Penulis : Afandi M.
Gendre : Detektif & Misteri
Lain-lain : Berseri (4)
SIANG HARI, setelah peristiwa mengenaskan itu kembali berulang, polisi datang. Kedatangan mereka mendapat banyak tanggapan berbeda dari masing-masing karyawan perusahaan Summer. Mereka takut sekali akan ikut dilibatkan dalam penyelidikan, dan akhirnya berurusan dengan aparat-aparat hukum tersebut. Mereka semua adalah tipe orang yang individualistis. Sifat khas seorang pecundang.
Saat itu, di sebuah ruangan tempat biasanya beberapa direksi mengadakan rapat, Inspektur Andrian duduk mendengarkan keterangan dari Asistennya―Hendra Sucipto.
“Wanita yang menjadi korban adalah Helena Sriwahyuni. Dia bekerja sebagai salah satu designer di perusahaan ini. Dia meninggal akibat keracunan minuman yang ada di atas mejanya.”
“Belum selesai peristiwa pembunuhan yang pertama diusut, telah terjadi lagi pembunuhan yang kedua di perusahaan ini,” keluh asisten itu.
“Aku rasa dia bukan mati karena keracunan tapi karena diracuni. Siapa yang membawa minuman ini kepadanya?” tanya sang inspektur sambil membaui minuman beracun itu dengan hidungnya. “Menurut kesaksian sebagian karyawan yang berada di ruangan ini bersama korban saat itu, Jumadi yang memberikan minuman itu kepada korban sesaat sebelum korban tewas.”
“Bukankah dia juga yang menemukan mayat korban yang pertama di ruangan perusahaannya?” tanya Inspektur Andrian.
“Benar, Inspektur.”
“Bagaimana mengenai pembunuhan pertama? Siapa korbannya?”
“Pembunuhan pertama juga terjadi di perusahaan ini dan korbannya adalah Santi Triyani, kepala bagian perancangan. Dia meninggal akibat tembakan di dadanya dari jarak dekat dan kami juga sudah menemukan barang buktinya di toilet wanita berupa sebuah revolver yang tersembunyi di bawah tumpukan tisu toilet,” jelas Hendra Sucipto.
“Memangnya ada apa dengan waktu kematiannya?”
“Apakah ada yang dicurigai?” Inspektur Andrian tak hentinya bertanya. “Ada Inspektur! Kami mencurigai Helena yang membunuhnya,” ujar asisten itu dengan dengusan pelan.
“Bukankah dia itu adalah korban kedua,” jelas inspektur.
“Memang dialah orangnya, Pak.”
“Coba sebutkan bagaimana analisamu jika memang dia adalah pelakunya?” tanya Inspektur Andrian menguji analisa bawahannya tersebut.
“Pertama-tama Helena pergi ke ruangan korban, menunggu korbannya hingga datang. Setelah korban membuka pintu dia langsung menembaknya. Setelah itu, dia buru-buru ke toilet wanita untuk membuang senjatanya di tempat sampah sebab tempat itulah yang paling aman yang dia pikirkan saat itu. Semua pegawai istirahat pada jam itu, jadi tidak ada yang masuk toilet. Kami juga menemukan sidik jarinya di pistol itu yang semakin mempertegasn bahwa dia adalah pembunuhnya. Tapi sekarang dia tiba-tiba tewas. Ada orang lain yang membunuhnya,” katanya mengakhiri analisanya.
“Bagus! Menurutku memang begitulah kronologi kasus pembunuhan yang pertama itu, dan sekarang mengenai pembunuhan yang kedua ini, apakah kamu sudah mengintrogasi office boy itu?”
“Ya, tadi kami sudah mengintrogasinya. Berdasarkan pengakuannya, minuman itu diberikan oleh Nagita Adelia, wakil direktur di perusahaan ini kepadanya. Si pelayan itu disuruh untuk membawakan minuman tersebut ke Helena sebab sang wakil direktur itu ada rapat mendadak. Tapi saat kami menanyakan apakah Nagita memasukkan racun ke dalam botol plastik tempat minuman itu dia membantahnya. Dia mengatakan bahwa saat diterima botol minuman itu masih dalam kondisi bagus. Tertutup rapat dan masih bersegel pada tutupnya.”
“Katamu ketiga orang ini memiliki dendam satu dengan yang lainnya. Mengapa mereka saling menendam?” seru sang inspektur.
“Korban pertama yaitu Santi Triyani dibenci oleh Helena yang merupakan korban kedua dan Nagita yang merupakan atasannya. Helena yang dulu merupakan teman baiknya membencinya karena telah mencuri hasil rancangannya sehingga Santi Triyani diangkat jabatannya menjadi salah satu kepala bagian di perusahaan ini, sedangkan Nagita membencinya karena ingin merebut jabatannya sebagai wakil direktur.”
Inspektur Andrian tersenyum. “Masalah jabatan ya!”
“Sementara itu Helena juga dibenci oleh Nagita karena telah merebut tunangannya pada saat pernikahan mereka tinggal beberapa bulan lagi.”
“Kalau begitu, Nagita-lah yang memiliki motif yang sangat besar untuk membunuh Helena yang telah merebut tunangannya,” Inspektur Andrian menyimpulkan.
“Pendapat saya juga begitu Pak.”
“Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang yaitu bagaimana dia memasukkan racun tersebut ke dalam botol minuman itu. Bukankah office boy itu mengatakan botol minuman itu tertutup rapat, disegel pula.” Asistennya hanya mengangguk menyetujui perkataan atasannya bagaikan binatang peliharaan yang selalu menuruti kehendak majikannya. “Sebaiknya kita mengintrogasi Nagita dulu, sebelum menarik kesimpulan akhir atas pembunuhan yang kedua ini. Lagipula kita dituntut untuk segera memecahkan kasus ini, agar suasana di perusahaan ini kembali tenang dan untuk menghindari citra buruk masyarakat atas kinerja kepolisian.”
**
Nagita sedang menopangkan kakinya di atas kaki yang satunya. Saat itu, dia mengenakan stelan jas dengan dalaman kemeja serta celana panjang kain yang sesuai dengan warna jasnya. Matanya yang licik menatap kedua orang di depannya secara bergantian.
“Apa yang ingin kalian tanyakan kepadaku lagi? Bukankah tadi aku sudah memberikan kesaksianku?” ujarnya dengan nada merendahkan.
“Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan lagi kepada Anda,” ujar Inspektur Andrian sopan.
Dia lalu mengambil kotak rokoknya yang kemarin diberikan oleh Santi sebelum dia meninggal. Sambil memberikan suatu tanda kepada kedua polisi itu dengan batang rokoknya, dia mulai membakar rokok tersebut.
“Apakah betul Anda yang memberikan botol minuman itu kepada Jumadi?” tanya Inspektur Andrian sambil membuka catatan kecilnya. Nagita mengangguk sekali, kemudian raut mukanya berubah, matanya melotot, nafasnya saling memburu. Dijatuhkannya rokok yang semula ada di mulutnya, kemudian kedua tangannya memegangi lehernya. Inspektur Andrian dengan sigap lalu meloncat ke depan kemudian membaringkannya di pangkuannya.
Sesaat kemudian digelengkannya kepalanya. “Dia sudah meninggal,” katanya dengan suara lesu dan desahan nafas panjang. Suasana diam seketika dan hanya terdengar Hendra Sucipto menghembuskan napas penyesalan. Inspektur Andrian kemudian mengamati sesuatu. Dengan ketekunan bak seorang kutu buku, dia memeriksa puntung rokok yang tadi dijatuhkan oleh Nagita.
Dia mendekatkan puntung itu ke hidungnya, membauinya, dan entah mengapa, saat itu juga kepalanya setengah pusing. Ada bau aneh yang menguar dari puntung rokok tersebut. Dengan cepat dialihkannya puntung itu jauh-jauh dari indra penciumannya, mencegah agar sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kemudian.
“Kuduga, dia meninggal karena keracunan,” kata sang inspektur.
Dia lalu menyuruh asistennya agar memanggil polisi lain untuk membawa mayat Nagita dari ruangan itu. Jika tidak cepat-cepat dipindahkan, mayat itu secara alamiah akan banyak mengundang orang-orang untuk melihatnya.
Hendra Sucipto berjalan dengan langkah cepat dengan setiap pijakan yang mendentum-dentum dengan lantai porselen. Dia menghampiri atasannya sambil membawa beberapa lembar kertas dan kemudian menyerahkannya.
“Inspektur, memang benar korban yang ketiga ini tewas karena keracunan. Rokok yang tadi sempat dihisapnya memang ternyata mengandung racun. Kami juga sudah memeriksa kotak rokok yang dimiliki korban, dan menurut kesaksian dari beberapa pegawai perusahaan ini, kotak rokok itu milik Santi Triyani.”
