semua umat Muslim di seluruh dunia. Ya, benar. Hari itu adalah Hari Lebaran tepatnya Idul Fitri, 1 Syawal 1429 H. Pada hari itu semua umat Islam bersorak sorai mengumandangkan kebesaran Allah SWT. beserta Nabi-nya yang terakhir, Nabi Muhammad SAW. Pada malam harinya (tentunya sebelum hari yang ditunggu-tunggu tersebut), di tiap-tiap rumah lampu belum padam sekitar pukul 23.00 malam.


Para ibu rumah tangga sibuk menyiapkan makanan maupun kue-kue hidangan khas pada keesokan harinya. Sang kepala keluarga sibuk dengan urusannya sendiri, menelepon sanak saudara yang nun jauh di kota lain, mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri hingga perusahaan-perusahaan telepon pada hari itu ikut juga mengucapkan ‘Selamat membayar tagihan telepon Anda yang membengkak di akhir bulan’ atau jika menggunakan handphone, pulsanya tak akan bertahan lama sehingga berakhir dengan nada sibuk plus imbuhan, ‘Kasihan deh lu!’. Sementara anak-anaknya ikut-ikutan sibuk di kamar masing-masing, menyiapkan baju-baju yang beberapa hari lalu dengan susah payah dibeli menggunakan uang THR orang tua mereka. Dengan tangkas bak pemerhati fashion, mereka memadupadankan baju-baju berbau kamper tersebut dengan celana-celana jeans yang juga berbau serupa. Hingga pada akhirnya menemukan sebuah racikan bergaya amburadul.

Sungguh betapa sangat berarti dan ditunggu-tunggunya hari tersebut dalam setahun. Hari Kemenangan Umat Islam. Takbir mengalun di mana-mana. Suara beduk menderu hingga memecah keheningan malam menjadi keping-keping kegembiraan. Di televisi, Presiden dan Wakilnya tak lupa memberikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri yang sebenarnya hanya sekedar ucapan basa-basi sesuai protokol acara mereka. Tak lupa juga iklan-iklan obat nyamuk, susu, snack, perusahan minuman kaleng, iklan pasta gigi, segala jenis iklan perusahaan kopi, perusahaan rokok, iklan mie instan, hingga iklan obat kuat juga mengucapkan hal yang sama seperti pemimpin mereka. Operator-operator telepon juga tak mau kalah. Dengan berkedok mengucapkan selamat hari raya, mereka tak lupa membubuhi iklan tesebut dengan kebohongan-kebohongan tarif murah, gratis pulsa, gratis sms, ataupun pengundian hadiah yang sebenarnya menguarkan pembodohan bagi publik.
Ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri juga tak cukup melalui iklan-iklan di media visual televisi, media cetak, maupun melalui gelombang-gelombang radio. Ucapan itu juga ternyata datang lewat sms tengah malam. Ya, mereka yang tak bisa tidur pada malam itu masih sibuk mengirimkan short massage service ke semua nomor yang ada di handphone mereka. Tak peduli pulsa yang tersisa pada kartu SIM mereka hampir habis— kritis, ataupun baterai lowbat, tapi tetap saja tangan-tangan lincah itu menari-nari di atas keypad handphone mereka.

Mereka juga ternyata mengirim sms itu padaku. Tak ayal, handphoneku tak henti-hentinya berbunyi tiap jam, menit maupu detik. Inilah sebagian contoh pesan yang mereka ucapkan padaku pada hari itu.


“Menjelang hari nan Fitri.. Mari qt putihkan hati.. Sucikan jiwa.. Memulai smw ny dr 0 lg.. Minal aidin wal faidzin.. Mohon maaf lahir & batin..
-Ri2n+Klrg-”


Sender:
Ririn IF 05
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
12:06:00
30/Sep/2008

----------***----------

“Selamat hari raya idul fitri.MINAL AIDIN WALFAIZIN.Maaf lahir & batin.(pipit & keluarga)”

Sender:
Pipit
+62xxxxxxxxx

Sent:
12:12:47
30/Sep/2008

----------***----------

“Idul fitri sgra tba—smuanya kan menjdi hmpa tak brmakna bila tiada maaf didada—dngn sgla ktlusan hti Dani&kel ngcpin mohon mf lhir&btin.mfin y pren ^_^”


Sender:
Dani
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
15:27:59
30/Sep/2008

----------***----------

“‘Adi n Seluruh Kluarga’ Mengucapkan Selamat Hari Raya “IDUL FITRI 1 1429 H” –(Minal Aidin Wal Faidin)- Mohon Maaf LahiR & BatiN”

Sender:
Ady FT
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
18:37:18
30/Sep/2008

----------***----------

“Gema takbir berkumandang tanda hr kemenangan telah tiba. Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dn batin. (Sari & keluarga)"

Sender:
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
19:26:41
30/Sep/2008

----------***----------

“Ass... Jesica Sekeluarga Mengucapkan Minal Aidzin Walfaidzin (Mohon Maaf Lahir & Bathin) Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Wss...”