“Racun apa yang terkandung dalam rokok itu?”
“Arsenik!” tukas Hendra Sucipto singkat. Tatapan matanya tajam.
“Memang jenis racun yang mematikan. Dapat dengan mudah membunuh seseorang dengan cara merusak sistem pencernaan yang lalu menyebabkan kematian karena shock. Racun ini sangat berbahaya dan dapat membunuh secara tiba-tiba,” jelas sang inspektur.
Asistennya mengangguk-angguk kagum dengan penjelasan tersebut.
“Kasus ini benar-benar memusingkan dan semakin rumit sekali, dan setiap kali aku telah menemukan sebuah titik terang, secepat itu pula titik terang itu berubah menjadi kebingungan,” keluh Inspektur Andrian kesal. “Hubungan di antara mereka tidak berjalan dengan baik. Mereka bertiga saling terlibat satu dengan yang lain dan memiliki motif yang sangat kuat untuk melakukan pembunuhan ini. Dan sayangnya, kasus ini masih gelap di mataku, dan apabila kita telah melangkah maju, makin banyak pertanyaan yang terus muncul sehubungan dengan kasus pembunuhan ini. Benar-benar membuatku tak habis pikir.”
Inspektur Andrian melanjutkan. Tetap mencoba berfikir jernih. Memeras otaknya.
“Pada pembunuhan Helena, kita tidak tahu bagaimana caranya si pembunuh memasukkan racun itu ke dalam botol plastik minuman yang masih tertutup dan tersegel rapih. Dan anehnya lagi mengenai pembunuhan yang terjadi pada Nagita Adelia ini. Cara pembunuhannya memang sederhana, tapi siapa yang membunuhnya? Mereka yang telah dicurigai bertiga kini telah tewas. Kasus ini seolah menjadi buntu bagiku.”
“Bagaimana kalau kita menanyakan hal ini kepada Tommy,” Hendra Sucipto memberikan saran, “mungkin dia bisa membantu kita Inspektur.”
Walau segan dan seolah mengurangi kredibilitasnya sebagai seorang inspektur kepolisian, mau tidak mau dia harus melakukan saran tersebut. Selama yang dia ketahui, Tommy memang adalah sejata terakhirnya. Anak itulah sejata pamungkasnya.
“Benar katamu. Kita memang sudah tidak ada pilihan yang lain lagi.” Sang inspektut mengambil ponsel dari dalam sakunya dan mulai menekan nomor pada keypad-nya membuat ponsel tersebut tersambung ke nomor seseorang.
“Halo... Tommy, bagaimana kabarmu?” tanya Inspektur Andrian. “Kabar Paman baik. Oh, iya. Ya, memang.” Tanpa lama berasa-basi, Inspektur Andrian dengan lugas menceritakan kasus yang sedang ditanganinya itu kepada pemuda tersebut. Di balik ponsel, pemuda itu terfokus.
Tommy terdiam sejenak setelah mendengarkan semuanya, lalu tanpa diduga-duga sebelumnya, dia tertawa. “Kasus pembunuhan yang sangat unik, Paman,” suaranya girang dari balik telepon. “Kalau menurutku, ini adalah segitiga pembunuhan berantai. Di mana jika kita tarik satu garis lurus ke tiga buah titik, maka nantinya garis tersebut akan kembali ke titik permulaan, yaitu titik awal pembunuhannya. Dalam kasus pembunuhan ini sama saja. Dari hasil kronologi penjelasan yang Paman katakan tadi, memang ketiga pembunuhan ini saling berhubungan.”
Tommy melanjutkan dengan kesenangan seorang remaja. “Santi Triyani yang menjadi korban pertama dibunuh dengan menggunakan pistol, dan tersangka yang membunuhnya memang benar adalah Helena. Sebab semua bukti-bukti memang sangat memberatkannya. Terlebih lagi dengan penemuan sidik jarinya pada senjata itu membuatnya semakin jelas dan bersalah atas pembunuhan tersebut. Tapi sanyangnya, dia terbunuh oleh racun yang terdapat dalam jus yang diminumnya,” jelas Tommy dengan nada prihatin.
“Lalu bagaimana cara memasukkan racun itu ke dalam botol yang masih tertutup dan tersegel rapat?” tanya Inspektur Andrian.
“Itu mudah saja Paman jika pembunuhnya tersebut menggunakan jarum suntik untuk memasukkan racunnya. Itu cara yang terpikirkan dan yang paling mungkin dilakukan oleh sang pembunuh.”
Inspektur Andrian diam, mencoba mencerna pemikiran Tommy yang begitu menakjubkan.
“Pada botol plastik jus itu ada bagian yang lentur dan lembek. Mudah sekali ditembus oleh jarum suntik atau benda sejenisnya. Dari situlah pelaku memasukkan racun mematikan itu,” jelas Tommy.
“Tapi kami tidak menemukan jenis jarum suntik atau benda lain yang mirip jarum di manapun di ruangan ketiga orang tersebut,” bantah sang inspektur. Mencoba menggoyahkan teori pembunuhan yang dikemukakan oleh Tommy.
“Apakah Paman sudah mencari di dalam tas Nagita Adelia? Pasti di situlah dia jarum suntik tersebut disembunyikan. Di tempat yang tersamarkan. Mungkin di dalam salah satu alat kosmetiknya. Kemudian pada pembunuhan ketiga, di mana Nagita sendiri dicurigai sebagai tersangka pembunuhan kedua, terbunuh. Dan menurut analisaku, pembunuhan Nagita itu dilakukan oleh Santi Triyani. Itu sudah jelas.”
“Tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Bagaimana pembunuhan itu bisa dilakukan sementara Santi Triyani sendiri sudah meninggal jauh sebelum Nagita meninggal?” pekik sang inspektur. “Ingat dia adalah korban pertama dari pembunuhan ini.”
“Korban dalam hal ini, Santi Triyani belum tentu tidak bisa melakukan pembunuhan jika proses pembunuhan itu telah direncanakan olehnya. Dan pembunuhan itu bisa terjadi karena rokok. Rokok-rokok yang diberikan kepada Nagita jauh sebelum dia sendiri meninggal telah dicampur dengan racun yang diyakini sebagai arsenik. Wanita itu sudah merencanakan pembunuhan itu jauh sebelumnya, namun dia sendiri tidak menyadari bahwa dia juga akan menjadi korban pembunuhan nantinya. Ini adalah triangle murder, di mana semua korban memiliki dendam satu dengan yang lainnya, dan pada akhirnya mereka saling membunuh satu sama lain. Pada kasus ini mereka semua akan membunuh musuhnya, dan tidak menyadari bahwa nantinya mereka juga akan terbunuh oleh musuhnya yang lain.” Tommy menghembuskan napas. “Jika kita tarik garis lurus maka pembunuhan ini akan berakhir pada sebuah kondisi di mana korban pertama merupakan pelaku pembunuhan pada kasus pembunuhan terakhir.”
Inspektur Andrian tercengang. Wajahnya menegang. Di sampingnya, Hendra Sucipto merasakan bahwa kasus kali ini telah terpecahkan dengan sangat sempurna.
Sang inspektur memustukan hubungan ponselnya, kemudian samar-samar dia mengucapkan sesuatu yang mengejutkan. “Benar-benar, ini memang pembunuhan yang sangat mengejukan. Ternyata dendam bisa sangat mengerikan hingga terjadi seperti ini. Aku tak habis pikir.”
Selengkapnya...
Selasa, 27 Oktober 2009
The Triangle Murder - Chap. 04
Minggu, 18 Oktober 2009
Perjuangan: The Power of My Love

Ini yang sesungguhnya, inilah cinta:
AKHIRNYA hari yang kutunggu-tunggu selama hampir enam bulan, tujuh hari, dan sembilan jam ini datang juga. Jika boleh dikatakan, inilah hari yang teristimewa dan paling berharga dalam hidupku sampai saat ini. Hari yang selama ini membuatku bisa bertahan dan mungkin, tidak bisa tergantikan oleh apa pun nantinya. Hari yang membuatku melangkahkan kaki, berangkat dari Bandung ke Makassar untuk menemui pujaanku—tujuan dan sumber utamaku. Yah, selama ini aku sering kali dibalut oleh duka dan kesendirian yang membosankan lagi memuakkan. Seolah-olah hidupku di dunia ini adalah sebuah kesalahan, semacam salah analisa dan salah prediksi antara Tuhan dan kedua orangtuaku. Tetapi setelah lama kekacauan perasaan itu bersemayam dalam tubuhku, berpelukan dengan jiwaku, menutup rapat-rapat kesenangan dari dunia luar, tidak mengindahkan apa pun bentuk keceriaan di sekitarku, kini tiba saatnya semua itu menguap, menjadi buih-buih mikroskopik yang dimakan udara dan sinar. Entah sejak kapan bahagia ini menggumpal-gumpal untuk pertama kalinya. Tidak bisa kuketahui tepat kedatangannya. Ah, yang jelas dan bisa kuungkapkan saat ini, aku sangat-sangat bahagia. Kehidupanku telah terbalik dua ratus tujuh puluh derajat.