Sender:
Jesica
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
19:44:15
30/Sep/2008

----------***----------


“Dengan krndahan hti,q Mengucapkan Minal Aidzin Walfaidzin (Mohon Maaf Lahir & Bathin) Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H.

Sender:
Ruli
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
20:51:43
30/Sep/2008

----------***----------

“ ‘Selamat Idul Fitri 1 1429 H’ di hari kemenangn ini izinkan kami menghaturkn “Taqabbalallahu minna wa minkum siyamana wa siyamakum” mohon ma’af lahir dan batin...” (Uthrie & kel)"

Sender:
U3
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
21:03:09
30/Sep/2008

----------***----------

“met hari raya idul fitri. Minal Aidin Walfaizin..MohOn mAaf lAhir &bAthin...da2n n klarga”

Sender:
Dadan
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
00:18:26
1/Oct/2008

----------***----------

Lebaran.exe
BEGIN{ IF (aq_salah==TRUE)
THEN maafin_dong();
IF(km_salah==TRUE)
THEN aq_maafin();
WRITE “mhon mav lhr btn,met lebaran!”;
}END;
/*dEe


Sender:
Dee ;)
+62xxxxxxxxxx

Sent:
00:19:24
1/Oct/2008

----------***----------

“BeNiNgKaN Hati dgN CiNta.CrahKaN Jiwa dgn Kasih.TetapKan LaNgKah dgn SyuKur,SuciKan HATI dgN SaliNg MeMAAFKan.Slmt Hari Raya IDUL FITRI 1429H,MohoN Maaf Lahir N BatiN...”

Sender:
Arie CueQ
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
06:06:38
1/Oct/2008

----------***----------

“Meskipun maaf tdk bs mrubah kslhan yg dl d prbuat tetapi slng memaafkan akan mmperbaiki hub d masa yg akan dtng.Minal aidin walfaidzin mhon maaf zahir dan batin”

Sender:
DeN@i
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
08:36:32
1/Oct/2008

----------***----------

“Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1429H, minal aidzin wal faidzin, MOHON MAAF LAHIR BATIN.”;-) [Andry&Kelwrg]”



Sender:
Andri
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
06:32:41
1/Oct/2008

----------***----------

“Cry y klw reni pny slh m km. Mnal aidin wlfidn z.”

Sender:
Reni
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
06:42:14
1/Oct/2008

----------***----------

“Minal aidzin wal faidzin..maaf lahir batin y..”

Sender:
Dudulz
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
06:47:10
1/Oct/2008

----------***----------

“Assalamu’alaikum. Kami pn mnghtrkn maaf lhr dan batin, smga sltrhm kta ttap tjga. Armanda dan Zahara bsrta keluarga”

Sender:
Rudi
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
09:11:45
1/Oct/2008

----------***----------

“dgn sepenuh kerendahan hati dan keikhlasan yg kumampu, ku haturkan maaf lahir batin atas khilaf yg t’jd o/ ku atw klwrgaku, selamat hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429H. DARI NOL LAGI YA,,,,!!!^_^”

Sender:
Buhori
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
10:56:15
1/Oct/2008

----------***----------

“Meniti hati Menabur Khilaf,Menyongsong Hari Menuai ma,af Walau langkah tak Bertemu..Tangan tak Berjabat..Ucap tak Terdengar..ijinkan Hati mengucap..Slamat Hari RAYA IDUL FITRI 1429 H, Minal Aidin Wal Faidzin..Mohon Ma,af Lahir Dn Batin...”

Sender:
Trisna
+62xxxxxxxxxxx

Sent:
17:01:33
1/Oct/2008

Minggu, 19 Oktober 2008

Sang Pemuja Cinta dari Timur

Penulis : Afandi M.
Gendre : Biografi

Kahlil Gibran lahir di Beshari, Lebanon, 6 Januari 1833. Pada usia 10 tahun ia berimigrasi ke Amerika bersama ibu dan kedua adik perempuannya. Sempat kembali ke tanah kelahirannya selama tiga tahun untuk memperdalam bahasa Arab, kahlil Gibran menghabiskan masa remajanya bersama seniman bohemian di Boston. Ia juga pernah tinggal di Paris selama setahun untuk berguru seni rupa pada beberapa seniman Perancis. Pulang dari Paris ia pindah ke New York dan menetap di kota ini sampai akhir hayatnya.

Gibran lahir ke dunia untuk menyuarakan jerit-jeritan rakyat kecil yang tertindas, pedih-perih kaum urban yang terpinggirkan, dan pemuja cinta yang tak sampai. Nyanyian cintanya yang duka, menjadi simphoni yang indah dan sejuk. Dalm karya-karyanya, ia melukiskan akan jati dirinya.



Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

Kisah cinta Gibran benar-benar berpengaruh besar dalam setiap karyanya. Sebelum karyanya yang berjudul "Sang Nabi" terbit, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

Tulisan-tulisan Gibran dikenal luas karena cita rasa orientalnya yang eksotik, bahkan mistis. Dianggap sebagai penyair Arab perantauan terbesar.