Pernah sekali waktu, aku sempat meyakini bahwa hari ini tak akan datang menghampiriku setelah sekian lama, namun lihatlah sekarang, hari yang kutunggu ini semakin mendekat, membisik-bisikkan senyawa-senyawa kebahagiaan, dan sekaranglah waktunya. Rindu yang menggelayut dan menggebu-gebu dalam jiwaku, hasrat yang menggelora, serta ribuan perasaan yang bercampur aduk akan terlepaskan, terlampiaskan dengan berbagai bentuk tindakan yang kuyakini mungkin saja akan kulakukan.
Kulirik setiap detakan jarum jam yang menempel kuat di dinding rumahku. Setiap perpindahan waktunya kurasakan membuat tubuhku bergetar penuh kebahagiaan. Rasanya merebak, bagaikan aroma magis telah memabukkan akal sehatku. Ah, inikah rasanya jika ingin bertemu dengan orang terkasih? Beginikah rasanya jatuh cinta, yang sebenarnya? Sulit sekali mendeskripsikan tiap waktu yang kujelajahi bersama ketiga kesatria waktu itu. Seumpama sukma telah meninggalkan raga, kegirangan, bercakap-cakap dengan mereka tentang pentingnya cinta ada di dunia. Tentang berharganya cinta bagi tiap manusia. Sesekali kukatakan kepada mereka, agar mempercepat peralihannya, mempercepat langkahnya, membuat mereka menunjukkan tepat ke angka yang kuharapkan.
“Tolong, percepat langkah kalian. Aku mohon. Buat telunjuk terkecil kalian itu merangkak dan mengarah ke angka 13.00 siang ini,” kataku dalam hati, memelas sejadi-jadinya. “Cepatlah! Ayo, aku mohon pada kalian bertiga.”
Waktu kian mendekat, dan tanpa terduga mengubahku menjadi pribadi yang berbeda dari biasanya. Ini bukan aku. Mana mungkin aku membuat perubahan dengan begitu cepat dalam diriku. Hei ingat, aku ini bukan tipe pria yang menyukai dandan berjam-jam selayaknya wanita di depan cermin. Menyemprotkan parfum ke seluruh baju dan celanaku, dan bahkan semenit sebelumnya, dengan parfum yang sama pula, benda tanda feminisme itu kusemprotkan di tubuhku. Tak lupa pula, handbody kuusapkan ke kedua penjuru lenganku. Aku seakan-akan tidak bisa mengingat, bahwa dahulunya aku ini pribadi yang cuek. Tapi entah mengapa, untuk kali ini, kali ini saja, untuk saat-saat yang menggembirakan ini, aku menginginkan menjadi sesuatu bagi dirinya. Minimal menjadi seorang pria yang begitu diidamkan para wanita, terkhusus untuknya. Menjadi pria yang peduli akan penampilannya. Minimal, aku menjadikan diriku layak berjalan bergandengan tangan dengannya di muka umum. Bersanding bersamanya melangkahi jalur-jalur kebahagiaan. Aku tidak mau mempermalukan dirinya sebagai wanita yang anggun dan memesona. Memiliki daya pikat di atas rata-rata. Yah, aku tahu, usia terkadang menjadi sedikit penghalang di antara kami. Sebagaimana usiaku memang terpaut jauh darinya, tetapi aku terkagum-kagum dengannya, sungguh sangat gembira sekali. Baginya, perbadingan usia yang cukup jauh membentang tidak semestinya menjadi penghalang. Dia menerimaku apa adanya. Sekali lagi, dia memberikanku pengetahuan tentang apa itu cinta yang sebenarnya. Dia memberiku sebuah chemistry tersendiri—mengasikkan dan kadang kala menggairahkan. Membuatku tampak berharga. Sama seperti yang dia katakan berkali-kali kepadaku. Seakan-akan kata-kata itu terus terpatri, menjadi candu yang memabukkan dengan tingkat intensitas kenikmatan yang begitu besar. Usia pula tidak menghalangi perasaan kami berkembang sedemikian pesat hingga sekarang. Cinta kami ini tak berjarak, lengang oleh kapasitas, tanpa ujung, dan tanpa perbandingan berat serta skala pembesaran.
Aku terkadang merasa aneh dengan pasangan-pasangan yang lain. Sambil menangis, wanita atau prianya akan berkata dalam tiap isakannya, “Aku telah menderita oleh cinta yang sia-sia.” Menurutku, ucapan mereka itu salah seratus persen. Sebenarnya, cinta tidak bersalah dalam masalah ini. Perasaan itu tidak boleh disalahkan karena kitalah yang menciptakan perasaan tersebut. Cinta memang yang membangun sebuah kebahagiaan, namun cinta bukanlah yang memberikan kesedihan. Wanita atau pria itu menderita karena dia merasa telah memberikan cinta lebih daripada yang dia terima dari pasangannya. Dia merasa karena cintanya telah bertepuk sebelah tangan. Dia menderita karena dia tidak dapat memaksakan aturan-aturannya sendiri kepada pasangannya. Berbeda dengan cinta kami. Cinta kami ini tidak ada takarannya.
Telah tiba saatnya, jarum jam semakin mendekati angka tujuanku. Telah kuperkirakan sebelumnya, jarak tempuh antara rumahku dan tempat pertemuan kami serta kecepatan rata-rata sebuah angkutan umum, hasilnya adalah lima belas menit. Itupun telah kuhitung-hitung dengan menggunakan rumus fisika untuk menghitung waktu di mana bisa kudeskripsikan yaitu jarak antara rumaku dan tempat pertemuan kami dibagi dengan kecepatan rata-rata angkutan umum. Cinta membuat seseorang lebih peka akan sesuatu. Bagiku, cinta membawa pencerahan ke dalam otakku. Setelah berpamitan, aku melangkahkan kaki menuju tempatku menunggu angkutan umum. Hingga detik ini, semuanya berjalan lancar. Perasaanku semakin menggebu-gebu. Tidak kuperlukan waktu banyak untuk menunggu angkutan umum jurusan BTP—Sentral berhenti di depanku. Siang itu, mungkin karena teriknya sinar matahari, hanya sedikit penumpang di dalamnya. Aku memilih duduk di depan, dekat supir. Kulakukan agar penampilanku tetap terjaga kerapihannya. Angkutan umum berjalan dengan perlahan, dan dengan itu pula hembusan angin seolah menggodaku, membelai wajahku dengan tangan-tangan lembutnya. Jarak demi jarak terlewati, namun getar-getar cinta ini membuatku melupakan setiap tempat di mana angkutan umum itu berhenti.
Tiba-tiba, ini di luar perkiraanku. Semuanya tidak sesuai dengan hasil komputasi otakku. Formula fisika itu ternyata tidak bisa diterapkan dalam kondisiku, sebab ada hal lain yang mempengaruhi hasil dari waktu perjalananku. Faktor penting itu adalah angkutan umum setidaknya memerlukan beberapa kali waktu untuk berhenti mencari penumpang, mengisi tempat duduk yang kosong. Dan hal ini benar-benar membuatku jengkel. Kenapa gangguan seperti ini bisa terjadi? Aku telambat. Ya, pasti aku terlambat sampai di sana sebelum dia tiba. Dan benar saja, ponselku berbunyi, bergetar di dalam kantong celana jeansku. Aku membuka sms, merasa was-was kalau-kalau dia merasa tersinggung, mengira aku mengingkari janji bertemu. Kubalas smsnya dengan singkat dan jelas, menekankan bahwa aku sedang dalam perjalanan ke tempat bertemu kami.
Beberapa menit kemudian, angkutan umum itu berhenti. Aku membuka pintu mobil, mengeluarkan sejumlah uang dari saku jeansku, dan langsung membayar. Dan inilah tempatnya. Sebuah bangunan besar berdiri di depanku. Makassar Town Square tertulis besar dan rapih bak papan reklame di dindingnya. Kurasakan jantungku makin berpacu, adrenalin menyembur-nyembur memberikan keberanian untukku.
Untuk kesekian kalinya, kutetapkan dalam hati. Inilah waktunya. Inilah yang kutunggu-tunggu selama ini—enam bulan, tujuh hari, dan sembilan jam. Sekaranglah saatnya.