Karya-karyanya ini telah diterjemahkan ke dalam lebih 20 bahasa. Kahlil Gibran meninggal di New York tahun 1931. Seorang pelayat pada prosesi pemakaman Gibran menggambarkan sebagian dari isi buku ini sebagai melampaui imajinasi.

Ratusan pendeta dan para pemimpin agama, yang mewakili setiap aliran di bawah langit Timur, tertunduk khidmat dalam acara pemakaman itu. Mereka berasal dari Kristen, Maronit, Islam Syi’ah dan Sunni, Protestan, Gereja Yunani Kuno, Yahudi, Druz, dan lain-lain.

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.

Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggal Gibran, Barbara Young (penggemar Gibran) yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan, dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."

Selamat Jalan Sang Maestro Timur! Kau adalah penyemangat dalam setiap karyaku.

Sebagian karya-karya Kahlil Gibran:

• Broken Wings (1912)
• The Madman (sebelum tahun 1918)
• His Parables and Poems (sebelum tahun 1918)
• Twenty Drawning (1919)
• The Forerunne (1920)
• Sang Nabi (1923)
• Sand and Foam (1926)
• Jesus the Son of Man (1928)
• Lazarus (1929)
• The Earth Gods (1931)
• The Wanderer (1932)
• The Garden of the Propeth

Foto Gibran saat anak-anak :




disadur dari : id.wikipedia.org
foto : id.wikipedia.org

Rabu, 15 Oktober 2008

Sepenuhnya, Belum Terjamah (Sepenggal Memori Pesisir)

Penulis : Afandi M.
Gendre : Bebas/Liburan

Pagi-pagi sekitar pukul 09.00, kami bertolak dari rumah menuju sebuah pantai yang konon katanya indah dan masih asri. Ini disebabkan karena adikku yang paling bungsu terus merengek mau pergi berlibur. Dan mungkin karena telinga orang tuaku sudah panas dan tak tahan mendengarkan lagi rengekannya, pada akhirnya mereka mengiyakan juga.

Pantai berpasir putih itu diberi nama Pa’lippis. Entah oleh siapa pantai itu dinamai dengan nama yang menurutku aneh seperti itu. Sudah kutanyai penduduk-penduduk sekitar situ, namun tak ada yang tahu asal muasal penganugerahan nama itu oleh masyarakat sekitar. Bentuk kontur pantainya yang berpasir putih serta keberadaan batu-batu karang berukuran Gigantik dan juga posisi pantainya yang berdekatan dengan tembok-tembok tebing curam, mungkin membuat orang-orang memanggilnya seperti itu. Atau mungkin karena keeksotisan lautnya yang menurutku belum terlalu diperhatikan oleh Pemerintah Daerah setempat.



Jika orang Sunda ditanya, Pa’lippis itu dapat diartikan sebagai pelipis. Setahuku, suku Mandar dan Bugis yang sepenuhnya mendominasi daerah itu, berjiwa petualang di lautan dan sangat terkenal akan perahu Phinisi-nya yang dapat mengarungi samudra-samudra kejam yang memisahkan tiap-tiap daratan. Mereka juga biasanya pandai berfilosofi. Kalau kuanalogikan dan kuhubungkan semuanya, pendapatku begini. Kuumpamakan, Bumi itu seperti manusia, terdiri atas anggota-anggota tubuh; sepasang kaki, badan, sepasang tangan, dan kepala. Atau kusebut saja dua bagian penting yaitu badan (sudah terdiri atas tangan dan kaki) dan kepala. Dua itulah bagian terpenting manusia. Lautan yang sepenuhnya mendominasi belahan Bumi, kusebut sebagai badan dan daratannya adalah kepala. Karena daratan adalah kepala dan lautan merupakan badan, maka pesisir pantai adalah pelipis manusia. Mungkin begitulah analogi asala-asalanku. Hehehe... Jangan terlalu dipikirkan.

Kembali ke topik utama (sambil nyanyi lagu OST. Laskar Pelangi (Nidji)). Bagiku, pantai itu eksotis dan memendam keanggunan tersendiri dari seluruh pantai-pantai yang ada di seluruh kepulauan Indonesia. Pantai yang berada di daerah Campalagia, kabupaten Polmas, Sulawesi Barat itu membuatku pertama kali terpesona. Keindahan itu dengan sangat berhasil menggaet perhatianku.

Biaya masuk ke pantai itu sebesar Rp 3.000 per orang (jadi yang merasa bukan orang atau keturunan primata, pasti tidak bayar deh... hehehe... becanda). Sebelum masuk ke pantai, terlebih dahulu kita harus menuruni anak-anak tangga bagai menuruni bukit batu granit nan terjal. Sayang sekali, walaupun sudah disiapkan anak tangga, tapi sepertinya tidak terawat dengan baik. Tak ada dibuat susuran pegangan anak tangga. Ini sungguh berbahaya bagi anak kecil yang melewati tempat itu. Harus ada perhatian ekstra dari para orang tua saat menuruni tangga tersebut. Ditambah lagi, banyak sekali tumbuh lumut di sepanjang anak tangga itu sehingga terlihat berantakan dan tak terurus. Walaupun hujan tidak membasahi tempat itu, lumut membuat jalinan anak tangga menjadi licin, dan sekali lagi, hal ini butuh perhatian penuh untuk para orangtua yang berniat pergi ke pantai tersebut. Sekitar seratus lebih anak tangga (itupun jika tak salah kuhitung) dengan tiga belokan curam tanpa rambu peringatan.