Sembari melangkah masuk ke dalam Mall, aku menghubunginya. Menanyakan di mana dia menungguku sekarang. Ah, aku gagal memberikan kesan pertama yang baik untuknya. Semua ini murni kesalahanku, tak bermaksud menyalahkan siapa pun atas bencana ini. Dari balik ponsel, suara lembutnya berkata, bahwa saat ini dia sedang menunggu di sebuah toko buku di dalam Mall. “Aku lagi liat-liat buku,” lanjut dia menjelaskan. Jujur kukatakan, aku semakin terbius oleh kelembutan suaranya. Dan yang tak terbayangkan, aku akan menemuinya. Hari ini juga, gadis idamanku akan menampakkan wujud cantiknya. Keluar dari kepompong jarak yang membentang di antara aku dan dirinya. Keanggunannya yang menggelora, akan terus kusimpan dalam bilik memori indah yang pernah terjadi dalam hidupku. Kunaiki eskalator, dan jantungku tak dapat menahan kuasa, makin mendetak cepat. Seluruh adrenalin kini berlabuh di otakku. Menggulung-gulung ombak memori dari tengah samudra cintaku menuju neuron kerinduan yang menggelegak dalam jiwaku. Kucari-cari toko buku yang dimaksud, mengarahkan sepasang mataku ini ke papan nama toko selayaknya orang yang tersesat akan cintanya.
Toko buku itu kini ada di hadapanku. Aku berhenti sebentar, mengatur napas yang makin berantakan, dan beberapa detik kemudian, perlahan-lahan kulanjutkan kembali langkahku. Jantungku tak lagi berdetak cepat, malahan organ pemompa darah itu mau segera melompat keluar dari tubuhku. Tidak sabaran ingin mencari sosok gadis yang membuatnya tak menentu selama enam bulan, tujuh hari, dan sembilan jam terhitung hingga saat ini. Kurasakan kengiluan dalam perutku. Gejala-gejala ini tentunya baru pertama kali menjangkitiku. Obat penyembuhnya tidak bisa kutemukan di apotek manapun. Bahkan dokter-dokter biasa tidak akan bisa mengobati penyakitku ini. Nah, di sanalah, tepat di depanku dia berdiri. Dia sedang berjalan membelakangiku, tampak mencari-cari satu judul buku yang dinamakan cinta. Aku kenal betul sosoknya, dari foto-foto yang terkadang dia kirimkan kepadaku via email.
Aku tersenyum sendiri. Tubuhku gemetar saking senangnya. Untuk pertama kalinya, kudekati sosok gadis impianku ini—seorang wanita sempurna di mataku. Wanita yang telah membersihkan kerak kesendirian yang berjejalan dalam hatiku. Aku mendekatinya, perlahan, perlahan, dan semakin perlahan, seumpama ingin membuat kejutan kedatangan yang tak terlupakan. Tanpa kusadari, dia menghentikan langkahnya, berbalik dan menatapku tepat ke dalam hatiku. Aku tak menyangka dia langsung mengenaliku. Seakan-akan aura kerinduan yang menguar dari diriku telah memberitahunya bahwa aku sedang berada di belakangnya, mengamati sosoknya. Gadisku tersenyum, matanya berkaca-kaca bahagia. Dia lalu merentangkan kedua tangannya, berniat memelukku. Sesaat kemudian, baru kurasakan tubuhnya mendekapku. Begitu erat. Bak kerinduan yang sekian lama dengan sabar menanti itu, meluapkan segala bentuk kebahagiaannya. Kali ini, aroma tubuhnya kuserap dalam-dalam. Memancarkan berbagai versi kehangatan, kebahagiaan, tawa, kerinduan, cinta, dan pengharapan. Aroma tubuhnya tak akan mungkin hilang dalam hidupku. Tanpa peduli apa kata orang, dia tetap memelukku hingga akhirnya aku bersuara.
“Sudah lama nunggunya?”
Dia hanya mengangguk perlahan. Bulu mata lentiknya seolah melengkapi kecantikannya yang tak mungkin terkalahkan. Parasnya tak terlukiskan. Seumpama keseluruhan fisiknya telah menjadi kriteria bagi setiap lelaki yang sedang mencari-cari cinta. Kuyakini satu hal, dewi-dewi Yunani akan sangat iri tatkala gadisku ini menampakkan wujudnya di istana mereka, bahkan para dewanya sanggup dibuat bertekuk lutut dengan paras dan keanggunan yang dia miliki. Zeus akan rela turun dari tahta dan memilih menjadi manusia untuk mendapatkan cintanya.
Kami keluar dari toko buku. Kugenggam tangannya agar tidak jauh dariku. Perasaan ini bagaikan mimpi yang sangat indah. Dan jika ini memang mimpi, tolong—aku mohon jangan bangunkan aku. Aku tak mau begitu saja menikmati mimpi ini setengah jalan. Aku ingin mengulanginya terus dan terus, walau nyatanya hidup ini tak memerlukan keberadaanku untuk bisa berjalan seperti biasanya.
“Kita pergi ke sana yuk?” dia menyarankan sembari tersenyum, menunjuk sebuah tempat permainan yang ada di Mall itu. Aku tak sanggup berkata-kata, hanya membalas senyumannya dengan senyumanku. Di tempat itu, aku menukar sejumlah uang untuk membeli koin, dan dia tetap berada di sampingku. Kami mengamati sekeliling dan memilih sebuah bangku panjang untuk kami duduk. Suasana canggung mulai terasa. Aku mengerti, ini memang yang pertama untuknya. Dan wajar jika kecanggungan di antara kami ini tercipta. Tapi sesaat kemudian, dia berbicara banyak denganku. Mengatakan apa pun tentangnya; bagaimana dia bisa sampai ke Mall? Kapan dia berangkat? Berapa menit dia menunggu? Dan yang paling tak terlupakan bagiku adalah, saat itu secara tegas dan nyata di depanku, dia menyisipkan panggilan ‘Sayang’ pada akhir kalimatnya. Membuat dentingan irama piano-piano asmara menghambur di tengah kebisingan lagu anak-anak yang mengalun tak tentu di tempat itu.
Beberapa kali kami memasukkan koin di dalam kotak elektronik permainan basket, dan bersamanya, aku beradu untuk memasukkan bola terbanyak ke dalam ring. Semua yang kami lakukan waktu itu penuh dengan tawa riang dan kegembiraan, bahwa kami yang selama ini hanya bisa berkomunikasi melalui handphone telah membuktikan kepada semua orang yang sebelumnya pesimis akan hubungan kami ini, bahwa kami mampu bertahan dan menjaga cinta yang semakin berkembang dalam hati kami. Kami menjunjung tinggi arti kepercayaan dan kesetiaan. Meletakkan keduanya bersanding di atas singgasana bangunan permanen cinta kami.
Dua jam lebih sampai-sampai tidak terasa terlewati bersama dirinya. Bagaimana kami melewati waktu monoton bagi semua orang dengan suka cita. Bagaimana sikapnya saat menatap ke dalam mataku. Bagaimana ekspresinya saat membalas senyumanku. Bagaimana anggapannya tentang cinta kami. Dan masih banyak kata ‘bagaimana’ lagi yang bisa kuutarakan dalam kebersamaan kami itu. Yang kutahu, hari ini adalah hadiah yang paling terindah dalam hidupku, dan tentu pula untuknya.
Sebelum kami berpisah (kami telah merencanakan untuk bertemu empat hari yang akan datang), aku memberikan sebuah boneka untuknya. Aku harap boneka itu walau tak senilai dengan harga cinta kami, bisa mengisi sedikit kerinduan hari-harinya akan keberadaanku di sisinya. Aku—seseorang yang bukan apa-apa di mata orang lain, menjadi sesuatu yang tinggi di matanya. Menjadi bagian dirinya. Menjadi sesuatu penopang hidupnya. Membuatnya bisa bertahan. Untuk itulah, mengapa cintaku kepadanya tak akan pernah berakhir. Dan kuyakin, hingga akhir masa dan akhir dunia, cinta kami akan menjadi sesuatu yang selalu abadi sampai kapan pun.
Dialah yang membuatku berharga. Dialah yang membuatku bermakna. Dia pulalah yang mengajarkanku akan cinta yang sesungguhnya. Dialah Wieldy, kekasih yang ada dalam tiap hembusan napasku. Nama yang tetap kusebut dalam tiap doaku. Gadis yang akan selalu ada dalam tiap mimpiku. Hanya engkaulah wanita yang ada dalam hatiku. Hanya engkaulah labuhan di mana benakku bertumpu.
Tak bisa. Dan untuk terakhir kalinya memang nyatanya aku tak bisa, tak sanggup bernapas tanpamu.
Selengkapnya...