Sesampainya di bawah, angin laut langsug menerpa wajah, mengacak-acak rambutku yang sudah kusisir susah payah. Di belakang, adik-adik, sepupu serta ibuku turun dengan keengganan, sembari ngos-ngosan menarik napas panjang. Di bawah sebuah pohon berdaun lebar, kami menggelar tikar dan meletakkan barang bawaan. Angin laut semakin bersemangat berhembus di seluruh tubuhku, berusaha menerbangkan ujung-ujung tikar kami.

Sekitar lima belas menit kemudian, kakiku dan kaki adik lelakiku sudah menapak di bibir pantai. Sengatan matahari sungguh diluar dugaanku. Panas sekali bagai berada di atas penggorengan global umat manusia. Kurampas saja jaket adikku lalu kusematkan menutupi lengan dan kepalaku. Ombak menggulung dari tengah lautan hingga mencapai bibir pantai. Tenang dan sesekali menggoda-goda untuk langsung melelapkan tubuh ke dalam cairan garam itu. Namun sayang seribu sayang, ombak yang dengan lembut menghempas mengakibatkan abrasi, membawa serta sampah buangan kapal berupa plastik, botol-botol kaca, kaleng-kaleng sarden, dan tentu saja, sterofoam. Padahal di seluruh media informasi sudah banyak dibicarakan tentang menjaga kebersihan dan pengaruhnya bagi lingkungan. Pasti mereka tidak punya mata untuk membaca dan telinga untuk mendengar. Mereka itu buta, bisu, dan sepenuhnya tuli.

Beruntung sekali kami datang di pagi itu sebab laut sedang surut. Beberapa organisme pantai berupa karang, bintang laut, siput laut, ikan-ikan kecil segala warna, kepiting, dan rumput laut, memeriahkan sebuah ceruk di pinggir pantai berbatu. Tempat itu tak jauh dari tempat ibuku bernaung di bawah sebuah pohon sambil terus memerhatikan anak-anaknya. Saat surut, banyak sekali ceruk-ceruk terbuka di mana ikan-ikan yang sebelumnya tak sempat menyelamatkan diri bersembunyi di dalam rongga-rongga karang. Kadang, dengan malu-malu, seekor Clown fish keluar dari benteng persembunyiannya. Corak putih dan oranye yang menggarisi tubuh pemeran utama dalam film animasi besutan Hollywood berjudul ‘Finding Nemo’ itu berlarian ketika adik bungsuku yang nakal membenamkan tangannya untuk menangkap salah satu ikan lucu itu.

Bukan hanya Clown fish, ada juga ikan bergaris kuning, bercorak hitam putih mirip zebra, Lion fish, dan ikan yang mirip Lele atau Cat fish, di beberapa cerukan yang saat itu mirip kolam penampungan sementara. Ada juga bintang laut dengan kaki-kaki yang panjang mirip ular atau biasa juga disebut sebagai bintang ular, dan yang paling menyenangkan, aku menemukan seekor bintang laut berwarna merah muda (serasi sekali seperti tokoh favoritku dalam film kartun Spongebob Square Pants—Patrick).

Beberapa kepiting langsung bersembunyi ke dalam liangnya saat merasakan keberadaanku. Udang-udang sebesar jari telunjuk juga malah ikut bersembunyi. Padahal jika kudapatkan udang itu, akan kubawa pulang dan kugoreng untuk santapan malamku. Huaahaha...

Sementara tak jauh dari tempatku, adik-adik beserta sepupu perempuanku tengah asik bergaya dan berfoto-foto ria dengan background hamparan laut serta tebing berbatu yang berlobang akibat ombak besar yang tak henti-henti menggerus kekokohannya. Sungguh narcis sekali mereka. Kualihkan lagi pandanganku dari mereka menuju ceruk-ceruk lainnya. Dua ekor timun laut atau oleh banyak orang dikenal dengan nama tripang berjemur di sebuah karang. Tak jauh darinya, seekor landak laut memamerkan duri-durinya yang runcing. Jangan sampai terkena jarum beracunnya itu, kalau sampai tersentuh apalagi terinjak, maka serangan gatal akan datang beberapa menit setelahnya. Untuk itulah dari tadi aku memakai sendal jepit.

Seekor belut laut sedang mencari makanan di lubang-lubang batu berupa ikan-ikan kecil dan tak muncul lagi saat memasuki sebuah lubang sebesar tubuhnya. Apa mungkin belut itu hilang atau malah di dalam lubang itu dia sudah mendapatkan mangsanya? Terserahlah... aku tak tertarik mengamatinya lebih jauh. Sejam kemudian, laut kembali pasang dan ceruk-ceruk tadi kembali terbenam air dengan cepat. Sesenti, sepuluh senti, dan akhirnya semeter. Setelah makan siang di pinggir pantai, di bawah rindangnya pohon berdaun lebar di atas kami, kami pun pulang. Tapi aku tak sia-sia pulang, sebab aku membawa oleh-oleh yang sangat berharga. Seekor bintang laut yang tadi kutemukan kumasukkan ke dalam kantong plastik, sementara adikku membawa batu karang dan kerang-kerang laut, “Untuk menemani ikan hiasnya di akuarium,” katanya. Dasar anak-anak (jadi lu apaan... pake bawa-bawa bintang laut segala).





Jumat, 05 September 2008

Di Balik Karya Sang Maestro

Penulis : Afandi M.
Gendre : Biografi (Edit)

Komponis hebat Wolfgang Amadeus Mozart dan istrinya sedang hidup melampui kemampuan mereka di Wina, ibu kota musik Austria. Wolfgang mengubah musik di siang hari dan pergi berpesta di malam hari. Ia tak berbakat ekonomi. Nyonya Mozart tahu bahwa suaminya menghasilkan telur emas, sementara si istri peduli terhadap kesehatan angsa emasnya. Ia bersikap praktis dan ingin meminta harga yang bagus untuk telur-telurnya. Bagaimanapun, si istrilah yang membayar tagihan-tagihan.

Film Amadeus menunjukkan bagaimana si istri memutuskan suatu prosedur untuk mengatasi kesukaran finansial. Ia akan membawa naskah suaminya ke Antonio Salieri, komponis istana dan orang kepercayaan Kaisar, dan memohon bantuannya untuk mempengaruhi Kaisar secara positif agar memberi Mozart pekerjaan. Wolfgang tak pernah bermimpi memohon kemurahan hati. Ia mengharapkan istana tunduk pada kejeniusannya.



Nyonya Mozart hampir tidak mencurigai bahwa Antonio Salieri yang di luarnya begitu mempesona, menyimpan dendam yang dalam teradap suaminya. Alasannya, Mozart akan sangat menganam posisinya sebagai komponis favorit di istana.

Nyonya Mozart tiba di ruang tamu Saleri yang dilengkapi dengan naskah termutakhir suaminya. Awalnya, Salieri menunda-nunda, sambil memintanya untuk kembali nanti , tetapi Nyonya Mozart menolak.

Sebagaimana yang ia jelaskan, naskahnya semuanya asli. Salieri tak dapat menolak. Ia membuka portofolio itu dan berdiri, terpaku, di tengah ruang tamunya, sambil membalikkan halaman demi halaman sementara setiap karya yang sangat indah itu bermain di kepalanya. Pertama-tama sebuah *oboe yang sederhana memainkan melodi yang tak terlupakan, lalu seluruh orkestra, lalu sebuah opera, sebuah simfoni, sebuah piano koserto... karya agung demi karya agung Sang Maestro.

Karya-karya orisinal ini draf pertama dan satu-satunya yang tak diperbaiki, dan tak diubah. Mozart telah benar-benar menulis musik yang telah selesai di dalam kepalanya, halaman demi halaman, seolah-olah ia hanya sedang didikte.

Dan, seperti komentar Salieri, “Musik yang diselesaikan seperti tidak pernah diselesaikan. Gantilah satu not dan akan ada penyusutan. Gantilah satu frasa dan strukturnya akan berantakan. Di sini lagi-lagi ada suara Tuhan sendiri. Saya sedang memandang melalui sangkar saya ke coretan-coretan yang cermat itu, ke suatu keindahan yang absolut.”

Musik yang indah itu membuat Salieri menjadi merasa sangat utuh. Musik itu menghubungkan rantai besar eksistensi dalam dirinya. Inti spiritual quotientnya, kecerdasan emosioalnya, dan Iqnya berada pada saat-saat dalam harmoni itu. sebagaimana semua itu di tahun-tahun kanak-kanaknya ketika ia pertama kali menyukai musik. Identitasnya sementara tergantikan. Ia merasa terangkat dan hampir bebas.

Nyonya Mozart memperhatikan Salieri, hanya sadar apakah wajahnya menyingkapkan keinginan untuk membantu, yang berarti uang.

“Apakah tidak bagus?” tanyanya.

“Menakjubkan,” jawab Salieri.

“Kalau begitu Anda akan membantu kami?” Nyonya Mozart berasumsi.

Sambil menyeringai, Saleri meninggalkan ruangan.

Ia merasa utuh ketika mendengar musik yang indah, namun ia bereaksi terhadap fakta yang tidak menyenangkan, bahwa bukan ia yang telah menciptakan musik itu. ia menilai dari sangkarnya, bahwa musik itu akan mengurangi ketenaran dan kebaikannya.

Orang merasa bahwa seandainya Salieri tidak begitu terobsesi tentang harga dirinya sendiri, identitas komponis istananya yang iri dapat membebaskannya untuk mengubah musik yang akan bersinar lebih cemenrlang. Nilai batin dari dirinya, belum memilih untuk menegaskan kesempatan terhadap diri yang lebih tinggi, dan kecerdasan dari identitas luarnya bertentangan denga kecerdasan batin alaminya.