Sabtu, 17 Oktober 2009
Hygia Sophia - (2) Pulau Misterius

SUDAH sekitar lima belas menit ia duduk di kursinya. Pesawat sudah meninggalkan landasan bandara sejak tadi. Pemandangan di luar sudah tidak lagi berlatar pohon, sawah, atau padang rumput kecil. Kini yang ada hanya hamparan awan yang menggantung di langit bak kapas-kapas yang bertebaran di angkasa. Matanya kembali mengembara. Dua orang pria duduk di deretan kursi lain. Salah satunya sedang membaca sebuah buku tebal mirip ensiklopedi. Lampu baca dengan sinar redup menyinari buku yang tengah dibacanya. Seorang pria lagi, yang duduk di sampingnya sedang tertidur pulas.
Sekali Adam mencuri pandang pada salah satu pria tersebut―pria yang sedang membaca. Laki-laki itu berpostur tinggi, lumayan gemuk serta kacamata yang bertengger di hidungnya yang mancung membenarkan anggapan bahwa ia mempunyai masalah dengan penglihatannya.
Beberapa pramugari hilir mudik di lorong pesawat yang sempit, melewati tiap bangku penumpang lain dengan gerakan senada. Baik secara postur dan kualifikasi menjadi seorang pramugari menurutnya sama saja. Tinggi, berpenampilan menarik, tubuh dan berat badan harus proporsional (ideal dan enak dipandang).
Mungkin karena pengaruh udara dingin atau keheningan yang merasuk, ia menguap. Rasa kantuknya tiba-tiba menerjang. Kedua kelopak matanya berat, seolah-olah berton-ton besi menggantung pada tiap helai bulu matanya―mencoba menutupnya. Ia pasrah karena tak ada gunanya melawan. Kalaupun sebaliknya, ia pasti kalah. Ia memperbaiki posisi duduknya dan bersiap tidur.
“Mau sekolah di Jakarta ya?” pertanyaan itu membuyarkan konsentrasinya yang akan tertidur. Ia menoleh ke arah datangnya suara tadi. Cepat-cepat ia tersenyum, menggeleng sekali, lalu berkata dengan suara tenang. “Saya mau melanjutkan pendidikan di Bandung,” kemudian melanjutkan, “Saya mendapatkan tawaran dari salah satu universitas di sana.”
“Oh! Ternyata kau mahasiswa. Maaf, saya kira kau masih SMU dan berniat pindah pada salah satu sekolah di Jakarta. Kau tahu kan, sekarang ini sudah menjadi hal biasa bagi mereka jika pindah sekolah. Bagi mereka itu semua adalah tren yang harus diikuti. Padahal banyak sekali yang harus mereka bangun dari semula, baik dari penyesuaian lingkungan sekolah, penyesuaian terhadap teman baru, peraturan atau hal lainnya.”
Berharap pembicaraan tak terpotong sampai di situ saja, pria itu melanjutkan,
“Kalau boleh tahu, kau mau ambil jurusan apa di Universitas itu?”
“Jurusan teknik informatika,” jawab Adam singkat.
“Jurusan yang bagus...” katanya lalu melanjutkan, “Saat ini, lulusannya banyak dibutuhkan oleh perusahan-perusahaan yang bergerak dalam bidang apa pun. Tapi sepertinya, persaingannya sangat ketat. Jurusan itu sekarang ini juga banyak digemari oleh anak-anak lulusan SMU, baik pria maupun wanita.”
“Tidak jadi masalah buat saya. Walaupun persaingannya ketat, tapi kemampuan seseorang itu berbeda-beda. Tidak ada yang sama. Tidak ada seorang pun yang bisa menguasai semuanya. Tak ada seorang pun yang memiliki satu bakat dapat menguasai semua bakat yang lain. Bahkan Albert Eistein pun tak bisa memaksakan dirinya menjadi seperti Sigmund Freud. Tak ada yang bisa,” ujar Adam tak mau kalah, “Namun yang lebih penting ada pada diri kita sendiri. Apakah kita ingin mencapai semua itu atau tidak? Apakah kita ingin berhasil atau tidak? Itu yang sekarang menjadi pertanyaannya.”
Pria itu nyegir, memamerkan deretan giginya yang putih.
“Kalau menurutku, kau anak yang pintar melihat situasi. Kata-katamu itu sungguh mengejutkan untuk seorang anak seusiamu, yang biasanya berfikir untuk kesenangan semata. Saya seolah-olah sudah bisa membanyangkan masa depanmu, jika memang kau masih tetap memegang prinsip seperti yang kau katakan tadi.”
“Kenalkan nama saya Indra Darmawan. Saya bekerja sebagai pengacara,” katanya memperkenalkan diri. Sebelah tangannya melewati sanggahan kursi, berniat memberi salam.
“Ini kartu namaku,” ia memberikan kartu nama yang baru diambilnya kepada Adam. Adam memandangi kartu nama itu sebentar. Indra Darmawan, SH―nama itu yang tertulis tebal pada kartu tersebut. Tampaknya laki-laki itu benar-benar profesional dalam bidang yang ditekuninya. Sangat terlihat jelas dari cara berpakaian maupun caranya berdandan. Dimasukkannya kartu nama itu ke dalam saku bajunya.
Jam tangannya sekarang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Tidak terasa sudah sekitar tiga puluh menit ia terbang di angkasa bersama burung besi raksasa yang menjadi tumpangannya. Dia berpikir dalam-dalam. “Nanti aku akan pulang ke kampung halamanku jika libur semester dua telah tiba. Itu waktu yang tepat untuk pulang menjenguk Ayah, Mama, dan kedua adikku,” ujarnya dalam hati.
Kini dua orang pramugari muncul dari ekor pesawat membawa sebuah troli aluminium. Dus-dus makanan memenuhi salah satu rongga pada troli tersebut. Dengan cekatan, kedua pramugari itu membagikan dus itu kepada para penumpang.
Lama berselang setelah kedua pramugari itu pergi, pesawat seperti menabrak sesuatu―bergetar pelan, membuat beberapa penumpang bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tapi itu tak membuat semua penumpang panik. Ekspresi mereka biasa saja. Itu seakan-akan sudah menjadi hal yang lumrah jika pesawat memasuki kumpulan awan―jika terjadi gerak turbulensi. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi seluruh badan pesawat. Tetes-tetes hujan terdengar menakutkan apalagi disertai dengan sambaran petir yang menyambar tanpa tujuan.
Adam menatap keluar dari jendela pesawat. Awan yang tadinya putih bersih dan tak bernoda kini menjadi gelap gulita, seolah-olah kegelapan telah tersedot ke dalamnya.
Padahal baru jam dua belas siang, kata Adam dalam hati.
Ia setengah berdiri dari kursinya, memandang ke depan dan belakang. Hampir semua penumpang tertidur, selebihnya ada yang asyik membaca atau mengobrol dengan teman sebangkunya tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi.
Rasa kantuk kini mulai datang menghampirinya. Sebelah tangan menutup mulutnya saat menguap. Sekali lagi matanya terasa berat.
Sebelum menutup matanya, ia menoleh ke samping―tempat Indra Darmawan duduk. Pria itu juga tertidur, begitu pula orang yang duduk di sebelahnya. Akhirnya Adam menutup matanya rapat- rapat. Sambil membetulkan posisi duduknya, ia tertidur.
Entah sejak kapan semua penumpang berteriak. Menjerit-jerit ketakutan tanpa henti. Menangis dan berdoa sebisanya. Pesawat lanjut bergetar hebat, memuntahkan barang-barang yang berada di bagasi di atas kursi. Tak ayal beberapa orang tertimpa bawaannya sendiri. Suara sirine pemberitahuan tak henti-hentinya berbunyi, melolong bagai srigala yang menyambut datangnya bulan purnama, seperti suara anjing yang menyalak jika melihat pencuri mengendap di rumah tuannya. Benar-benar menakutkan.
Di luar, api melahap sepertiga ujung sayap. Menghentikan kerja mesin-mesin yang mengontrolnya. Lambaian api menari-nari terkena hembusan angin. Petir menyambar lagi, membuat kobaran api semakin bertambah besar, siap melahap yang tersisa.
Semua pramugari sibuk menenangkan para penumpang (jauh di dalam hatinya mereka juga ketakutan), terlebih lagi seorang Ibu yang duduk di bangku paling depan. Bayinya yang berumur sekitar tiga bulanan dipeluknya erat. Benturan yang melanda tangannya tidak ia pedulikan betapa pun sakitnya. Suara tangisan bayinya tak kalah nyaring dengan suara sirine yang sebelumnya telah berbunyi. Adam tersentak hebat hingga membuat kepalanya terbentur ke kursi depannya. Anehnya terasa sakit. Adam lalu memijati area kepalanya. Ternyata kejadian itu bukan mimpi. Itu yang memang sebenarnya terjadi.
“Tenang saja... kita percayakan semuanya pada pilot,” ujar Indra Darmawan yang duduk di sebelahnya tersenyum memandanginya. Adam masih kebingungan dengan semuanya. Setelah mengencangkan sabuk pengaman, seorang pramugari bertubuh jangkung menghampirinya.