Ia akhirnya memutuskan untuk membunuh Mozart, alih-alih menderita kontradiksi menyukai musiknya da membenci Tuhan yang tidak memberkatinya dengan kejeniusan yang sama. Tanpa nilai pilihan diri yang jelas pada intinya, ia akan membunuh apa yang paling disukainya, karena ia tak dapat memilikinya bagi diri sendiri.

Salieri adalah sebuah contoh bagus dari diri yang terbagi, sebagaimana disebut R.D. Laing. Ini menyoroti kehidupan yang kita semua hadapi. Kontradiksi yang kita gulati, semakin kita menginginkan kehebatan, semakin identitas yang menguasai kita dan menutupi inti kegeniusan kita bangkit dengan kebencian terhadap respon spiritual quotient yang murni.

Mudah berubah dan bebas. Identitas walau suka berbicara tentang kebebasan, melakukan hal-hal yang hebat, membuat perbedaan, tidaklah bebas dan mencerca siapa saja yang bebas. Dalam saat-saat penilaian seperti itulah, kita mencerca dan memenjarakan tingkat diri kita yang lebih tinggi.

Di atas segalanya, kehebatan adalah pembebasan diri.

“Saya ingin membuat perbedaan di dunia ini”, “Saya ingin menjadi yang terbaik yang dapat saya capai”, “Saya ingin mendapatkan nama baik”. Ini adalah seluruh cita-cita yang kita dengar disuarakan di setiap tingkat masyarakat dan di setiap ruang lingkup, tetapi ada kesenjangan besar antara beranggapan bahwa kita bisa, dan mengetahui bahwa kita mampu.

Kita bisa berbicara dan kita dapat berjalan, tetapi jalur kecil saraf yang mengubungkan kata dan tindakan mungkin tak ada.

------------------------

catatan: *Oboe atau Obo adalah alat musik double reed jenis woodwind. Ia adalah keturunan dari shawm. Kata "obo" berasal dari bahasa Perancis hautbois, berarti "high wood". Alat musik ini kadang-kadang masih disebut hautboy dalam bahasa Inggris.

Karya : Ricard A. Bowell
Diedit : Afandi Muhammad

Rabu, 03 September 2008

Bedah Lagu - Pada Satu Cinta

Penulis : Afandi M.
Gendre : Biografi

Glenn Fredly Deviano Latuihamallo
Jakarta, 30 September 1975

Biografi :

Glenn Fredly atau lengkapnya Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, lahir 30 September 1975. Ia dikenal sebagai penyanyi yang pada Anugerah Musik Indonesia 2001 (AMI) pernah meraih penghargaan kategori lagu terbaik dan penyanyi pria terbaik untuk lagu musik R&B.

Sejumlah album Glenn yang pernah dirilis di antaranya GLENN (1998), Kembali (2000), Selamat Pagi, Dunia! (2003), OST Cinta Silver (2005), Aku & Wanita (2006) dan Terang (2006), dll.



Sementara terkait kehidupan pribadinya, Glenn menikah dengan penyanyi Dewi Sandra, yang juga mantan istri aktor Surya Saputra pada 3 April 2006. Pernikahan mereka berlangsung secara tertutup di Bali, beberapa saat setelah bercerai, sehingga mengundang spekulasi bahwa mereka telah menjalin hubungan sejak Dewi masih menjadi istri Surya Saputra. Namun hal ini kemudian dibantah keduannya.

Pada Satu Cinta - Glenn Fredly

Masihkah mungkin
Ku kembali tuk mengisi harimu
Yang jelas hati
Ku tak lagi sanggup jauh darimu

Chorus:
Aku kan berjanji
Takkan mengulang segala kesalahan
Aku kan mengabdi
Pada satu cinta dan itu dirimu
Jujur ku hanya seorang lelaki
Yang terkadang tak lepas dari goda

Harus kumiliki
Kesempatan tuk menyayangmu lagi

Chorus:
Aku kan berjanji
Takkan mengulang segala kesalahan
Aku kan mengabdi
Pada satu cinta dan itu dirimu
Jujur ku hanya seorang lelaki
Yang terkadang tak lepas dari goda

Kulihat kau ragu
Adakah yang telah mengganti aku

Chorus:
Aku kan berjanji
Takkan mengulang segala kesalahan
Aku kan mengabdi
Pada satu cinta dan itu dirimu
Jujur ku hanya seorang lelaki
Yang terkadang tak lepas dari goda



Bedah Lagu "Pada Satu Cinta"

Satu lagi lagu Glenn Fredly yang dalem banget bagi gue, "Pada Satu Cinta". Walaupun liriknya sederhana (bukan seperti puisi yang lalu dibuat jadi lirik lagu) dan instrumen yang digunain buat ngiringin lagunya hanya piano, but over all gue acungin keempat jempol gue. Emang tidak salah kalau pria yang memiliki darah Ambon ini merupakan salah satu maestro musik Indonesia. Suara yang merdu dan ditunjang lirik lagu romantis yang diciptakan sendiri serta musik yang easy listening membuat lagu-lagu Glenn tak jarang laris manis bak buku best seller (hehehe).