“Tolong kenakan pelampung yang ada di bawah kursi Anda,” serunya.
“Memangnya kenapa?” tanya Adam panik. Kesadarannya masih belum sepenuhnya pulih. “Apa yang terjadi dengan pesawat ini?” tanyanya lagi.
“Sepertinya ada kerusakan pada bagian sayap. Tadi ada kilat yang menyambar baling-baling pesawat bagian kiri. Sekarang kami mohon Anda untuk tenang. Pilot kami sudah terlatih dalam menyelesaikan masalah seperti ini,” kata pramugari itu menjelaskan.
“Sebaiknya Anda bersiap-siap, karena sebentar lagi mungkin kita akan mendarat darurat,” lanjutnya. Air mukanya berbeda. Wajahnya juga menunjukkan ketakutan yang amat sangat.
Pesawat kembali mengalami hentakan hebat sehingga beberapa pramugari ada yang terjatuh. Kejadian itu membuatnya mual, serasa ingin muntah. Suara tangisan dan teriakan makin gencar terdengar, bahkan sekarang suara itu malah makin banyak dan makin histeris. Beberapa orang yang tadinya terlihat tenang, sekarang ekspresinya berubah drastis. Setiap pandangan mata mereka menunjukkan rasa cemas, ketakutan, dan terguncang akan peristiwa yang sedang mereka alami saat ini.
Beberapa turis asing yang berjarak beberapa bangku dari Adam sedang duduk terpaku. Badan mereka gemetaran. Setelah mengencangkan seat belt, mereka berpegangan kuat pada kursi di depan, berharap tidak terpelanting saat pesawat bergetar lagi.
Sudah hampir empat kali pesawat bergetar hebat. Dan lampu-lampu yang sebelumnya menyala kini mati. Semua penumpang semakin panik. Teriakan-teriakan tak hentinya menghiasi ketegangan. Adam kembali menengok ke bangku di sebelahnya. Indra Darmawan yang tadi kelihatan tenang kini ketakutan. Matanya dipejamkan, mulutnya komat-kamit seperti orang membaca doa.
“Tolong...” hanya teriakan itu yang terdengar secara bergantian. Adam melepaskan sabuk pengamannya. Kini dia mencoba berdiri walaupun kakinya masih gemetaran, tetap dipaksanaya untuk berjalan. Dipaksanya melewati barisan kursinya. Kaki-kaki yang menghalangi langkahnya ditendang. Seorang pramugari berniat menghentikannya tapi tidak diacuhkannya. Ia mencari letak pintu darurat. Saat mulai berjalan semua mata menoleh kepadanya. Seseorang dengan napas yang memburu dan memegang dadanya sedang ditenangkan oleh seorang pramugari.
Kini pintu darurat sudah di depan matanya. Tak ada yang menempati dua buah kursi di situ.
“Aneh mengapa tidak ada seorang pun yang berpikiran untuk membuka pintu ini, bahkan para pramugari sekalipun mengacuhkannya,” pikirnya.
Ditariknya tuas pintu itu, namun tetap tidak mau terbuka. Didorongnya lagi dengan sekuat tenaganya, tapi masih belum terbuka. Ia berteriak, sambil mengumpulkan semua kekuatan pada kedua tangannya. Tonjolan urat-uratnya menghiasi lengan dan lehernya.
“Aku tidak mau mati di sini...” teriaknya.
Akhirnya pintu darurat terbuka juga. Saat akan melompat, bajunya terkait oleh sesuatu. Setelah ditengoknya ke belakang, ternyata Indra Darmawan yang menarik bajunya. Tatapannya sungguh menakutkan. Matanya melotot, butir-butir keringat telah membasahi seluruh wajahnya. Air mukanya yang ketakutan menjelaskan maksudnya.
“Tolong aku...” katanya, “Aku juga tidak mau mati di sini.”
Di ruang cockpit, pilot masih berusaha mengendalikan pesawat. Asistennya yang duduk di samping memencet tombol-tombol yang ada di depannya. Kemudian berbicara dengan suara ketakutan.
“Kita kehilangan kendali, Pak. Komunikasi kita juga terputus dengan kantor pusat. Kita akan menabrak jika keadaannya tetap seperti ini,” katanya gelisah.
“Jangan berbicara seperti itu, cepat kerjakan saja tugasmu,” bentak sang pilot. Kedua tangannya yang kekar sekuat tenaga membelokkan kemudi pesawat. Namun lautan sudah di depan mata. Riak gelombang makin jelas terdengar, seperti memanggil-manggil untuk bermain bersamanya. Pesawat itu menabrak.
Hantaman keras terjadi disertai suara nyaring dari ledakan mesin pesawat. Api dengan cepat melahap bagian ekor hingga badan pesawat. Pesawat itu meluncur menabrak air. Bagian depannya terlihat berantakan. Bagian sayap dan ekornya berhamburan kemana-mana. Sulit dipastikan bahwa semua penumpang dan awak pesawat itu dapat selamat. Kecelakaan seperti itu sudah tentu memakan semua nyawa orang yang mengalaminya. Takkan ada yang selamat.
Sempat ada yang mencoba melompat saat pesawat belum menghantam laut, tapi sayang baling-baling pesawat yang terlepas tepat mengenai tubuhnya. Membelah tubuhnya menjadi dua dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Benar-benar menjijikan.
Ganasnya ombak kemudian menghilang dari permukaan laut. Hanya serpihan-serpihan pesawat yang banyak bertebaran di permukaan air
Suara gesekan daun kelapa menandakan betapa angin saat itu berhembus dengan lembut. Kicauan burung berwarna kecoklatan turut memeriahkan suasana saat itu. Ombak-ombak kecil yang menggulung dari tengah lautan membawa banyak serpihan kayu dan benda lain ke bibir pantai. Beberapa ekor kepiting sedang bermain kejar-kejaran dengan sesamanya. Kedua capitnya menganga seperti mulut singa. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ada burung pemangsa yang memperhatikan mereka sejak tadi. Mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Burung lalu bertengger sebentar di pucuk pohon kemudian melebarkan sayap dan terjun bebas dari pos penjagaannya. Menukik cepat dan tanpa suara. Sayapnya yang lebar ditumbuhi bulu-bulu halus bergoyang membelah angin.
Tampaknya salah satu kepiting laut menyadari kedatangannya. Ia berlari lalu masuk ke liang perlindungannya. Namun teman bermainnya bernasib lain. Cengkraman burung elang tepat mengenai sasaran. Kuku-kukunya yang tajam merobek cangkang si kepiting dengan sekali sergapan. Paruhnya yang bengkok mengoyak-ngoyak capitnya. Sial nasibnya. Kepiting itu mati tanpa sempat melakukan perlawanan. Itulah hukum rimba, di mana yang kuat yang akan menjadi pemenang, sedangkan yang lemah akan dijadikan mangsa oleh yang kuat.
Sesosok tubuh tampaknya terbaring di bibir pantai. Ombak yang membawa pasir membasahi kakinya yang tak bersepatu. Bajunya yang tadi basah oleh air laut kini sudah kering terkena sinar matahari. Suara buah kelapa yang jatuh serta deburan ombak sedikit demi sedikit mulai meyadarkannya.
Matanya yang tadi tertutup rapat, kini mulai terbuka. Dengan sisa kekuatan, tangannya lalu menopang tubuhnya dan duduk di atas pasir pantai tempatnya tadi tertidur. Kepalanya masih pusing. Jaket pelampungnya dibuka dan dilempar. Dengan heran ia memandangi sekeliling tempat itu.
“A... aku hidup... Aku masih hidup. Terima kasih Tuhan,” ujarnya sambil menengadah ke langit mengucapkan ribuan rasa syukur.
Bersambung
Selengkapnya...
Hygia Sophia - (1) Perpisahan

UDARA sangat panas walaupun di ruangan besar dan dipenuhi orang itu sudah dipasangi beberapa air conditioner di setiap sudut-sudutnya. Suara bising mesin pesawat dan celotehan dari tiap orang turut memenuhi ruangan besar yang dipisah-pisah menjadi beberapa bagian ruang tunggu itu. Kursi-kursi di tempat menunggu keberangkatan terisi penuh.
Beberapa orang terlihat sibuk menghisap rokoknya dengan penuh kenikmatan di sebuah ruangan yang dibatasi oleh sekat-sekat kaca yang mencolok. Dari luar bisa terlihat, asap-asap rokok mereka beterbangan menyerupai kabut di pagi hari yang menyelimuti sebagian badan jalan. Di tengah-tengah ruangan tersebut sebelumnya telah dipasangi alat untuk menghisap asap dari setiap rokok yang dibakar, agar asap tidak mengepul keluar dari ruangan tersebut.