Menurut gue, lagu ini menceritakan sebuah pengakuan seorang playboy yang dulunya pernah nyakitin mantan pacarnya karena si cowok itu sendiri gak bisa setia (denger tuh para cowok, woi lu kan cowok juga dodol... hehehe, sorry lupa) ama pasangannya itu dan mereka akhirnya putus deh. Tapi lama-kelamaan si cowok playboy ini akhirnya terbuka matanya (buset kayak sinetron-sinetron Hikayah aja) sebab cewek yang dulunya pernah dia sakitin itu tidak lain adalah cinta sejatinya. Wah-wah gue jadi mikir gini, jangan-jangan alasan sebenernya si cowok itu minta balikan karena dia tuh gak laku lagi or dapet karma/kutukan dari si cewek itu (hehehe)... kidding, kidding bro...

Si cowok yang ngebet banget balikan ini susah payah ngeyakinin si cewek itu dengan berbagai cara dan muncullah alasan yang menurut gue klasik dan cukup klise diucapin ma tuh cowok "Jujur ku hanya seorang lelaki, Yang terkadang tak lepas dari goda". Tapi kayak novel-novel fantasy berseri, ceritanya dibuat gantung dengan si cewek tuh ragu-ragu buat balikan. Entah apa alasannya... (hue hue gue doain dah lu biar balikan lagi)

Sebagai penutup, lagi-lagi gue salut buat Glenn Fredly. Terus berkarya bro n ciptakan karya-karya masterpice selanjutnya. Hidup Musik Indonesia!

Download lagu (hanya contoh) - beli CD originalnya:
Glenn Fredly - Pada Satu Cinta
atau
Glenn Fredly - Pada Satu Cinta (4shared)

Selasa, 02 September 2008

Sejumput Kenangan Dariku Untuk Indonesia

Penulis : Afandi M.
Jenis : Artikel

SUDAH 63 tahun sejak proklamator kita, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta untuk kali pertama mengumandangkan proklamasi yang melambangkan kemerdekaan bangsa ini, bangsa Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus berbagai macam perayaan yang melambangkan kemerdekaan, dirayakan dengan penuh suka cita dan penuh kebahagiaan karena semua rakyat Indonesia merasa telah merdeka.

Memang benar kita telah merdeka. Merdeka dalam artian terlepas dari penjajahan para penjajah yang telah berlangsung selama ratusan tahun yang lalu. Sekarang arti kemerdekaan bukan cuma mencakup hal tersebut. Banyak sekali arti dari kemerdekaan yang sebenarnya. Salah satu dari arti kemerdekaan yang kuketahui adalah saat kita telah terlepas dari keterbelakangan dan kebodohan.


Coba kita tengok sedikit ke masa lalu. Masa di mana isakan tangis, teriakan ketakutan, kekhawatiran, dan kebengisan penjajah menjadi irama penguji jiwa tiap paginya di tanah Indonesia tercinta ini. Mereka—para penjajah, menebar teror bak setan ke seluruh penjuru Indonesia. Menakut-nakuti setiap orang dengan ancaman bedil yang mengacung di kepala. Jika tidak menurut, nyawalah taruhannya. Keluarga-keluarga yang lemah dan mencoba melawan, dipisahkan. Ayah dan anak laki-lakinya dijadikan pekerja rodi tanpa bayaran sepeser pun untuk membangun tonggak kerajaan mereka, anak wanita yang baru beranjak dewasa dipaksa melayani nafsu binatang para tentara gila, sementara sosok ibu yang dibiarkan menunggu di rumah dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dan campur aduk, menangis dan tersiksa hingga hilang nyawanya.

Kadang jika aku kembali mengingat kejadian yang diceritakan oleh Kakekku dulu (tentunya saat ia masih hidup di dunia ini), sekujur tubuhku merinding dan membeku bagai tertimbun di dalam longsoran salju bermeter-meter di bawah tanpa selimut penghangat. Ia menceritakan dengan menggebu-gebu semangat perjuangannya yang kala itu berkobar seumpama lidah api matahari dan menyembur bagai magma ke udara seperti letusan gunung Krakatau. Darah yang berceceran serta onggokan-onggokan mayat yang sudah tak jelas lagi bentuknya berserakan di mana-mana, layaknya sampah di pinggir jalan. Seruan kemerdekaan harus dibayar dengan darah. Tapi semua itu tak mengurangi semangat perjuangan yang menggelora di setiap jiwa para pejuang, termasuk Kakekku. Indonesia harus tetap mendeka walau nyawa taruhannya. Di benak pejuang telah tertanam rasa cinta tanah air yang tinggi dan sebuah semboyan ‘mati satu tumbuh seribu’. Bayangkan, mereka tak takut mati.