Seorang pemuda berwajah lugu dengan topi coklat yang melingkar erat di kepalanya sedang duduk sendirian sambil membaca sebuah novel roman kesukaannya. Perhatiannya sekali-kali teralihkan oleh seseorang yang duduk di depannya. Orang itu berpenampilan necis bak seorang bos yang memegang kendali utama pada sebuah perusahaan besar. Kepalanya bulat seperti buah melon dengan kacamata yang menggantung di hidungnya yang mancung, menimbulkan kesan bahwa ia adalah orang yang berwawasan luas. Kulit hitamnya yang terlihat agak kusam, mungkin menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya.
Pria itu mengenakan stelan jas lengkap serta dasi yang terggantung di sela-sela kerah kemejanya yang berwarna putih bersih. Perutnya buncit seperti beruang yang telah makan berton-ton ikan salmon untuk berhibernasi.
Pemuda tadi kemudian mengambil pembatas buku dari salah satu halaman pada novelnya tersebut, kemudian menandai halaman terakhir yang baru selesai dibacanya. Novel itu kemudian dimasukkan lagi ke dalam tas, lalu tangannya mengambil sebuah MP3 player dari dalam kantong tas yang ada di pangkuannya. Headset diletakkan di kedua lubang telinganya. Dipencetnya tombol-tombol di dekat layar MP3 yang kecil satu-persatu, sehingga terlihat beberapa pilihan lagu yang telah tersimpan di dalam memori benda elektronik itu.
Dipilihnya lagu musik jazz, yang sekarang ini tengah dinikmati alunan musiknya. Kakinya kadang di ketuk-ketukkan ke lantai seiring dengan alunan musik jazz itu melantunkan iramanya. Tatkala ada seseorang yang menyentuh pundaknya sehingga membuyarkan semua kesenangan itu.
“Kenapa Mama datang ke sini?” kata pemuda itu. Walaupun kelihatan sudah agak berumur tapi wajahnya terlihat cerah, hanya memakai bedak dan polesan lipstik pada bibirnya. Selain itu, dia mengenakan kemeja coklat polos
Wanita yang dipanggil Mama itu kemudian menjawab dengan suara yang lembut, khas seorang ibu. “Memangnya kenapa? Tidak boleh... Mama ingin mengantarmu sampai kamu naik pesawat.”
“Bukankah orang yang tidak punya tiket tidak boleh masuk ke dalam ruangan ini?” tanya pemuda itu lagi. Wanita yang dipanggil Mama tersebut tersenyum, sambil memegang pundak putranya, “Mama punya kenalan di bandara ini, jadi Mama diizinkan masuk olehnya. Tapi tentu saja dengan memberinya sedikit uang sebagai imbalan atas tindakannya itu.”
“Apa kamu sudah membawa semua keperluanmu selama tinggal di sana?” lanjut wanita itu saat kalimatnya tadi sudah selesai.
“Sudah, semuanya sudah saya bawa, Ma. Di tas ini hanya barang-barang kecil saja (sambil menunjukkan tasnya) yang lainnya ada di dalam koper satunya lagi. Mungkin sekarang sudah ada di bagasi pesawat,” katanya.
Ibunya menghembuskan nafas singkat, kemudian mengelus-elus kepala anak kesayangannya itu. “Dam, kalau kamu sudah sampai di sana jaga kesehatan kamu baik-baik. Makan yang banyak supaya tidak sakit. Dan jangan lupan pesan Mama yang paling utama, jangan lupa sholat, agar dapat lebih mempertebal imanmu saat tinggal di sana. Kamu juga harus pintar membawa diri agar nantinya tidak akan terjerumus. Itu saja pesan Mama untukmu.”
Adam menatap wajah ibunya. Diambilnya tangan kanan ibunya, kemudian menciumnya dengan lembut. “Saya akan terus ingat semua pesan Mama,” ujarnya masih mencium tangan ibunya.
Dia tidak akan pernah membayangkan bahwa ciuman tangannya itu merupakan ciuman tangannya yang terakhir kepada ibunya. Dia tidak pernah menyangka bahwa nantinya dia akan mengalami hal-hal yang sangat luar biasa, yang benar-benar tidak dapat dipercaya oleh dirinya sendiri. Kisahnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Tidak mungkin bocor sehingga dia dapat mengetahui masa depannya sendiri. Kisah yang sudah ditetapkan kepadanya akan sangat unik dan mungkin hanya dia seorang yang pernah mengalami peristiwa seperti itu.
Matanya kini sedikit terkatup. Rasa kantuknya datang dengan tiba-tiba, disaat yang tak terduga. Sang peri tidur sepertinya meniupkan serbuk-serbuk ajaib ke mukanya dan tanpa sadar dia lalu tertidur dengan tangan masih terlipat di dadanya.
Terdengar suara mesin pesawat yang membahana di luar. Suaranya keras, bising, seakan-akan dapat memecahkan gendang telinga setiap orang yang coba-coba mendekatinya. Pesawat itu terus melaju di sepanjang lintasan lurus yang telah diaspal dan pada saat mendekati lintasan terakhir, pesawat itu menukik ke atas. Roda depannya kemudian masuk ke dalam badan pesawat lalu terbang tinggi hingga menghilang di balik awan.
Di tempat itu, rupanya kini telah banyak orang yang menunggu. Ada beberapa keluarga, juga beberapa orang yang kelihatannya akan pergi untuk berlibur. Ada juga turis asing dengan rambut ikal pirang sedang memainkan ponselnya. Seorang anak laki-laki kecil berumur sekitar 6 tahun sedang bermain kejar-kejaran bersama seorang anak lagi yang umurnya terlihat lebih muda darinya. Anak itu mungkin merupakan adik kandungnya. Mereka kelihatan mirip satu sama lain jika dilihat berdasarkan raut wajah walaupun postur tubuh mereka jelas-jelas berbeda.
Matanya kini beralih ke sebuah pasangan mesra yang sedang berpelukan di sebuah kursi panjang, yang duduk tidak jauh darinya. Cincin emas melingkar di jari manis pasangan mesra tersebut. Dari ekspresi mereka yang terlihat sangat bahagia, Adam menyimpulkan. Mereka adalah pasangan yang baru-baru ini menikah dan saat ini, akan pergi untuk menikmati kebersamaan mereka atau sering disebut-sebut orang sebagai honeymoon, yang wajib dilakukan oleh setiap pasangan baru. Adam hanya tersenyum memandangi mereka. Kini dia mengalihkan pandangan pada jam tangannya. Jam tangan silver-nya itu buatan produk luar negeri. Hadiah dari kedua orang tuanya pada saat ulang tahunnya yang ke-17. Dan kini dia sudah genap berumur 18 tahun, dua bulan yang lalu.
Dia sedikit mengeluh saat melihat waktu pada jam tangannya.
“Pesawatnya terlambat berangkat mungkin,” ujar ibunya saat melihat ekspresi anak semata wayangnya itu. “Mungkin mereka masih mengisi bahan bakar atau mungkin juga ada perbaikan pada mesinnya yang membutuhkan ketelitian dan waktu yang lama. Kamu tahu kan akhir-akhir ini banyak terjadi kecelakaan pesawat akibat kerusakan mesin.”
Adam mengangguk tanda setuju. Ingatannya yang logis, seketika itu juga mengalami flashback mengenai berbagai peristiwa kecelakaan pesawat yang selama ini terjadi. Terlebih lagi kecelakaan pesawat yang sangat mengenaskan, yang menimpa salah satu perusahaan penerbangan beberapa waktu yang lalu. Pesawat itu tiba-tiba hilang seperti ditelan bumi. Hanya serpihan-serpihan pesawat yang banyak ditemukan oleh penduduk setelah sekitar dua hari peristiwa itu terjadi. Banyak orang yang terlibat untuk mencari bangkai pesawat itu. Dari masyarakat awam, hingga bantuan dari negara lain juga turut berdatangan. Kejadian ini seketika juga membongkar kualitas jasa transportasi di Indonesia dan sebagai imbasnya, badan penyelidikan kecelakaan Indonesia juga ikut terseret ke dalam masalah tersebut. Mereka dituding tidak sigap dan bekerja kurang serius dalam menanggapi masalah tersebut.
“Kenapa kamu tidak beli tiket kapal laut saja? Mama takut peristiwa yang sering di bicarakan di televisi terjadi juga padamu? Mama tidak mau kehilangan kamu, seperti Mama kehilangan Ayahmu saat terjadi kecelakaan pesawat itu. Hingga kini pesawatnya belum juga ditemukan, padahal sudah 12 tahun berlalu,” kata ibunya kuatir. Seraya menahan air matanya yang mau keluar.
“Tenang saja, Ma! Jangan berfikiran buruk dulu. Kehidupan seseorang itu kan sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Walaupun kita sudah menghindarinya dengan cara apa pun, namun jika Dia menginginkan hal yang berbeda maka terjadilah hal itu,” jelas Adam memberikan pengertian. “Yang jelas sekarang, doakan saya agar sampai di tempat tujuan dengan selamat.”
“Mama selalu mendoakanmu setiap waktu. Kamu anak Mama satu-satunya.”
Bel pemberitahuan berbunyi sekali kemudian diikuti dengan suara dari seorang wanita. Pemberitahuan itu menyatakan bahwa semua penumpang pesawat menuju Jakarta dipersilahkan menuju ke tempat yang sudah di tetapkan pada tiket yang mereka pegang. Adam merangkul ibunya dengan erat. Tak rela dia meninggalkan wanita yang paling disayanginya itu sendiri, terlebih lagi saat Ayahnya meninggal dunia. Hanya Adam yang menemaninya, tapi kini anaknya pergi. Tidak ada lagi yang menemaninya, menghiburnya saat dia sedih. Tidak lupa dia mencium tangan ibunya untuk terakhir kali sebelum dia pergi, agar mendapatkan restu serta doanya.
Dengan langkah berat, Adam berjalan meninggalkan ibunya yang sedang berdiri terpaku melihat kepergian anaknya. Walaupun rasanya sangat berat meninggalkan orang tuanya yang sudah membesarkan dan mendidiknya hingga seperti sekarang.
Semua penumpang berbaris rapih, membentuk dua barisan panjang seperti ular. Dekat pintu keluar sudah menjaga dua pria berseragam serta seorang wanita yang bertugas memeriksa tiket. Dengan sigap disobeknya tiket-tiket tersebut menjadi dua bagian dan sisa sobekan satunya diserahkan kembali kepada tiap penumpang.
Walaupun sudah mengantri dengan tertib, ada saja penumpang yang mencoba mendahului antrian, seakan-akan tata tertib dan norma kesopanan sudah tidak berharga dan berlaku lagi baginya. Tubuh Adam kadang tersorong ke depan, bergoyang ke kiri dan ke kanan sambil menahan berat tas punggung yang sedang dipikulnya. Akhirnya sampai juga dia pada barisan terdepan setelah lama mengantri. Tiketnya disobek, sama halnya dengan penumpang yang lain.
Dia lalu melangkah melewati pintu itu. Kedua pria yang menjaga pintu itu tersenyum kepadanya. Udara sangat berbeda jauh dengan di dalam tadi. Kali ini cuaca sangat panas, sinar matahari semakin menyengat kulit. Jauh di hadapannya telah menunggu sebuah burung baja raksasa yang bertengger dengan gagah. Sambil berjalan, dia sekali-kali menengok ke belakang. Rupanya ibunya masih berada di sana, sambil melambai-lambaikan tangannya saat pandangan Adam tepat tertuju padanya.
Langkahnya dipercepat, agar saat dia mencari tempat duduk tidak berdesakan dengan penumpang yang juga mencari tempat duduk mereka. Suara mesin pesawat yang sedang dipanaskan terus berbunyi. Semakin lama, semakin terdengar kencang―kadang-kadang berdengung di telinganya. Dinaikinya tangga besi yang sudah disiapkan dengan hati-hati. Di pintu pesawat bagian dalam, beberapa pramugari menyambut kedatangan para penumpang. Pramugari-pramugari itu memasang wajah dengan penuh senyuman dan sikap ramah seperti yang telah diajarkan kepada mereka saat bersekolah dulu.
Adam melihat kembali tiketnya sambil mencari-cari nomor kusi yang telah tertera pada tiket yang dibawanya. Diperhatikannya dengan teliti nomor yang tertera di dekat tempat penyimpanan barang yang berada tepat di atas kursi. Langkahnya kemudian berhenti saat menemukan kursi bernomor 7A.
“7A,” dia bergumam pelan. “Di sini kursiku.”
Tasnya ditaruh di bagasi yang telah disiapkan di atas masing-masing kursi penumpang. Didorong-dorongnya sampai tasnya muat pada bagasi yang besarnya memang tidak seberapa itu. Terdengar bunyi ‘klek’ saat bagasi itu ditutup kembali dengan tekanan.
Bersambung
Selengkapnya...
Sabtu, 22 Agustus 2009
Aku Jadi Ingat Ibu
Diambil dari
Buku : Berhenti Sejenak, Melihat Lebih Dalam Untuk Memperbaiki Diri
Penulis : Bayu Gawtama
Penerbit : Hikmah (Kelompok Mizan)
Tahun Terbit : 2005
ISBN : 979-3674-73-3
Perawakannya kurus, meski ia mengakalinya dengan menggunakan blazer layaknya pegawai kantoran tetap saja terlihat bentuk tubuhnya yang ramping. Rambutnya lurus sebahu nampak kumal, sorot matanya sayu dan tak pernah berani mendekati orang ada kemauan yang teramat untuk mendekat.
Aromanya tak sesedap kebanyakan karyawati yang pernah saya temui. Blazer-nya pun lusuh, saya pun sempat menduga itu pemberian orang lain. Kulitnya hitam, tak manis, tak cantik, tapi wanita tiga puluh tahunan itu tetap berusaha memberikan senyuman yang bersebelahan dengannya.
Pertama kali bertemu dengannya, saya sudah menduga ada yang ganjil dengannya. Benar saja, ia yang duduk di sebelah saya di angkutan menuju Blok M langsung berbisik perlahan, sebisa mungkin ia berusaha tidak terdengar oleh orang lain kecuali saya.
“Bapak, maaf ongkos bis ini berapa ya?” tanyanya lembut.
“Seribu dua ratus bu, ibu mau ke mana?”
“Ke Blok M. Tapi saya nggak punya uang...” senyumnya tertahan. Getir.
Saya tak banyak bicara ketika kondektur tiba di sisi saya, selain mengeluarkan uang untuk ongkos dua orang. Tapi...
“Bapak punya uang lebih? Dua ribu saja. Agar saya bisa sampai ke Ciledug...”
Tak pikir panjang, saya keluarkan uang lebih dari yang diminta. Dan itu membuat senyunya tak lagi tertahan.
***
Untuk kedua kalinya, saya bertemu dengannya di Stasiun Kalibata. Masih dengan blazer merah marunnya yang lusuh, rambut sebahu yang agak kemerah-merahan, mata yang sayu dan senyumnya yang tetap tertahan.
Saya lemparkan senyum terlebih dulu ketika ia menatap saya. Mungkin ia masih mengingat saya. Ia duduk persis di sebelahnya saya, berbaris sejajar dengan calon penumpang kereta lainnya.
Saya bisa merasakan geraknya yang mendekat dan mencoba merapat, “Pak, punya uang nggak, dua ribu saja untuk ongkos pulang...” pintanya.
Lagi-lagi saya tak banyak tanya, tiga lembar ribuan saya berikan kepadanya. Dan lagi-lagi senyumnya tak tertahankan.
***
Entah apa yang ada di pikirannya, sore itu menjelang maghrib ia kembali menghampiri saya. Dan Anda pasti sudah tahu apa yang ia minta dari saya. Hanya dua ribu rupiah.
Saya sempat ragu untuk mengeluarkan uang, saya perhatikan wanita itu sejenak dan menduga ia hanyalah seorang penipu yang berpura-pura tak punya uang dan memanfaatkan kebaikan orang lain. Entah berapa banyak orang seperti saya yang berhasil ia tipu dan berapa banyak pula ‘dua ribu’ yang ia raup hari ini, kemarin, atau hari-hari sebelumnya.
Tapi, wajah itu, tangan lemah itu, mata sayu itu nampaknya telah berkata yang sebenarnya.
Satu lembar lima ribuan mampir ke tangannya. Serta merta ia menarik tangan saya hendak mencium tangan saya... segera saya tarik karena saya tak menghendaki ia berlaku demikian hanya karena lima ribu rupiah.
Saya tak mengenalnya dengan baik, di mana ia tinggal, apa pekerjaannya, dan ke mana setiap hari ia berjalan. Tapi saya bisa merasa ada beberapa mulut kacil di rumahnya yang menunggu setia kepulangannya.
Sungguh saya menangis, saat menatap wajahnya saya jadi ingat ibu sewaktu saya kecil. Ibu sering pergi jauh menawarkan jasanya mengajarkan Al Qur’an dengan ongkos seadanya, “Nanti juga dikasih ongkos dari sana,” yang dimaksud ibu adalah orang yang diajarkan mengaji.
Bagaimana jika saat ibu datang mereka tak di rumah? Bagaimana ibu pulang? Siapa yang memberinya ongkos pulang? Seperti yang sering saya temukan tentang cara ibu bisa pulang ke rumah setiap malam?
Kepada siapa pun yangpernah memberi ibu bantuan, terima kasih tulus dari.
Selengkapnya...