Bagaimana jika peristiwa itu di hadapkan kepada rakyat Indonesia zaman sekarang? Rakyat Indonesia yang katanya sudah maju dan berkembang. Semua itu omong kosong! Cuma kedok untuk menutupi ketidakmampuan dan ketakutan mereka kehilangan nyawa. Aku tidak yakin, mereka akan berani menghadapi kematian dengan tangan terbuka seperti nenek moyang kita dahulu. Semangat perjuangan manusia modern sekarang ini telah pupus dan terkikis oleh budaya-budaya tolol yang tetap mereka pertahankan. Tengoklah anak muda sekarang. Mereka semua telah terjerumus ke lembah hitam, lembah yang pastinya sangat sulit untuk keluar dari dalamnya. Banyak sekali anak-anak muda yang menjadi pemakai maupun bandar narkoba, gadis-gadis polos yang berubah profesi sebagai pelacur jalanan, bahkan public figure dan pejabat yang seharusnya menjadi contoh yang baik untuk masyarakat, berbondong-bondong untuk melakukan pelanggaran dan menumpuk harta. Bagaimana jadinya bangsa ini jika tanggung jawab diembankan kepada orang-orang seperti mereka.

Ah, kebusukan Indonesia saat ini mulai tercium. Bentuk boroknya sudah mulai kelihatan. Busuk sekali! Menjijikkan! Tapi menurutku, bukan Indonesia-lah yang salah. Bukan bangsa ini. Kenapa harus Indonesia yang tak tahu apa-apa dihujat sedemikian parah dan rendah. Para petinggi dan orang-orang tolol-lah yang semestinya dicekal dan direndahkan. Orang-orang seperti mereka yang bersembunyi dan bernaung di bangsa Indonesia yang suci ini.

Menggunakan kesucian itu sebagai tameng atas kesalahan mereka. Pantas saja Indonesia tidak maju-maju, lihat saja tingkah petinggi-petingginya. Apakah tindakan yang benar jika tidur saat sidang DPR atau MPR sedang berlangsung? Apakah mereka tak tahu caranya bermusyawarah yang benar? Apakah benar kalau seorang pemimpin mengingkari janjinya setelah ia terpilih menjadi sang penguasa? Jangankan para petinggi, pegawai negri sipil saja belum tentu becus untuk melaksanakan kewajibannya. Yah, instansi milik pemerintah itu hanya menampung orang-orang yang tak berguna. Sejujurnya, mereka masuk ke dalam lembaga itu bukan karena kemampuan mereka. Uang, itulah inti dari semuanya. Mereka yang kepintarannya tak seberapa dengan adanya kekayaan materi berupa tumpukan uang akan sangat dihargai martabatnya layaknya raja.

Seandainya aku hidup di zaman dahulu, masa di mana uang tidak ada. Mereka menggunakan cara barter untuk memperoleh sesuatu. Setidaknya itu lebih baik daripada sekarang.

Jika dipikir-pikir, memang begitu banyak kebusukan orang-orang yang mendiami bangsa tercintaku ini. Aku ingat saat Tuhan mencoba bangsa ini. Diuji dengan pasang berupa Tsunami, gempa Bumi, letusan gunung berapi, longsor, atau kecelakaan pesawat yang hingga saat ini menurutku belum jelas akibatnya. Indonesiaku menangis. Meneteskan air mata pilu akan sifat orang-orang yang mendiaminya. Tuhan merasakan kesedihannya dan mencoba orang-orang itu dengan berbagai jenis kesulian. Apakah mereka pantas ada di Indonesia atau tidak? Pataskah mereka menjadi penghuni bangsa suci ini? Tapi, Tuhan terlalu baik. Dia tak tega melihat orang-orang itu menitikkan air mata dan mengeluarkan jeritan histeris dari mulu-mulutnya. Bagaimanapun orang-orang itu adalah hamba-hamba yang dicintai-Nya. Tuhan tak mungkin setega itu. Dia-lah Maha Penyayang.

Sekarang, bangsaku mencoba bangkit. Usia yang kini menginjak 63 tahun tidak muda lagi untuk sebuah bangsa. Indonesia lebih cocok diumpamakan sebagai bayi yang saat ini baru belajar merangkat lalu nantinya berjalan. Toh, di antara orang-orang tolol tadi masih ada yang mencintai Indonesiaku ini dengan setulus hati. Rela berkorban apapun untuk membangkitkannya dari keterpurukan. Mereka-lah orang-orang yang setia berdiri hingga akhir menjaga Indonesia. Orang-orang yang bekerja tanpa pamrih untuk Indonesia. Orang-orang yang tetap kuat dan tegar menyongsong masa depan yang mungkin satu waktu akan cerah, secerah langit biru di kala hujan reda.

Yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah kapan? Kapan lagit Indonesia itu akan cerah? Kapan Indonesia benar-benar merasakan kemerdekaan yang seutuhnya? Kapan? Ah, aku sadar terlalu banyak bicara. Mulut dan tangan ini terlalu bersemangat jika bercerita tentang Indonesia. Banyak sekali kenanganku yang tertoreh di bangsa ini. Pasti semangatku ini diwariskan oleh Kakekku. Yah, Kakekku yang sekarang tengah melihatku dari surga sana. Orang yang selalu menguraikan senyuman terbaiknya untuk Indonesia. Orang yang selalu mengumandangkan bahwa Indonesia tetap jaya. Merdekalah Indonesia.


by Afandi Muhammad